Afrika Disebut Turut Jadi Korban Perang Rusia-Ukraina

Merdeka.com - Merdeka.com - Pejabat Uni Afrika dan PBB menyampaikan, Afrika telah menjadi "korban tambahan" konflik Rusia-Ukraina, melemahkan kemampuan benua tersebut untuk mengembangkan potensinya. Hal ini disampaikan pejabat Uni Afrika saat Hari Afrika yang dirayakan setiap 25 Mei. Hari Afrika adalah hari peringatan berdirinya Organisasi Uni Eropa (OAU) pada 25 Mei 1963 yang kemudian diubah menjadi Uni Afrika pada 2002.

"Afrika telah menjadi korban tambahan konflik yang jauh, antara Rusia dan Ukraina," jelas ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (26/5).

Menurutnya, konflik ini sangat mempengaruhi kerapuhan struktur ekonomi di kawasan tersebut.

"Tanda paling simbolik dari kerentanan ini adalah krisis pangan setelah gangguan iklim, krisis kesehatan Covid-19, yang diperkuat hari ini oleh konflik di Ukraina," jelasnya.

"Krisis ini ditandai dengan menyusutnya pasokan produk pertanian dunia dan melonjaknya inflasi harga pangan."

Jutaan orang di Afrika yang populasinya diperkirakan 1,3 miliar jatuh dalam kemiskinan ekstrem karena pandemi Covid-19. Dan sekarang, benua ini dihantam naiknya harga pangan salah satunya karena perang.

Rusia dan Ukraina memproduksi sekitar sepertiga pasokan gandum dunia, dan dua pertiga pasokan minyak biji bunga matahari. Perang telah menghancurkan infrastruktur laut dan pertanian Ukraina, dan dapat membatasi kemampuan produksi pertaniannya selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan perang di Ukraina telah menciptakan badai bagi negara-negara berkembang, khususnya di Afrika. Perang berdampak pada melonjaknya harga pangan, energi, dan pupuk. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel