Ahmadiyah: Massa Intoleran di Balik Penyegelan

TEMPO.CO , Jakarta:Jemaah Ahmadiyah menuding tindakan Pemerintah Kota Bekasi menyegel tempat peribadatannya karena ditunggangi massa intoleran. "Pemerintah seharusnya melindungi, bukan menzalimi kami," ujar Kepala Keamanan Nasional Ahmadiyah, Deden Sudjana, Kamis 4 April 2013.

Menurut dia, pemerintah mempermasalahkan aktifitas beribadah jamaah Ahmadiyah beberapa tahun terakhir. Deden mensinyalir adanya unsur politis dari pihak tertentu ataupun massa intoleran yang mempermasalahkan aktivitas jamaah setempat.

Deden mengatakan, Pemerintah Kota Bekasi maupun masyarakat tidak pernah mempersoalkan aktivitas Ahmadiyah, sedari Masjid Al Misbah berdiri dan menjadi tempat peribadatan jamaah Ahmadiyah pada 1992. "Gejolak mulai muncul ketika ajaran kami diklaim sesat saat kasus Cikeusik, Banten. Padahal kami Islam," katanya.

Karena itu, Deden berharap, agar pemerintah daerah membuka mata dan bisa melihat peribadatan Ahmadiyah. Bukan semata-mata melarang aktivitas dari segi hukum dan Surat Keputusan Bersama 3 Menteri.

Pemerintah Kota Bekasi kembali menyegel secara permanen Masjid Al Misbah, yang merupakan tempat peribadatan jamaah Ahmadiyah, di Jalan Pangrango Terusan Rt 01 Rw 04, Nomor 44 Kelurahan Jatibening Baru Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Kamis petang, sekitar pukul 19.05 WIB.

Eksekusi penyegelan pun dilakukan puluhan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bekasi. Itu dengan pemagaran seng besi ukuran 2x1 meter yang melingkari seluruh bangunan. Menurut Yayan, ini merupakan penyegelan kali keempat setelah sebelumnya dilakukan pada akhir 2011, dan tiga kali pada awal tahun ini.

MUHAMMAD GHUFRON

Topik Terhangat: 

EDISI KHUSUS Guru Spiritual Selebritas || Serangan Penjara Sleman|| Harta Djoko Susilo|| Nasib Anas

Berita Terkait

Komnas HAM Tegur Wali Kota Bekasi Soal Ahmadiyah

Ahmadiyah di Bekasi Kembali Dipermasalahkan

Perusak Masjid Ahmadiyah Divonis 3,5 Bulan 

KY: Hakim Penolak Ahmadiyah Langgar Kode Etik 

Perusak Masjid Ahmadiyah Dituntut 4 Bulan Penjara  

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.