Ahli: Pria Lebih Stres Saat Istri Hasilkan Uang Lebih Banyak dari Suaminya

Liputan6.com, Jakarta - Sudah bukan rahasia lagi bahwa uang dalam hubungan asmara bisa menjadi sesuatu yang sulit dikelola. Malahan studi terbaru menunjukkan bahwa itu lebih komplek dari apa yang Anda pikirkan sebenarnya.

Ternyata, pria merasa stres apabila istrinya menyumbang lebih dari 40% dari pendapatan keluarga. Simpul kuat dari semua kegelisahan pria sebagai pencari nafkah adalah budaya maskulinitas, tapi masih ada sebab-sebab lainnya.

Semakin banyak ketergantungan ekonomi, semakin stres

Stres di kalangan pria meningkat ketika pacar atau istri mereka menyumbang lebih dari 40% pendapatan di rumah. Ini berdasarkan sebuah studi oleh University of Bath di Inggris sebagaimana dilaporkan oleh Bored Panda.

 

Selanjutnya

Pertengkaran dengan pasangan bisa dihindari jika kamu bisa menerapkan ini. (Foto: unsplash,com)

Hubungannya berbanding lurus: jika pria lebih bergantung secara ekonomi pada wanita, tingkat gangguan psikologis yang cenderung dideritanya juga lebih besar.

Kesimpulan itu dicapai setelah mengekstraksi dan menganalisis data dari studi lain yang dilakukan di Amerika Serikat yang mengikuti situasi lebih dari 6.000 pasangan heteroseksual, menikah, atau hidup bersama selama 15 tahun. Sementara tingkat stres dihitung berdasarkan perasaaan sedih, cemas, gelisah, putus asa, dan tak berharga.

 

Gagasan maskulinitas dan ketidakseimbangan kekuatan

Ilustrasi pasangan bertengkar./Copyright shutterstock.com

Salah satu hubungan ini terkait dengan kegigihan budaya patriarki di masyarakat.

"Dari generasi ke generasi, di banyak budaya, ada harapan bahwa laki-laki akan menjadi penyedia penghasilan utama dalam keluarga, dan maskulinitas sangat terkait untuk memenuhi harapan ini," kata Joanna Syrda, akademisi yang bertanggung jawab atas penelitian tersebut.

Penjelasan lainnya yakni masalah gender. Karena ini merujuk pada ketidakseimbangan kekuasaan yang dapat dihasilkan dalam hubungan apapun oleh salah satu mitra yang memiliki pendapatan ekonomi yang lebih tinggi.

Ketidakseimbangan ini biasanya juga berkaitan degnan keputusan pengeluaran sehari-hari dan tabungan, serta pada akhirnya akan membuat hubungan antara pasangan memburuk. Orang dengan penghasilan lebih rendah kemudian akan merasa lebih rentan secara finansial dan berpikir tentang perceraian atau perpisahan.

 

Setiap aturan memiliki pengecualian

Ilustrasi Foto Pertengkaran Suami Istri (iStockphoto)

Ada pengecualian untuk hubungan langsung antara stres pada pria dan kontribusi mereka terhadap ekonomi domestik pasangan ini. Pengecualian tersebut yakni bila si wanita sudah memiliki penghasilan lebih tinggi sebelum mereka menikah atau tinggal bersama.

Dalam hal ini, kesenjangan pendapatan yang ada dan potensial di masa depan sudah ditetapkan sebelumnya, dan itu dapat meringankan situasi.

"Seseorang tak akan memilih pasangannya secara sembarangan. Jadi jika wanita itu berpenghasilan lebih tinggi sebelum menikah, pria sudah mengetahui kesenjangan pendapatan tersebut dan mungkin telah berkompromi sehingga menjadi alasan untuk bermitra dengan mereka," kaya Syrda.

Rasio pendapatan adalah kuncinya

Ilustrasi Pertengkaran Suami Istri (iStockphoto)

Penelitian ini menemukan bahwa bagi pria, menjadi pencari nafkah tunggal dalam kelaurga juga menimbulkan stres, meski tidak sebanyak berada di posisi menjadi orang yang menyumbang lebih sedikit uang kepada pasangannya. Alasannya, dalam kasus ini, terkait dengan fakta bahwa tanggung jawab dan tekanan menyebabkan tingkat kecemesan dan kesulitan yang signifikan.

Oleh karena itu, ini adalah kesimpulan penting lainnya" laki-laki lebih bahagia ketika kedua pasangan berkontribusi secara finansial di rumah, tapi mereka tetap yang menjadi tumpuan keluarga. Proporsi yang ideal adalah untuk berkontribusi 60% dibandingkan dengan sekitar 40% dari para wanita, karena di luar itu akan menyebabkan masalah.