Ahli jelaskan cara tampung urine yang benar untuk tes laboratorium

Ahli Teknologi Laboratorium Medis (ATLM) dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Muazaenah menjelaskan cara menampung sampel urine yang benar untuk tujuan pemeriksaan laboratorium, termasuk untuk tiga jenis sampel yaitu urine pagi, urine 24 jam, dan urine sewaktu.

“Urine sewaktu biasanya untuk pemeriksaan mikrobiologi atau pemeriksaan narkoba. Urine tampung 24 jam biasanya untuk pemeriksaan metabolisme tubuh. Kemudian urine pagi hari, biasanya untuk pemeriksaan tes kehamilan,” kata ATLM Penanggung Jawab Outlet Laboratorium Kiara RSCM itu dalam webinar "HUT 103 RSCM" yang diikuti di Jakarta, Rabu.

Seperti namanya, Muazaenah mengatakan pengambilan sampel urine untuk tes kehamilan ideal dilakukan pada pagi hari karena pada waktu tersebut konsentrasi hormon human chorionic gonadotropin (HCG) biasanya lebih pekat atau lebih tinggi.

Kemudian untuk urine 24 jam, dia menyarankan agar sampel urine ditampung di dalam wadah atau ember dalam keadaan bersih dan kering. Sebaiknya wadah tersebut memiliki tutup untuk mencegah kontaminasi zat lain.

Baca juga: Dokter sarankan orang tua pantau kondisi urine anak untuk cegah GGAPA

Baca juga: IDI Lampung: Gangguan ginjal anak bisa dilihat dari produksi urine

Sebelum melakukan penampungan urine, pasien bisa mengunjungi laboratorium tujuan untuk meminta pengawet urine kepada petugas.

“Selain dikasih pengawetnya, biasanya petugas lab akan memberikan edukasi supaya tidak terjadi kekeliruan atau tidak lupa atau terkadang tercecer sedikit.

Terkadang ada pasien yang menyepelekan, ‘Tidak apa-apa kali, ya, sedikit tercecer’, padahal kan kami butuh volume-nya untuk 24 jam ini,” katanya.

Urine mulai ditampung pada hari pertama ketika buang air kecil kedua di pagi hari. Semua urine yang dikeluarkan selama 24 jam dari tubuh harus ditampung dan tidak boleh ada yang tercecer. Setiap kali urine ditampung ke dalam wadah, Muazaenah menyarankan agar pasien menggoyangkan wadah secara perlahan sehingga urine tercampur secara merata dengan pengawet.

Sementara itu untuk pemeriksaan urine sewaktu, Muazaenah mengatakan sebaiknya urine yang hendak diperiksakan tidak boleh didiamkan lebih dari dua jam, terutama jika pasien berinisiatif mengambil sampel urine dari rumah dan kemudian dibawa ke laboratorium.

“Maksimal dua jam itu sudah harus sampai lab, sudah harus diperiksa. Kenapa? karena selama dua jam ini, nanti sudah tumbuh bakteri-bakteri ureanya. Yang harusnya mungkin urine-nya bersih, tidak ada bakterinya, nanti bakterinya sudah numbuh jadi (hasilnya) positif palsu,” katanya.

Untuk pasien anak-anak, dia menyarankan penggunaan urine collector sehingga lebih memudahkan pengambilan sampel. Tidak dianjurkan untuk memeras sampel urine dari pampers karena hal tersebut berarti urine sudah terkontaminasi dengan bahan kimia sehingga hasil pemeriksaan bisa invalid.

Bagi perempuan yang sedang menstruasi, disarankan untuk menunggu siklus menstruasi selesai karena kontaminasi darah dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan urine, bahkan dikhawatirkan mempengaruhi pengobatan yang tidak tepat. Namun apabila kondisi mendesak, petugas laboratorium akan berkoordinasi dengan dokter terkait untuk memutuskan apakah dilakukan penundaan ataukah tidak.

Baca juga: Gangguan depresi bisa dideteksi lewat urine

Baca juga: Pemeriksaan hormon di urine memudahkan diagnosis kelainan sistem reproduksi