Agar Bisnisku Bertahan di Masa Pandemi, Ini Pilihan yang Kuambil

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

TERKAIT: Ibu Rumah Tangga yang Terampil, Tak Gampang Panik saat Suami Dirumahkan

TERKAIT: Mengatur Uang sebagai Pekerja Lepas, Ini 3 Strategi yang Kuterapkan

TERKAIT: Kelalaian Pakai Kartu Kredit, PHK, dan Bangkit dengan Usaha Sendiri

***

Oleh: Fuji Lindya

Sudah bukan rahasia lagi, masa pandemi kemarin telah memporak-porandakan sektor ekonomi masyarakat. Aku salah satu di antara anggota masyarakat itu. Sebagai pedagang yang memiliki operasional usaha di Pasar Rakyat, kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menangani pandemi sangat berpengaruh dalam usaha yang aku jalankan.

Bagaimana tidak berpengaruh? Kebijakan pemerintah membatasi ruang gerak masyarakat di luar rumah. Banyak sekolah diliburkan alias belajar online dari rumah, tidak adanya keramaian anak-anak di sekolah telah mematikan para pedagang yang pasarnya anak sekolah.

Dari penjual kantin sampai pedagang gerobak di depan sekolah. Padahal pelanggan-pelanggan jualan aku adalah para mereka yang jualan di area sekolah. Bukan hanya itu, mereka yang di rumah juga banyak yang libur kerja dan tak berpenghasilan. Secara otomatis mengurangi dan menghilangkan sumber penghasilan mereka.

Ujungnya mengurangi daya beli masyarakat, penjual-penjual di rumah-rumah juga sepi pengunjung. Sepinya mereka berimbas ke jualan aku juga. Mereka tidak belanja produk jualan ke pasar. Belum lagi masyarakat biasa yang enggan ke Pasar karena takut pandemi. Hal ini memperburuk keadaan.

Masih Bisa Bertahan Hingga Kini

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Poomsak+Thammasermsakul
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Poomsak+Thammasermsakul

Mau tidak mau keadaan tersebut harus aku lewati di masa pandemi kemarin, omset penjualan yang menurun drastis. Otomatis penghasilan uangku juga menurun. Sementara kebutuhan hidup tetap ada dan harus dipenuhi juga. Tak memedulikan ada atau tidaknya uang yang aku miliki.

Mau menangis dengan keadaan tersebut? Rasanya tak akan mengubah keadaan yang lewati. Mau marah sama pemerintah? Sepertinya hanya sia-sia. Pemerintah mengambil kebijakan juga untuk kebaikan rakyatnya dan aku rakyat mereka juga. Pemerintah juga tidak asal mengambil kebijakan, buktinya di balik penutupan aktivitas masyarakat, pemerintah juga menggelontorkan dana yang banyak untuk dibagikan masyarakat terdampak.

Hal tersebut membuat aku berpikir, belajar, dan memahami kenyataan bahwa aku bukan Penghamba Uang. Orang yang harus jatuh tersungkur, gila, berputus asa, lupa terhadap baik dan benar, harus curang, melakukan hal kotor yang jahat bahkan memilih mengakhiri hidup hanya karena bermasalah dengan uang. Aku tak boleh jadi tipe orang tersebut.

Karena itu aku memilih berbuat sesuatu yang benar dan lebih bermanfaat untuk aku melewati masa pandemi. Aku tetap membuka operasional usahaku meskipun pendapatan harian tak sebanyak sebelum pandemi menghampiri. Sambil terus belajar melakukan tak tik untuk bisa tetap bertahan apa pun keadaannya.

Bantuan-bantuan pemerintah yang berbagai macam bentuknya, aku coba ikuti yang memenuhi syarat agar dapat sokongan dana untuk menjalankan operasional usahaku. Memperbarui teknik penjualan dan mencoba peruntungan di bidang lain aku pun lakukan. Alhamdulillah masih bisa bertahan hingga hari ini.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel