Adian Napitupulu Tak Setuju Penggunaan GeNose Dihentikan

·Bacaan 2 menit

VIVA - Anggota Komisi VII DPR, Adian Napitupulu, tidak setuju penggunaan alat deteksi COVID-19 menggunakan nafas buatan dalam negeri, GeNose C19, atau Gadjah Mada Electric Nose, dihentikan. Alasannya, GeNose digemari masyarakat karena tidak harus dicolok hidungnya seperti tes PCR atau antigen, harga tesnya pun terjangkau yakni berkisar Rp30 ribu.

Oleh karena itu, pria 50 tahun tersebut menilai menghentikan penggunaan GeNose akan melukai rakyat kecil yang harus tetap beraktivitas untuk mencari nafkah meskipun di masa pandemi.

"GeNose dengan harga yang terjangkau dibandingkan antigen menjadi bukti bahwa negara hadir untuk semua rakyat tidak hanya untuk si kaya saja. GeNose diizinkan digunakan kan pasti ada prosesnya, apalagi dari Kemenkes juga sudah kasih izin," kata kata Adian, melalui keterangan persnya, Sabtu, 26 Juni 2021.

Ketika GeNose ditiadakan, tegas dia, yang paling terpukul sebenarnya rakyat kecil yang tetap harus beraktivitas untuk mencari nafkah. Berikutnya, perjalanan akan berbiaya tinggi dan mempengaruhi mobilitas manusia yang berikutnya bisa memukul perekonomian.

Baca juga: GeNose C19, Bukti Indonesia Bisa Maju Meski Dilanda Pandemi

Adian juga menyebut GeNose merupakan alat uji yang paling murah dan bukan murahan, apalagi asal-asalan. Buktinya, GeNose teruji dan izin edarnya dikeluarkan Kemenkes (Kemenkes RI AKD 20401022883).

Kehadiran GeNose juga membawa dua sisi positif yakni bisa dijangkau oleh beragam kalangan dan di sisi lain membantu negara untuk melakukan identifikasi mereka yang terkena COVID-19 dengan cepat dan murah.

"Menghentikan penggunaan GeNose akan membuat kesehatan hanya menjadi milik orang orang kaya saja yang mampu membayar mahal hanya untuk tes saja. Sederhananya GeNose menjawab kebutuhan rakyat dan negara," katanya.

Bukan karena GeNose

Adian tidak sepakat jika lonjakan kasus COVID-19 di Tanah Air dikaitkan dengan akurasi GeNose. Dia mengatakan patut dipertanyakan beberapa desakan yang menginginkan penggunaan GeNose dihentikan.

"Itu pernyataan yang berdasarkan data, rasa atau kepentingan? Menurut saya kalau berdasarkan data jika GeNose menjadi penyebab maka harusnya lonjakan COVID terjadi setidaknya 1 atau 2 bulan setelah GeNose dipergunakan atau sekitar bulan Maret atau April 2021 bukan bulan Juni," kata dia.

Dia menyampaikan faktanya pada Maret dan April justru kasus COVID Indonesia justru pada titik terendah alias landai sekali. Dia melihat mereka yang mengkambinghitamkan GeNose tanpa data bisa jadi hanya menduga-duga.

"Hanya dapat dari “katanya” atau “infonya”, tanpa pegang data yang valid. Atau bisa juga bagian dari kelompok yang memiliki kepentingan politik maupun bisnis," katanya.

Persaingan Bisnis

Adian juga tak memungkiri kemungkinan adanya persaingan bisnis antara GeNose dan antigen. "Sangat mungkin walaupun konspirasi konflik itu sulit dibuktikan namun aromanya bisa tercium," tuturnya.

Menurutnya, GeNose maupun segala bentuk dan jenis alat tes lainnya sebaiknya dibiarkan untuk digunakan dengan catatan selama alat itu memenuhi standar.

Bahkan Adian mengusulkan, penggunakan GeNose tidak hanya digunakan di bandara atau stasiun saja. Tapi, juga di terminal, pasar, mal, kelurahan, dan berbagai tempat umum.

"Sehingga akses masyarakat untuk melakukan deteksi dini terhadap COVID-19 semakin terbuka dengan harga yang juga terjangkau," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel