Ahli Farmakologi Dr Raymond Tjandrawinata, Pilih Pulang ke Tanah Air demi Kembangkan Obat Berbahan Baku Alam Indonesia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Dr Raymond Tjandrawinata adalah Ahli farmakologi molekuler. Dia memilih kembali ke Tanah Air untuk mengembangkan potensi biodiversitas Nusantara menjadi obat-obatan.

Bisa disebut, dia merupakan salah satu putra Indonesia yang pertama kali mempelajari ilmu rekayasa genetika di era 1980-an.

Maklum, pada kurun waktu tersebut, ilmu rekayasa di Indonesia belum sepenuhnya didalami. “Pada waktu saya kuliah S1 di pertengahan tahun 1980-an, penelitian rekayasa genetika baru saja dimulai,” kata peraih WIPO Medal for Inventor Award, SINTA Award, dan Habibie Award ini.

Dia juga memiliki pengalaman kerja bersama para saintis dalam Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

“Pengalaman bekerja dengan para saintis di NASA sangat memperkaya perspektif saya sebagai seorang saintis biomedis,” ujar dia.

Namun dia memutuskan membagi ilmunya ke Tanah Air. Dr Raymond meneliti obat dari bahan alam sejak menimba ilmu di negeri Paman Sam.

Pada 1991, dia pernah diajak astronot wanita bernama Dr. Millie Hughes-Fulford untuk terlibat proyek penelitian Spacelab Life Sciences (SLS 1) dengan menerbangkan pesawat ulang alik ke luar angkasa.

Proyek tersebut merupakan misi spacelab pertama yang didedikasikan untuk penelitian biomedik. Penelitian itu bertujuan untuk mengkaji secara ilmiah ekspresi gen tulang manusia dalam kaitannya dengan pengeroposan tulang pada kondisi tanpa gravitasi.

Dr Raymond kemudian mengembangkan obat dari bahan alam saat berkarier di perusahaan farmasi di Amerika, Smithkline Beecham di awal 1990-an hingga tahun 2000.

Di perusahaan ini, ia belajar teknik riset laboratoris yang sering digunakan perusahaan-perusahaan farmasi di Amerika. “Di sana saya banyak belajar cara mengembangkan obat baru dengan teknik riset translasional dari laboratorium ke pasien,” jelasnya.

Di sini, dia pernah meraih penghargaan SmithKline Beecham IMPACT Award, Philadelphia di tahun 1997. Dirinya juga meraih Marquee's Who's Who in Science dan Engineering di tahun 2008 dan 2011.

Balik ke Indonesia

Dr Raymond Tjandrawinata. Istimewa
Dr Raymond Tjandrawinata. Istimewa

Pada awal 2000-an, Dr Raymond memutuskan balik ke Tanah Air dan berkarier di perusahaan farmasi PT Dexa Medica.

Ketika itu pendiri PT Dexa Medica, (Alm.) Rudy Soetikno memiliki visi untuk mengembangkan obat-obatan dari kekayaan alam Indonesia.

Di 2005, Dr Raymond dipercaya untuk memimpin Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS). Pusat riset tersebut merupakan pelopor pengembangan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang dibuat dari bahan alam dengan teknologi modern.

Hingga kini, dia memastikan ingin terus mengembangkan obat dari bahan alam yang teruji klinis. Sebanyak 64 paten di Indonesia sudah dipegang dan mancanegara yang berkaitan dengan OMAI. “Saya selalu merasakan tantangan untuk lebih banyak mengembangkan obat baru,” ungkap dia.

OMAI merupakan obat dari bahan alam Indonesia yang telah teruji baik secara pra-klinis (Obat Herbal Terstandar) maupun teruji klinis (Fitofarmaka).

Obat-obatan Fitofarmaka yang telah dikembangkan dan diproduksi antara lain adalah berbahan kayu manis dan daun bungur untuk pasien diabetes, lalu ada yang terbuat dari cacing tanah untuk pasien penderita penyakit jantung dan stroke, dan ada pula yang terbuat dari kayu manis untuk membantu mengatasi gangguan asam lambung.

Menurut Dr Raymond, pengembangan obat Fitofarmaka tidaklah mudah. Meski demikian, Dr Raymond melihat potensi besar dari pengembangan Fitofarmaka yakni selain mencapai kemandirian farmasi nasional juga dapat mendorong perekonomian petani.

“Maka importasi bisa dikurangi sehingga petani sejahtera. Para petani bisa sejahtera jika produsen membeli bahan baku yang jumlahnya bisa berton-ton,” tutur peraih gelar doktor dari University of California tersebut.

Pria penyandang gelar Masters of Business Administration in Management dari Golden Gate University ini menilai, kesejahteraan ekonomi petani dapat mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). "Kita bisa menyejahterakan Indonesia dengan biodiversitas alam Indonesia itu sendiri," pungkasnya.