Ahmad Rifai, Pengacara yang Terjun Jadi Produser Film

Ichsan Suhendra
·Bacaan 2 menit

VIVA – Nama Ahmad Rifai akrab sebagai pengacara. Namanya mulai dikenal saat menjadi pengacara KPK. Sejak ia memegang kasus tersebut, istilah kriminalisasi dan Civak Vs Buaya jadi akrab di telinga publik.

Bukan hanya itu saja, Ahmad Rifai juga banyak memgang kasus para selebriti. Beberapa diantaranya Shinta Bachir saat mendapat ancaman pembunuhan, lalu ada kasus Charly Van Houten sampai almarhum Gatot Brajamusti.

Kini, Ahmad Rifai terjun di industri film Tanah Air. Ahmad Rifai menjadi orang yang di belakang layar produksi The Other Side. mengapa Rifai tertarik di dunis film?

Ahmad Rifai mengaku sebagai orang baru dalam dunia film. Berbagai tawaran sudah pernah datang kepadanya untuk menawarkan duduk di bangku Eksekutif Produser. Selama ini, Ahmad Rifai menolaknya. Adalah sosok Girry Pratama yang berhasil meyakinkannya.

"Mas Girry orangnya rasional ketika beri pandangan ke saya yang sebelumnya tidak ada di (industri) itu. Mas Girry berikan pendapat tentang industri perfilman saat ini, saat pandemi, mampu meyakinkan saya kita harus bergerak dan jangan pernah takut dengan pandemi," kata Ahmad Rifai saat ditemui baru-baru ini di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Ahmad Rifai kemudian memproduseri film The Other Side. Film tersebut diangkat dari Wattpad karya Alya Rianti dan telah dibaca lebih dari 18 juta kali. Film itu baru akan memasuki tahap produksi awal.

The Other Side bercerita mengenai kehidupan remaja bernama Alea yang pindah dari Bandung ke Jakarta karena ingin melupakan manntannya bernama Reynard. hubungan Alea dan Reynard berakhir karena perselingkuhan. Alea mulai menjalani kehidupan baru dan masalah mulai berdatangan.

Selain karena cerita yang menarik dan sudah memiliki penggemar, Ahmad Rifai memiliki alasan lain mau terjun ke industri film. Ia ingin menghilangkan monopoli yang saat ini masih terasa.

"Film anak bangsa hanya melalui 1 gerbang, ini tidak boleh, persaingan bebas tidak boleh monopoli, membatasi karena adanya kemampuan yang lebih. Saya ingin bantu wujudkan perfilam Indonesia tidak harus dimonopoli," ujarnya.