Ahmadinejad: AS Takut pada yang Iran Punya

Liputan6,com, Caracas: Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, membela program nuklir negaranya saat memulai kunjungan keempat negara Amerika Latin. Saat bertemu Presiden Venezuela, Hugo Chavez, ia menilai sanksi Amerika Serikat yang dijatuhkan pada Iran menjadi bukti bila negara tersebut takut terhadap apa yang dimiliki negeri Khomeini ini.

"Sudah jelas kalau mereka (Amerika Serikat) itu takut pada apa yang kita (Iran) kembangkan," kata Ahmadinejad. Selain itu, Ahmadinejad juga menuding AS dan sekutunya tak adil dalam memutuskan sanksi Iran.

Laman arabnews,com, Rabu (11/1), mewartakan, kedua pemimpin ini menepis kekhawatiran AS tentang niat Iran di Timur Tengah, dan hubungan diplomatik Chavez dan sekutu-sekutunya di Amerika Latin. "Mereka menuduh kami sebagai penghasut perang," ucap Chavez.

Kunjungan Ahmadinejad dinilai sebagai langkah diplomasi ke beberapa teman dekatnya, tak lama setelah AS menjatuhkan sanksi lebih keras terhadap Iran atas program nuklirnya. Sanksi ini diberikan Washington setelah percaya program nuklir Iran akan dikembangkan untuk senjata atom.

Namun, Chavez dan sekutu Iran kembali menegaskan program ini murni untuk tujuan damai. Chavez menuduh AS dan sekutu Eropa yang mengutuk Iran telah menggunakan klaim palsu tentang masalah nuklir. "Mereka menggunakan alasan senjata pemusnah massal untuk melakukan apa yang mereka lakukan di Irak," ujar Chavez.

Ahmadinejad menolak tuduhan program nuklir Iran secara umum. "Mereka mengatakan kami membuat bom," kata pemimpin Iran itu melalui seorang penerjemah. "Untungnya, sebagian besar negara Amerika Latin tahu kata-kata itu adalah lelucon. Ini adalah sesuatu yang patut ditertawakan."

Dalam pertemuan dengan Chavez, kedua pemimpin itu bergurau jika mereka kelak akan bersama-sama membangun sesuatu seperti bom. "Dan bahan bakar dari bom adalah cinta," tutur Ahmadinnejad. Chavez pun membalasnya dengan tema yang sama. Ia mengatakan Iran telah membantu memproduksi sebuah "sepeda atom" di sebuah pabrik di negaranya.

Selanjutnya, pemimpin Venezuela itu menyatakan bila Iran telah membantu negaranya dengan membangun 14 ribu rumah serta pabrik produksi makanan, kendaraan alat berat, dan kendaraan lainnya. Pejabat kedua negara ini telah menandatangai dua perjanjian

kerjasama industri dan pelatihan kerja.

Beberapa pekan terakhir, Iran telah mengalami tekanan yang meningkat seiring kebuntuan atas program nuklirnya. Sebagai respon terhadap sanksi terbaru AS, negeri Khomaeni ini telah mengancam akan memblokade Selat Hormuz, sebuah rute transit penting bagi pengiriman kapal tanker minyak dunia.

Badan nuklir PBB pada Senin lalu menegaskan, Iran telah mulai mengayakan uranium di sebuah bunker bawah tanah ke level yang lebih tinggi untuk digunakan dalam senjata nuklir dibanding persediaan kebutuhan negara. Pembangunan itu telah meningkatkan kekhawatiran pejabat AS dan Eropa tentang ambisi nuklir Iran.

"Selain menyuarakan kritik terhadap AS, dalam kunjungan tersebut, Ahmadinejad berusaha mencari cara mengurangi dampak sanksi terhadap industri minyak Iran," kata Diego Moya-Ocampos, analis Insight konsultan IHS Perusahaan Global London.

Namun, Moya meramalkan Venezuela akan sangat waspada untuk tidak mendorong hubungan Iran di luar batas toleransi AS," Agar tidak kena risiko lebih tinggi AS," tuturnya.

Tahun lalu, AS menerapkan sanksi terhadap perusahaan minyak negara Petroleos de Venezuela SA untuk memberikan setidaknya dua kargo produk minyak ke Iran. Menteri Perminyakan Venezuela Rafael Ramirez mengatakan kepada wartawan, pihaknya belum membuat perjanjian terkait minyak dengan Iran.

Saat ditanya tentang sanksi terhadap Iran dan ancaman memblokir Selat Hormuz, Ramirez mengatakan OPEC milik kedua negara, tidak bisa terlibat dalam masalah ini. "Setiap tindakan yang diambil untuk membela kedaulatan adalah masalah Iran," kata Ramirez.(BOG)