Agus Yudhoyono Soal Istana Negara dan Buckingham

TEMPO.CO, London - Menginap dua malam di Istana Buckingham, kediaman Ratu Elizabeth II, membawa pengalaman tersendiri bagi Mayor Infanteri Agus Harimurti Yudhoyono, putra sulung Presiden Susilo Bambang Yudhonono.

Tentu tidak sembarang orang dapat masuk bahkan bermalam di Istana Kerajaan Inggris yang paling tersohor itu. Pada awal November lalu, ia bersama ayah dan ibunya, beserta beberapa pejabat negara Indonesia menginap disana dalam rangka  Kunjungan Kenegaraan Presiden RI ke London.

Seusai memberikan paparan untuk mahasiswa Indonesia di London, Tempo sempat menanyakan pengalaman Agus saat tinggal di Istana Ratu Inggris tersebut. »Dari tempat tidur dan ornamen-ornamennya semua bernuansa klasik,” tutur ujar peraih gelar Master dari Harvard University ini.

Lelaki berusia 34 tahun ini juga terpesona pada lukisan-lukisan besar dari para keluarga raja yang pernah tinggal di istana itu dari masa ke masa. "Ada juga lukisan-lukisan lain dengan suasana tertentu yang luar biasa indahnya,”  ujar lulusan terbaik Akademi Militer tahun 2000 ini.

Lalu apa pendapat Agus saat merasakan nuansa klasik di Istana Buckingham dibandingkan dengan suasana di Istana Negara, Jakarta?

"Agak sulit dibandingkan karena Istana Buckingham sudah didirikan ribuan tahun, peninggalannya jauh lebih beragam dan berusia sangat tua," ujarnya. "Sementara Istana Negara baru digunakan kalau tidak salah sesudah Indonesia merdeka."

Peraih tiga penghargaan lulusan terbaik di pendidikan Maneuver Captain Career Course di Fort Benning, Amerika Serikat ini menambahkan, Istana Negara tidak kalah baiknya dari Istana Buckingham.

Walaupun bukan dalam kategori mewah seperti Istana Buckingham, Istana Negara adalah simbol negara yang harus dipelihara.

VISHNU JUWONO

Berita terpopuler lainnya:

Nadya Hutagalung Tidak Kenal Pahlawan Indonesia  

Robert Pattinson Sering Lupa Ritsleting CelanaWajah Mahasiswa Ini Memar Dipukuli Diego Michiels

Bagasi Agnes Monica Tanggung Jawab Maskapai

Film Sang Kiai Segera Syuting di Kediri  

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.