Ahli: Pengawas polisi Hong Kong tak punya perlengkapan untuk selidiki reaksi protes

Oleh AFP

Pengawas polisi Hong Kong saat ini tak memiliki perlengkapan untuk menyelidiki cara pasukan polisi menangani berbulan-bulan protes pro-demokrasi, demikian temuan satu panel ahli internasional yang diangkat oleh pemerintah kota itu sendiri.

Temuan yang memalukan itu dikeluarkan saat kerusuhan baru meletus pada Ahad, saat pegiat dan polisi bentrok di banyak permukiman setelah pemrotes menggelar protes dan pengrusakan di dalam pertokoan.

Dalam satu peristiwa yang ditayangkan langsung oleh Now TV, seorang polisi menembakkan tabung gas air mata dari mobil polisi yang bergerak ke arah orang-orang yang mengejek penegak hukum dari satu jembatan penyeberangan di Kabupaten Tsuen Wan.

Tabung gas air mata tersebut menghantam seorang wartawati dari saluran televisi tersebut, sehingga di lengannya muncul benjolan merah.

Sekelompok pemrotes bermasker juga mengotori satu restoran China yang dioperasikan oleh konglomerat yang telah berulangkali menjadi sasaran oleh pegiat karena putri pemilik restoran itu telah memuji polisi dan Beijing.

Hong Kong telah dijungkir-balikkan oleh lima bulan pertemuan umum sangat besar dan makin rusuh, tapi Beijing telah menolak untuk menyerah pada kebanyakan tuntutan gerakan itu.

Salah satu tuntutan inti, bersama pemilihan yang sepenuhnya bebas, adalah penyelidikan independen terhadap polisi, yang telah menghadapi pemrotes selama 25 pekan berturut-turut dan sekarang dibenci oleh banyak penduduk yang sangat terkotak-kotak.

Pemimpin kota Carrie Lam telah berulangkali menolak penyelidikan independen, dan mengatakan pengawas saat ini --Komisi Keluhan Polisi Independi (IPCC)-- layak untuk pekerjaan tersebut.

Pemrotes berkilah IPCC kekurangan wewenang penyelidikan yang layak, dipenuhi toko pro-kemapanan dan sebelumnya jadi macan ompong ketika sampai pada keputusan pertanggung-jawaban polisi.

Pada September, Lam mengangkat satu panel ahli independen untuk memberi saran kepada badan pengawasn itu.

Panel tersebut, yang diketahui oleh Sir Dennis O'Connor --yang diberi tugas oleh pemerintah Inggris untuk meneliti taktik polisi setelah kerusuhan London 2011-- meliputi tenaga ahli kepolisian dari Inggris, Selandia Baru dan Kanada.

Panel itu sekarang telah mengeluarkan penilaian yang memberatkan mengenai kemampuan IPCC untuk melakukan pekerjaan yang telah ditugasi dan menyatakan penyelidikan yang sepenuhnya independen akan lebih cocok buat tugas tersebut.

Laporan itu, yang bertanggal 8 November, mendapati "kekurangan dalam wewenang, kapasitas dan kemampuan yang diperlukan IPCC bagi penyelidikan independen untuk mengimbangi luasnya peristiwa dan standard yang diperlukan buat satu pengawas polisi internasional yang beroperasi di satu kota yang menghargai kebebasan dan hak asasi".

Panel tersebut mengatakan jika sumber daya ditingkatkan, IPCC mungkin bisa mengeluarkan laporan sementara "dengan fakta terbatas tapi memadai" mengenai penyebab protes dan penanganannya oleh pemerintah.

Tapi, katanya, ada "kasus yang mendesak" buat "penyelidikan yang lebih dalam dan lebih menyeluruh ... oleh satu badan dengan kekuasaan yang diperlukan".

Laporan itu tak tersedia di jejaring IPCC.

Tapi laporan tersebut diunggah di Twitter pada Sabtu malam (9/11) oleh salah satu anggota panel, akademikus yang berpusat di Inggris Clifford Stott.

Polisi dan Pemerintah Hong Kong tidak menanggapi temuan tersebut secara langsung tapi mengatakan IPCC mesti diberi waktu untuk melakukan penyelidikannya.

Kesimpulan panel itu memalukan buat Lam saat ia memerangi angka dukungan rekor rendah dan berusaha menghadapi seruan bagi penyelidikan independen.

"Buat mereka untuk keluar dengan satu pernyataan yang secara efektif mengatakan bahwa IPCC tidak cocok buat tugas itu sangat memberatkan dan hanya meningkatkan kondisi mendesak bagi penyelidikan independen," kata Antony Dapiran, pengacara yang berpusat di Hong Kong yang menulis buku mengenai gerakan pro-demokrasi di kota itu, kata AFP.

Beijing dan Lam tampaknya bertekad untuk menunggu protes dan telah memperlihatkan sedikit nafsu untuk kompromi lebih jauh.

Pada akhir pekan seorang pejabat senior partai di Beijing menyeru Hong Kong agar melaksanakan hukum keamanan nasional keras --masalah yang menyulut protes besar pada 2003.

Meskipun jumlah massa lebih sedikit daripada sebelumnya pada musim panas ini, ketika jutaan orang berpawai, pertemuan terbuka dan bentrokan yang makin rusuh masih terjadi dengan dasar setiap pekan.

Ketegangan meningkat pekan ini, ketika mahasiswa yang berusia 22 tahun meninggal karena jatuh selama bentrokan dengan polisi dalam kondisi yang tidak jelas dan jadi perdebatan.

Puluhan ribu orang menghadiri acara khidmat pada Sabtu malam (9/11), salah satu ari sedikit pertemuan besar dalam beberapa bulan yang mendapat izin polisi.

Pemrotes telah menyerukan pemogokan umum pada Senin tapi tidak jelas apakah mereka akan bisa mengumpulkan cukup anggota untuk menciptakan sejenis kelumpuhan transportasi yang disebabkan oleh pemogokan luas pada musim panas ini.