Ahli Kriminologi Sebut Hoaks Muncul karena Gap Ekspektasi dan Ketersediaan Informasi Absah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Staf pengajar tetap Departemen Kriminologi FIFIP UI, Dr. Iqrak Sulhin, S.Sos, M.Si menyebut hoaks yang beredar di media sosial lahir dari sebuah gap yang terjadi antara ekspektasi atau imajinasi masyarakat dengan ketersediaan informasi yang absah. Dia juga menyebut hoaks sebagai kejahatan.

Pembahasan soal hoaks ini diungkapkan Iqrak Sulhin saat diskusi virtual dengan tema: 'Waspada Hoaks Selama Pandemi'. Diskusi virtual ini disiarkan live melalui YouTube pada Jumat (13/11/2020).

"Hoaks merupakan kejahatan dalam perspektif kriminologi. Ketika bicara hoaks dari sisi ini, maka kita bicara tentang hal yang disebut kesenjangan antara ekspektasi imaginatif dengan ketersediaan informasi yang absah. Hoaks bukan hanya pelanggaran hukum," ujar Iqrak Sulhin.

Banyaknya hoaks di media sosial karena fakta tentang sebuah informasi sangat sedikit. "Artinya, hoaks ini jumlahnya banyak, sedangkan informasi sedikit. Informasi yang saya maksud ini yang benar-benar absah. Nah, di sini ada gap atau kesenjangan," katanya.

Hoaks, kata Iqrak Sulhin, muncul dari imajinasi masyarakat. Tentunya, imajinasi ini bisa saja menjadi berbahaya bila disebarluarkan di media sosial.

"Kenapa muncul? Karena ada imajinasi besar dalam masyarakat. Sederhananya gini, sekarang ada pandemi, ekspektasi masyarakat ingin ini cepat kelar. Namun ekspekasi ini bisa positif atau menjadi berbahaya."

"Ketika ekspektasi muncul, informasi yang bisa diserap, bisa diakses dengan mudah oleh publik, tidak terlalu tersedia dengan baik," ucap Iqrak Sulhin.

Contoh Kasus

Ilustrasi Hoax. (Liputan6.com/Rita Ayuningtyas)
Ilustrasi Hoax. (Liputan6.com/Rita Ayuningtyas)

Iqrak Sulhin juga memberikan contoh kelahiran hoaks dari imajinasi masyarakat. Imajinasi ini sering dituangkan di media sosial dan dicerna oleh pengguna lainnya.

"Contohnya hoaks yang berkembang saat narapidana dikeluarkan di masa pandemi. Dari kasus ini, publik tidak ketahui kalau ada pembebasan bersyarat karena pandemi covid-19. Publik berpikirnya ini enak banget mereka bisa saja melakukan perbuatan jahat lagi."

"Nah, pembicaraan itu mereka tuangkan di media sosial. Padahal, narapidana ini diawasi dengan frekuensi tertentu oleh pihak lembaga kemasyarakatan dan mereka juga harus melapor ke pihak kepolisian," ujarnya.

Faktor yang Memunculkan Hoaks

Iqrak Sulhin menjelaskan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama kemunculan hoaks. Dua hal yang disebutkan Iqrak Sulhin adalah faktor ekonomi dan politik. Namun, para penyebar hoaks ini tidak menyadari sudah melakukan kesalahan.

"Motifnya beragam, ada ekonomi. Namun ada juga motif politik, yang juga menarik, hanya karena berbeda kebijakan dari partai oposisi. Nah, mereka yang tidak menyetujui bakal mengkritik. Namun, informasi yang mereka buat tidak berdasarkan data yang sah."

"Biasanya, orang-orang yang menyebar hoaks tidak menyadari kosekuensinya. Padahal ada hukum yang mengatur mereka sebagai pengguna media sosial," ujarnya menegaskan.

Tentang Cek Fakta

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Saksikan video pilihan berikut ini: