Afghanistan Bebaskan 100 Tahanan Taliban, Babak Baru Damai Tercipta?

Ezra Sihite

VIVA – Pemerintah Afghanistan terus melakukan berbagai upaya untuk mencapai perdamaian dengan kelompok bersenjata Taliban. Salah satunya mewujudkan pembebasan tahanan yang berasal dari kelompok Taliban.

Dilansir Aljazeera, pemerintah Afghanistan membebaskan 100 tahanan Taliban pada hari Rabu, 8 April 2020 sehari setelah kelompok bersenjata itu keluar dari perbincangan dengan pemerintah.

Javid Faisal yang merupakan juru bicara kantor Dewan Keamanan Nasional Afghanistan mengatakan bahwa pemerintah Republik Islam Afghanistan membebaskan 100 tahanan Taliban berdasarkan kondisi kesehatan, usia dan lamanya hukuman yang tersisa, sebagai bagian dari upaya untuk perdamaian.
Sementara Taliban menuduh pemerintahh Afghanistan menunda pertukaran tahanan yang merupakan bagian dari perjanjian yang ditandatangani dengan AS di Doha, Qatar.

Taliban dan Kabul telah bernegosiasi sejak minggu lalu mengenai pertukaran tahanan yang semula dijadwalkan pada 10 Maret dan membuka jalan perdamaian perbincangan damai 'intra-Afghan'.
Namun pertukaran tersebut diliputi banyak masalah dengan Kabul mengatakan bahwa Taliban menginginkan 15 komandannya untuk dilepaskan, sementara Taliban menuduh pemerintah Afghanistan membuang-buang waktu.

Amerika Serikat sendiri menandatangani perjanjian dengan Taliban pada 29 Februari 2020 yang mengharuskan pemerintah Afghanistan untuk membebaskan 5 ribu tahanan Taliban dan Taliban juga sebagai gantinya harus membebaskan 1.000 orang pro-pemerintah.

Washington berjanji untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan pada Juli tahun depan, dengan imbalan jaminan keamanan dari Taliban, sesuai dengan kesepakatan perjanjian.

Suhail Shaheen, juru bicara kantor politik Taliban di Qatar pada hari Selasa mengatakan bahwa Taliban menarik negosiatornya dari Kabul, beberapa jam setelah mereka menangguhkan pembicaraan tentang pertukaran tahanan dengan pemerintah Afghanistan.

"Penundaan pembebasan tahanan kami yang disengaja melanggar perjanjian damai, oleh karena itu kami memanggil kembali tim teknis kami dari Kabul," kata Shaheen dalam sebuah cuitannya di Twitter.

Meskipun begitu, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan sudah ada kemajuan semenjak ia mengunjungi Kabul pada 23 Maret untuk menekan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan mantan Kepala Eksekutif Abdullah Abdullah untuk mengakhiri perselisihan mengenai hasil pemilu lalu.

Sementara perselisihan masih berlangsung, kunjungan Mike Pompeo dan pemotongan bantuan dana sebesar US$1 miliar kepada Afghanistan tampaknya membawa dampak positif karena Ghani akhirnya mengumumkan perwakilannya untuk perbincangan damai dengan Taliban.

Baca juga: Terungkap Siapa Sebenarnya Penyuap Komisioner KPU

Laporan: Dion Yudhantama