Adira Finance Restrukturisasi Kredit Rp18,6 Triliun saat Pandemi

Fikri Halim, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVAAdira Finance telah memberikan program restrukturisasi kredit kepada para konsumen hingga 30 September 2020. Totalnya mencapai sebanyak 812 ribu kontrak.

"Jumlah itu setara dengan nilai Rp18,6 triliun," kata Direktur Utama Adira Finance, Hafid Hadeli dalam telekonferensi, Selasa 3 November 2020.

Restrukturisasi kredit merupakan upaya untuk memperbaiki kegiatan perkreditan terhadap nasabah yang kesulitan memenuhi kewajibannya. Contohnya, keringanan cicilan atau diskon, potongan kredit, hingga perpanjangan tenor dengan bunga rendah.

Baca juga: Jokowi: Medsos Tak Jarang Membawa Racun yang Menimbulkan Perpecahan

Hafid menjelaskan, restrukturisasi kredit yang terbesar itu terjadi pada April, Mei, dan Juni 2020. Namun, mulai Juli, Agustus, dan September 2020, jumlah restrukturisasi kredit per bulannya sudah mengecil dan hanya mencapai Rp230 miliar.

"Karena jumlah nilai restrukturisasi itu sudah mulai melambat sejak Juli 2020," ujarnya.

Hafid memastikan, saat ini, Adira juga menjadi lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan baru, terutama pada kondisi di masa pandemi COVID-19 ini.

"Hal itu bertujuan untuk menjaga kualitas aset," tuturnya.

Kemudian pada kuartal III-2020, Hafid mengatakan bahwa Adira telah menjaga non-performing loan (NPL) berada di level 1,8 persen, dibandingkan kuartal II-2020 yang mencapai sebesar 3,1 persen.

Selain itu, lanjut Hafid, piutang pembiayaan yang didanai Adira melalui skema pembiayaan bersama tercatat mencapai Rp20,6 triliun, atau setara dengan 45 persen dari piutang pembiayaan yang dikelola di kuartal III-2020.

"Sementara itu, pinjaman eksternal yang beredar yakni mencapai sebesar Rp20,6 triliun," kata Hafid.

Pinjaman perbankan dan obligasi masing-masing memiliki kontribusi sebesar 57 persen banding 43 persen. Gearing ratio turun menjadi 2,7 kali dari sebelumnya 3,1 kali pada kuartal III-2019.

Hafid pun memastikan bahwa perusahaan masih memiliki ruang gerak yang cukup besar, untuk melakukan ekspansi bisnis ke depannya.

"Dalam mengelola likuiditas, kami telah memenuhi kebutuhan pendanaan hingga akhir tahun. Di sembilan bulan 2020, kami telah membukukan sebesar Rp10,2 triliun penerbitan baru dari pinjaman eksternal yang terdiri dari onshore, offshore, dan obligasi untuk mendukung bisnis kami," ujarnya. (art)