Adi Sarana Armada Kantongi Pendapatan Rp 3,03 Triliun pada 2020

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), perusahaan bergerak di bisnis mobilitas transportasi logistik dan penunjangnya mencatat pertumbuhan pendapatan pada 2020. Akan tetapi, laba perseroan turun sepanjang 2020.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Senin (19/4/2021), PT Adi Sarana Armada Tbk mencatat pendapatan Rp 3,03 triliun pada 2020. Realisasi pendapatan itu tumbuh 30,12 persen dari periode 2019 sebesar Rp 2,33 triliun.

Kinerja perseroan tersebut didukung dari stabilnya kinerja masing-masing lini bisnis. Pada lini bisnis lelang tumbuh 21,75 persen, bisnis logistik tumbuh 22,81 persen, dan bisnis rental naik 1,17 persen sepanjang 2020.

Perseroan mencatat beban pokok pendapatan naik 41,35 persen dari Rp 1,58 triliun pada 2019 menjadi Rp 2,24 triliun pada 2020. Hal itu mendorong laba kotor perseroan naik 6,12 persen pada 2020 menjadi Rp 790,11 miliar. Pada 2019, laba kotor tercatat Rp 744,48 miliar.

Perseroan mencatat kenaikan sejumlah beban sepanjang 2020. Beban penjualan naik 37,27 persen menjadi Rp 16,95 miliar pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 12,34 miliar. Beban umum dan administrasi naik 18,20 persen dari Rp 401,98 miliar pada 2019 menjadi Rp 475,15 miliar pada 2020.

PT Adi Sarana Armada Tbk mencatat laba pelepasan aset tetap sebesar Rp 2,16 miliar pada 2020. Angka itu naik dari periode 2019 sebesar Rp 1,70 miliar. Perseroan mencatat laba kurs Rp 716,85 juta pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 1,04 miliar.

Perseroan mencatat laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk turun 21,06 persen menjadi Rp 87,14 miliar pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 110,40 miliar.

Dengan demikian laba per saham dasar dari laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp 25,65 pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 32,50.

Total Liabilitas

Ilustrasi laporan keuangan. (Photo by Serpstat from Pexels)
Ilustrasi laporan keuangan. (Photo by Serpstat from Pexels)

Total liabilitas tercatat Rp 3,73 triliun pada 2020. Angka liabilitas tersebut naik dari periode 2019 sebesar Rp 3,51 triliun. Tot ekuitas perseroan tercatat naik dari Rp 1,33 triliun pada 2019 menjadi Rp 1,43 triliun pada 2020.

Total aset perseroan tumbuh 6,63 persen menjadi Rp 5,17 triliun pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 4,84 triliun.

Perseroan kantongi kas dan setara sebesar Rp 191,81 miliar pada 2020. Angka ini turun dibandingkan 2019 sebesar Rp 254,55 miliar pada 2019.

Ditopang Anteraja

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)

Sementara itu, perseroan mencatat pertumbuhan pendapatan bisnis logistik end-to-end Anteraja sebesar 841,99 persen. Pertumbuhan pendapatan bisnis Anteaja dari Rp 84,37 miliar pada 2019 menjadi Rp 794,72 miliar pada 2020.

"Kami senang dengan pencapaian ini, mengingat Anteraja baru beroperasi kurang dari dua tahun. Pada akhir tahun 2020, Anteraja berkontribusi sebesar 24,71 persen terhadap total pendapatan ASSA, yang merupakan kontribusi terbesar kedua setelah bisnis rental,” ujar Presiden Direktur ASSA Prodjo Sunarjanto, dalam keterangan tertulis.

Ia menambahkan, perolehan angka tersebut ini meningkat sangat signifikan dibanding 2019. Kontribusi Anteraja hanya sebesar 3,45 persen terhadap total pendapatan ASSA.

"Tentunya seluruh pencapaian ASSA selama tahun 2020 juga didukung oleh kinerja yang solid dari lini bisnis lainnya seperti seperti rental dan lelang,” ujar dia.

Menghadapi pergeseran budaya yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, bisnis Perseroan telah bertransformasi ke arah digital sebelum masa pandemi.

Ada kebijakan pembatasan sosial oleh Pemerintah, telah mendukung proses digitalisasi dalam segala aspek kehidupan termasuk kebutuhan untuk transportasi dan logistik. Menjawab tantangan tersebut, Perseroan telah mengembangkan berbagai inisiatif baru yang mengarah ke sharing economy dan tech-based business.

Mulai dari aplikasi ShareCar yang merupakan platform sewa mobil mandiri, lelang secara online di JBA, pengembangan Caroline yang merupakan marketplace tempat jual beli mobil, hingga pengembangan inisiatif efullfilment atau sharing warehouse melalui Titipaja serta aplikasi Bisnisaja untuk melayani korporasi.

"Kami akan terus berupaya untuk memberikan solusi kemudahan dalam segala aspek kebutuhan masyarakat baik dari transportasi, layanan pengiriman barang, hingga kegiatan lelang kendaraan semuanya bisa dilakukan secara online, dengan memanfaatkan teknologi digital," ujar dia.

Ia mengharapkan, dengan inovasi tersebut, perseroan dapat mempertahankan kinerja positif dan terus semakin berkembang ke depan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini