AEI Sebut Perlu Inovasi Regulasi untuk Genjot IPO

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Fundraising atau penggalangan dana di pasar modal melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) kian diminati dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, pada 2020, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan rekor IPO tertinggi di kawasan ASEAN dengan 51 emiten baru senilai Rp 5,58 triliun.

Hingga 6 Juli 2021, BEI telah mencatat 736 perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa. 24 di antaranya merupakan Perusahaan Tercatat baru pada 2021.

Adapun untuk tahun ini, Bursa menargetkan 54 emiten baru untuk melantai di Bursa. Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Iwan Setiawan Lukminto mengatakan, banyak perusahaan yang berniat mencari pendanaan di pasar modal Indonesia. Baik melalui IPO maupun aksi korporasi lainnya.

"Pengusaha ini mencari cost of fund yang paling efisien di situ (pasar modal),” kata Iwan dalam Mid Year Economic Outlook Day #1, Selasa (6/7/2021).

Di sisi lain, Iwan mengatakan para stakeholder atau pemangku kepentingan di BEI perlu berinovasi untuk mengakomodir lebih banyak perusahaan dengan karakteristik yang beragam. Termasuk yang saat ini tengah menjadi fokus Bursa, yakni perusahaan rintisan (startup).

"Kita juga harus berinovasi dari segi regulasi misalnya nanti ada unicorn, dari pada dia hilang ke negara lain lebih baik dia go public ke negara kita," kata Iwan.

AEI berharap jumlah emiten baru yang melantai di bursa kian banyak. Sehingga dapat mendorong kapitalisasi pasar yang semakin besar untuk mencapai ketahanan ekonomi jangka panjang.

"Kalau kami dari AEI ingin terus mendapatkan emiten baru. Tentunya untuk kerja sama dengan BEI untuk besarkan kapitalisasi. ini harus kita capai untuk resilient the long term economy Indonesia,”

"Kalau saya lihat, investor juga mencari keuntungan, tapi emiten juga cari cost of fund yang efisien di situ,” ia menambahkan.

Penggalangan Dana di Pasar Modal pada Semester I 2021

Pekerja melintas di bawah layar indeks saham gabungan di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Sebelumnya, Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 5.600 pada penutupan perdagangan pertama bulan ini, Senin (3/4/2017). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja melintas di bawah layar indeks saham gabungan di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Sebelumnya, Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 5.600 pada penutupan perdagangan pertama bulan ini, Senin (3/4/2017). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total penggalangan dana atau fundraising di pasar modal mencapai Rp 7,14 triliun per 2 Juli 2021.

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi memaparkan, penggalangan dana melalui pasar modal terus berkembang dari tahun ke tahun berkat regulasi yang lebih baik, peningkatan akses bagi pelaku bisnis dan investor. Serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap industri pasar modal. Hal ini layak dilirik pelaku usaha, utamanya dalam situasi krisis akibat pandemi seperti saat ini.

"Emiten kita harus melihat potensi penggalangan dana di tengah dampak langsung dari pandemi covid-19 terhadap sustainability maupun rencana pengembangan usaha masing-masing," kata Hasan dalam Mid Year Economic Outlook Day #1, Selasa, 6 Juli 2021.

Merujuk data Bursa pada 2020, penggalangan dana melalui pasar modal tercatat naik hingga Rp 1.495 triliun. sebagian besar berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 1.369 triliun. Sementara dari pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp 5,58 triliun.

"Tahun lalu dari IPO kami terkumpul tidak kurang dari Rp 5,58 triliun. Bahkan YTD (year to date) tahun ini angkanya sudah lebih lagi. Ada Rp 7,14 triliun dari IPO yang tercatat di tahun ini," kata Hasan.

Dalam kesempatan yang sama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan total penggalangan dana di pasar modal bisa mencapai Rp 180 triliun. Hal itu merujuk pada data pipeline penggalangan dana dalam catatan OJK senilai Rp 79,72 triliun per akhir Juni 2020.

"Penghimpunan dana di pasar modal tahun 2021 diperkirakan akan meningkat di kisaran Rp 150 triliun sampai dengan Rp 180 triliun,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel