Adopsi budaya kerja Netflix pada birokrasi

Netflix menarik dibahas karena seiring dengan perjalanan sejarah teknologi dunia. Hal ini berawal dari apa yang dikenal dengan Revolusi Industri 1.0 ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt pada abad ke-17 di Inggris.

Revolusi industri saat itu mengubah sistem ekonomi dan bahkan tata sosial yang sebelumnya bertumpu pada sektor pertanian dengan tenaga manusia dengan produktivitas rendah.

Tahapan revolusi industri 2.0 yang terjadi di awal abad ke-20 yang dikenal dengan revolusi teknologi. Revolusi industri yang terjadi ini ditandai dengan adanya penemuan tenaga listrik yang membuat mesin uap yang tadinya sering digunakan dalam proses produksi semakin lama digantikan dengan tenaga listrik tersebut.
Kemudian, kemunculan revolusi industri 3.0 yang terjadi pada akhir abad ke-20 ditandai dengan adanya teknologi digital serta internet.

Revolusi industri 3.0 ini dipicu dengan adanya berbagai mesin yang dapat bergerak dan juga berpikir secara otomatis, yang dibuat dalam bentuk komputer dan juga robot. Selain itu, puncak revolusi industri 3.0 ini sendiri ditandai dengan adanya revolusi digital.

Tahapan keempat, yaitu Revolusi Industri 4.0 dimana transformasi komprehensif melalui penggabungan antara teknologi digital serta internet dengan industri konvensional. Industri 4.0 pada dasarnya berdampak pada tiga aspek yakni Internet of Things (IoT), kecerdasaan buatan (AI) dan manajemen big data alias maha data. Implementasi IoT antara lain: media sosial, e-commerce, aplikasi transportasi dan jasa-jasa lain salah satunya adalah streaming video online.

Netflix merupakan jaringan televisi internet dunia yang fokus pada layanan pengaliran data seketika (streaming) media digital khususnya film dan program televisi, termasuk beberapa program yang dibuat Netflix sendiri. Yang menarik untuk dipelajari adalah kesuksesan Netflix untuk berkembang menjadi salah satu perusahaan terkemuka dunia, hingga saat ini layanan Netflix telah beroperasi di lebih dari 190 negara, dengan lebih dari 140 juta pelanggan.

Kunci Sukses Netflix
Salah satu faktor kesuksesan Netflix adalah beradaptasi pada perubahan, pada awal berdirinya Netflix hanya merupakan perusahaan penjualan dan persewaan DVD dan bertransformasi dengan menyediakan layanan streaming termasuk rumah produksi film dan program televisi.

Netflix menerapkan nilai-nilai utama yang dijunjung tinggi yaitu: "fleksibilitas, kejujuran dan keterbukaan" dengan kata lain, perusahaan mendorong karyawan untuk berfikir mandiri dan kreatif daripada hanya melakukan yang dianggap benar oleh atasan.

Netflix mengharapkan karyawan dapat berjuang untuk keunggulan dan bekerja sebagai tim untuk mencapai hasil terbaik yang mereka bisa dampak dari kebijakan tersebut adalah meningkatnya produktivitas, kreativitas, membuat karyawan lebih inisiatif, tingginya tingkat kepuasan karyawan, tingkat kesejahteraan karyawan meningkat, meningkatkan kepercayaan serta rasa hormat karyawan terhadap perusahaan, jam kerja yang fleksibel dan optimal.

Pendiri Netflix, Reed Hastings, dalam bukunya No Rules: Netflix and The Culture of Reinvention menyebutkan bahwa Netflix memberikan keleluasan kepada para karyawan untuk menentukan keputusannya sendiri dengan menerapkan sedikit sekali peraturan.

Hasting mendorong karyawan Netflix untuk mengekspresikan diri dengan niat yang positif. Kepercayaan tersebut ditujukan untuk menghasilkan perasaan memiliki, komitmen, serta tanggung jawab bersama. Sebagai layanan video streaming langganan terbesar di dunia, Netflix memiliki filosofi utama people over process.

Netflix kerap kali menghadirkan pendekatan yang kreatif dan disruptif dalam mempromosikan layanannya.

Untuk melakukan hal tersebut, dibutuhkan inovasi yang terus berdatangan. Hastings percaya, budaya perusahaan Netflix yang minim intervensi akan bermuara pada inovasi-inovasi yang revolusioner. Ia ingin mengimplikasikan bahwa para karyawan Netflix telah mengantongi kepercayaan dari level manajerial untuk melakukan yang terbaik.

Adopsi bagi ASN
Bercermin pada perkembangan Netflix serta penerapan budaya organisasinya, ada hal positif yang dapat diterapkan pada Lembaga Pemerintahan/Sektor Publik atau Birokrasi untuk menghadapi era 4.0 dalam memberikan layanan prima kepada publik.

Pada tahun 2021 Presiden Joko Widodo telah mencanangkan nilai pokok AS, yaitu BerAKHLAK dan jenama pekerja #ASN Bangga Melayani Bangsa. BerAKHLAK singkatan dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Pencanganan ini bertujuan untuk menyamakan nilai-nilai dasar bagi seluruh ASN di Indonesia sehingga dapat menjadi penyemangat bagi ASN untuk selalu bangga melayani bangsa.

Transformasi birokrasi 4.0 dapat disesuaikan dengan fase reformasi birokrasi yang pernah dijalankan. Transformasi birokrasi 4.0 ini sebenarnya bentuk lain dari reformasi birokrasi yang terus berkesinambungan. Digitalisasi proses bisnis-meski tidak sepenuhnya-sudah mulai tumbuh sejak 2007 ketika era reformasi birokrasi pertama kali diimplementasikan.

Netflix memberikan contoh penataan organisasi dengan mengubah pola pikir yang harus dikembangkan adalah organisasi bertujuan untuk membuat keluaran, bukan memperpanjang proses.

Penataan harus dilakukan ASN semangat minim struktur dan kaya fungsi suatu organisasi bisa membuat suatu keluaran dapat dikerjakan lebih cepat. Prasyaratnya adalah percepatan pembentukan berbagai jabatan fungsional memiliki spesialisasi teknis untuk meningkatkan layanan.

Kedua, adalah penyempurnaan proses bisnis melalui komunikasi internal. Komunikasi internal formal dalam suatu satuan kerja saat ini masih menggunakan kertas-kertas tercetak.

Organisasi ASN harus didorong menggunakan kertas-kertas tercetak yang memiliki kekuatan hukum dan pengendalian internal. Dengan penggunaan sistem aplikasi khusus bahkan berbasis perangkat bergerak, aplikasi untuk memberikan arahan, menyatakan sikap, memberikan keputusan, atau koordinasi yang melibatkan unit-unit dalam suatu satuan kerja sangat dimungkinkan.

Ketiga, adalah masalah disiplin dan manajemen PNS yang salah satunya masalah jam kerja. Jika dikatakan bahwa jam kerja adalah proksi kinerja mungkin ada benarnya.

Salah satu hasilnya adalah generasi milenial menginginkan fleksibilitas lebih besar seperti bekerja dari luar kantor dengan bantuan teknologi. Ini sangat memungkinkan jika pekerjaannya bukan terkait dengan pelayanan langsung jam kerja yang kaku memang penting untuk unit kerja yang melakukan pelayanan langsung, di antaranya di rumah sakit, Kantor SAR, kantor pelayanan administrasi serta sentra-sentra pelayanan lainnya.

Meski demikian, untuk kantor yang fungsinya sebagai kantor pendukung, jam kerja yang kaku bisa jadi malah kontra produktif dengan keluaran yang diharapkan.

Pemikiran ini merupakan hasil diskusi bertajuk Adopsi Budaya Kerja NETFLIX bagi ASN, Selasa (26/7), yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara.

Diskusi ini merupakan bagian dari pelatihan kepemimpinan administrator, yang diikuti dari beragam institusi kementerian dan lembaga serta Pemerintah daerah seperti dari KPK, Kemendagri, Kemenkominfo, BNPB, Kemenkop dan UKM, Setjen DPD RI, LPSK, Komisi Yudisial, Badan SAR Nasional, Sekretariat Kabinet, Kementerian Desa dan PDTT, Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Kota Jambi, Pemerintah Kabupaten Bangka, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, dan Pemerintah Kabupaten Langkat.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel