AHY Bahas Ancaman Demokrasi dengan Ketum PP Muhammadiyah

Fikri Halim, Cahyo Edi (Yogyakarta)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersilaturahmi dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Pertemuan dua tokoh ini digelar di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu 3 April 2021 siang.

Kehadiran AHY ke Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta ini didampingi oleh Sekjen DPP Partai Demokrat Teuku Riefky Rasya dan Ketua DPD Partai Demokrat DIY Heri Sebayang.

Sedangkan Haedar Nashir didampingi oleh Sekjen PP Muhammadiyah Agung Danarto dan hadir secara virtual, mantan Ketua Umum Muhammadiyah Buya Syafii Maarif saat menemui AHY dan rombongan.

Usai pertemuan, AHY enggan membahas mengenai langkah konsolidasi politik usai Kemenkumham mengeluarkan putusannya. AHY juga enggan menanggapi tentang Moeldoko dan KLB nya.

"Untuk berita politik praktis di lain (hari) saja. Saya menghormati betul kantor PP Muhammadiyah yang harus kita jaga. Jangan sampai seolah-olah masuk ke wilayah politik praktis," tegas AHY.

AHY menyebut dalam pertemuannya dengan Haedar Nashir ada 4 pembahasan terkait isu-isu kebangsaan. Pertama, kaitan dengan ancaman demokrasi.

"Kita tahu ujian dan tantangan demokrasi akan terus kita hadapi. Juga termasuk di masa pandemi ini. Ke depannya kita berharap bisa merawat demokrasi dalam semangat berpijak pada konstitusi yang berlaku," ungkap AHY.

Putra sulung Presiden RI keenam ini menerangkan pembahasan kedua adalah Pancasila sebagai dasar negara sudah menjadi keputusan bangsa dan harus terus dijaga dan diterapkan sebenar-benarnya. Pancasila tidak menjadi pelabelan oleh kelompok tertentu untuk menggebuk kelompok lainnya.

"Jangan kita mudah menyuarakan Pancasila, padahal kita tidak menerapkan itu sejatinya nilai-nilainya kita berharap pancasila jangan menjadi pelabelan saja. Satu kelompok melawan kelompok yang lain," tutur AHY.

Alumnus Akademi Militer ini menyebut Pancasila menjadi melting pot, menjadi konsensus bersama untuk menampung segala perbedaan dan keberagaman di Indonesia.

Ketiga, sambung AHY, diskusi mengenai nilai-nilai keagamaan dan etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Kita ingin Indonesia juga terus luhur dan jati dirinya terjaga sampai kapanpun. Walaupun kita tahu di tengah-tengah perkembangan zaman dengan teknologi yang luar biasa, politik yang berdasar pada kebohongan-kebohongan diulang-ulang kemudian sangat mudah diyakini menjadi kebenaran yang baru dan menghasut masyarakat kita," terang AHY.

"Ini bahaya dan memecah belah. Tentunya kita harus melawan bersama. Kita tidak boleh terjebak pada hoaks politik yang menghalalkan segala cara," imbuh suami Annisa Pohan ini.

Keempat, pihaknya bersama PP Muhammadiyah sepakat Indonesia negara yang majemuk, tentu harus utuh selamanya. Jangan sampai seperti beberapa negara di belahan dunia yang pernah menjadi negara besar kemudian runtuh berkeping-keping.

"Perseteruan antar kelompok dan pertentangan antar identitas itu harus kita cegah. Buangan sampai menjadi benih-benih konflik yang berakibat pada perpecahan di Indonesia," kata AHY.