Ahli Epidemiologi Ingatkan Potensi Ledakan Kasus COVID-19

Daurina Lestari, Andri Mardiansyah (Padang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Positivity Rate (PR) Coronavirus Disease di Sumatra Barat hari ini menyentuh angka 17,6 persen. Angka itu, merupakan rekor baru untuk persentase PR sejak pandemi mematikan ini menyerang bumi Minangkabau. Sinyal adanya potensi gelombang tsunami COVID-19 pun datang dari ahli epidemiologi.

Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia untuk wilayah Sumatera Barat, Defriman Djafri, mengimbau pemerintah untuk segera menerapkan langkah strategis yang jitu untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus positif yang lebih besar lagi.

Menurut Defriman, merujuk pada gambaran mobilitas penduduk, kasus konfirmasi positif dan kematian COVID-19 di Sumatera Barat sempat landai, dan bisa ditekan sampai Agustus 2020. Namun, sejak Agustus hingga kini laju kematian melonjak Tajam. Tercatat, ada 753 kasus kematian.

“Melihat situasi saat ini, potensi adanya ledakan kasus positif COVID-19 bisa saja terjadi apabila tidak segera diantisipasi dengan cepat. Laju kematian yang sempat bisa kita tekan pada 2020 lalu, kini melonjak tajam. Angka kematian kita tinggi,” kata Defriman Djafri, Rabu 21 April 2021.

Menurut Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas ini, saat kini sense of crisis atau kepekaan terhadap krisis sudah tidak ada lagi bahkan terkesan sudah hilang. Meski Perda Adaptasi Kebiasaan Baru sudah ada, namun adaptasi sama sekali tidak terbangun. Malah yang ada saat ini adalah, kondisi yang tampak seperti kembali normal.

“Salah satu penyebabnya adalah, komunikasi risiko yang tidak sampai ke masyarakat. Dan juga, kebijakan jalan tengah yang diambil, tarik-menarik antara pertimbangan ekonomi dan penanganan pandemi. Ditambah lagi, urusan ibadah dan penanganan pandemi, seperti mengurai antara keyakinan, pengetahuan dan kepedulian. Ini yang kadang-kadang tidak sejalan,”ujar Derfriman

Defriman mengingatkan kondisi pandemi atau bencana hanya memiliki dua prinsip tujuan yang harus perlu dipahami yaitu, menekan angka kematian (mortalitas) dan kesakitan (morbiditas).

“Mudah-mudahan, kepala daerah benar-benar bisa memahami ini. Setiap penularan, mempunyai risiko kematian, dan setiap kematian ini yang akan kita pertanggungjawabkan. Mengingat kini sudah mulai ada lonjakan kasus, maka harus ada langkah strategis yang jitu untuk mengatasi ini. Semua komponen harus terlibat, dan bersama-sama bekerja menekan laju penularan,” kata Defriman

Defriman juga menyoroti adanya klaster-klaster baru di dunia pendidikan. Menurutnya, jika ada evaluasi, maka data tentang penerapan sekolah daring pada awal Januari lalu bisa dikaji ulang. Bisa dievaluasi sejauh mana anak-anak sudah beradaptasi terkait dengan pandemi, dan seperti apa prokes yang sudah dijalankan.

“Lalu selain itu, terkait dengan aktivitas ibadah di bulan puasa, yang perlu dipertegas, prokes seperti apa yang dianjurkan atau diharapkan MUI. Menurut saya, ini yang belum sampai ke masyarakat. Dari varian baru saat ini, sangat-sangat menular dari sebelumnya. Airosol atau airborne transimission kemungkinan bisa terjadi. Kita harus bergerak bersama untuk mengatasi ini,”tutup Defriman.