Ahli: Ini Penyebab Masyarakat Enggan Patuh Protokol kesehatan

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Subbidang Sosialisasi Perubahan Perilaku Satgas COVID-19/Deputi Dalduk BKKBN, Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc., Dip.Com, mengungkap, kelelahan menjadi penyebab masyarakat enggan patuh pada protokol kesehatan COVID-19.

"Kelelahan bisa menimpa siapa saja. Apalagi tenaga kesehatan yang dari hari ke hari harus bekerja keras menggunakan APD (Alat Pelindung Diri). Dan memang kalau dibandingkan dengan tenaga kesehatan, tuntutan kita kepada masyarakat jauh lebih ringan," ujarnya dalam sesi webinar di YouTube BNPB, Senin 11 Januari 2021.

Dwi menambahkan, meski masyarakat hanya diminta untuk menerapkan 3M, namun pandemi yang tak kunjung berakhir, membuat mereka akhirnya lelah mematuhi protokol kesehatan.

"Yang tadinya tidak pernah begitu, harus begitu (protokol kesehatan). Karena disampaikan waktu itu ada harapan selesai April, Juli, ternyata malah bukan selesai, malah berkepanjangan. Dan kita juga meminta mereka terus, untuk menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, akhirnya juga menimbulkan kelelahan," tutur dia.

Terlebih menurut Dwi, terutama karena kaitannya menyangkut persoalan ekonomi di tingkat keluarga. Dan mustahil untuk meminta seluruh anggota keluarga untuk tetap berada di rumah, mengingat salah satunya harus tetap keluar untuk mencari nafkah.

"Dan belakangan risikonya adalah, mereka yang keluar bisa jadi membawa virus ke rumah, sehingga terjadi penularan di tingkat keluarga. Memang ini harus sejalan, antara pemulihan ekonomi secara nasional, melalui aktivitas ekonomi anggota masyarakat dalam hal ini mereka yang usianya produktif di dalam satu keluarga dengan penerapan protokol kesehatan itu sendiri di level keluarga tentunya," kata dia.

Menurut Dwi, beberapa instansi seperti kantor atau perusahaan, mal dan pasar, jauh lebih mudah menerapkan protokol kesehatan, karena ada sanksi, peraturan dan lain-lain, yang membuat penerapan prokes di tempat-tempat tersebut jauh lebih mudah dibanding di tingkat keluarga.

"Jadi sampai dengan saat ini, keluarga masih dianggap sebagai tempat kita pulang yang tidak ada aturan, kita santai-santai di rumah. Tapi sekarang, di dalam rumah sendiri kita harus menerapkan protokol. Nah, inilah yang mungkin kita gak boleh lelah untuk terus mengingatkan," katanya.

Maka dari itu, Dwi menyarankan untuk terus melakukan pendampingan pada keluarga, khsususnya melalui ibu.

"Ibu ini yang menjadi pokok, harus mengingatkan kepada seluruh anggota keluarganya untuk menerapkan protokol kesehatan itu sendiri," kata Dwi Listyawardani.