Agregator e-Commerce Lokal Hypefast Kelola 25 Merek dan Raih Profitabilitas

·Bacaan 2 menit
Ilustrasi belanja online, ecommerce, e-commerce, toko online. Kredit: athree23 via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Hypefast mengumumkan telah mengelola lebih dari 25 brand (merek) dan meraih profitabilitas. Perusahaan yang diluncurkan pada Januari 2020 lalu itu mengklaim sebagai pelopor yang mengembangkan model bisnis House of Brands bagi merek-merek e-Commerce di Asia Tenggara.

Pendiri sekaligus CEO di Hypefast, Achmad Alkatiri, mengatakan bahwa gagasan awal merintis Hypefast berasal dari pengalaman tim pendiri perusahaan dengan merek-merek e-Commerce lokal, serta pemahaman mendalam atas berbagai kendala yang dihadapi mereka.

"Saya merintis Hypefast setelah berinteraksi selama lebih dari enam tahun dengan pendiri-pendiri brand lokal, serta mempelajari kesulitan mereka ketika mendapatkan SDM yang tepat, permodalan, skala, dan efisiensi operasional. Setiap aspek ini saling berkaitan," ujar Achmad dikutip dari rilis pers pada Jumat (12/11/2021).

Sebelumnya Achmad pernah menjadi CMO di Lazada Indonesia dan Marketing Lead di Shopee Indonesia.

Berbeda dengan agregator e-Commerce pemain lainnya yang menjalankan model bisnis serupa, Achmad mengklaim bahwa Hypefast lebih mengutamakan kualitas alih-alih kuantitas seperti akuisisi banyak pengguna sekaligus dalam waktu cepat.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Fokus pada Tahap Pascaakuisisi

Dalam hal ini, Hypefast berupaya keras pada tahap pascaakuisisi, serta menggerakkan pertumbuhan melalui tim ritel terpadu, teknologi, proses efisien, analisis pasar, skala ekonomi, dan optimasi operasional back-end secara terpusat.

"Hypefast bertekad mengembangkan ekosistem brand berbasis e-commerce di Asia Tenggara bersama semua pendiri brand lokal yang luar biasa," tutur Achmad.

Hingga kini, Hypefast telah memperoleh USD 22 juta equity capital serta tambahan debt capital dengan jumlah yang tidak disebutkan dari kalangan investor terkemuka di Asia Tenggara dan dunia. Mereka antara lain Monk's Hill Ventures, Jungle Ventures, dan Strive.

Pernyataan Investor

"Hypefast merupakan pelaku eCommerce 2.0 terdepan di Asia Tenggara, yang beralih menuju pola belanja yang berorientasi pada brand dan penjual. Konsumen digital di Asia Tenggara kini semakin berwawasan luas," ujar Kuo-Yi Lim, Salah Satu Pendiri dan Managing Partner, Monk's Hill Ventures.

Konsumen, kata Lim, semakin cermat dalam melihat profil penjual dan siapa saja yang membeli produknya.

Sementara itu, Yash Sankrityayan, Principal, di Jungle Ventures, mengaku sangat senang dapat berinvestasi pada Hypefast selama beberapa kali sejak memimpin pendanaan tahap awal pada permulaan 2020.

Dia pun berharap Hypefast dapat menjadi House of e-Commerce Brands terbesar dengan berkolaborasi bersama para pendiri brand lokal yang luar biasa dan kreatif.

"Berkat visi yang konsisten dan terarah ini, kami optimis bahwa tim manajemen Hypefast mampu berkolaborasi dengan cepat, hingga kini memiliki lebih dari 25 brand," kata Sankrityayan.

Saat ini Hypefast memiliki lebih dari 200 pekerja di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Mereka merupakan roda penggerak pertumbuhan merek-merek mitra pada berbagai kanal dan pasar.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel