Ahyudin soal Dugaan Kasus Penyelewengan Dana Korban Lion Air: Boeing Tak Komplain

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin angkat bicara terkait naiknya kasus ke tahap penyidikan oleh Bareskrim Polri terkait dugaan penyelewengan dana bantuan korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang diberikan pihak Boeing.

"Ya, saya kira tanggapannya baik saja," kata Ahyudin saat ditemui wartawan usai pemeriksaan di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (11/7).

Kendati demikian, Ahyudin menyampaikan kasus dugaan penyelewengan telah dinaikan ke tahap penyidikan. Namun tidak ada satu pun komplain dari pihak Boeing selaku pemberi bantuan.

"Toh juga mengikuti aja, gak ada juga Boeing komplain kan gak ada lah. Belum ada pelaporan dari Boeing bahwa program ini bermasalah gak ada," ujarnya.

Meski begitu, Ahyudin mengklaim bahwa program kerjasama antara Boeing dengan ACT sampai dengan dia menjabat pada 11 Januari 2022 sebagai Presiden telah terealisasi sebesar 75%.

"Tebakan saya sih di atas 75 persen lah. Saya yakin sampai Januari tanggal 11 saja kalau tidak salah sudah 70 persen. Ada sarana pendidikan, madrasah, masjid mushola gitu lah cukup ya," kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Kuasa Hukum Mantan Presiden ACT Ahyudin, Teuku Pupun Zulkifli menjelaskan bahwa konteks kerjasama penyaluran bantuan yang dilakukan Boeing dengan ACT adalah bantuan kerjasama, bukan selayaknya asuransi.

"Bukan dalam konteks seperti asuransi. Jangan dipahami seperti itu. Disini adalah konteks kerjasama program yang di kerjasama antara Boeing dengan ACT. Jadi tolong dipahami semua jadi ini bukan program bukan konteks asuransi sebagaimana asumsi persangkaan lainnya," tuturnya.

Naik Penyidikan

Sebelumnya, Bareskrim Polri memutuskan naikan status kasus dugaan penyelewengan dana bantuan korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang melibatkan yayasan amal Aksi Cepat Tanggap (ACT) dari penyelidikan ke penyidikan.

"Update kasus penyelewengan dana Yayasan ACT. Perkara ditingkatkan dari penyelidikan menjadi penyidikan," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan dalam keterangannya, Senin, (11/7).

Meski telah dinaikan ke tahap penyidikan yang artinya telah memiliki bukti permulaan tindak pidana yang cukup, namun pihak kepolisian belum mengumumkan tersangka dalam kasus tersebut.

Adapun peningkatan status kasus ini ke penyidikan berdasarkan hasil gelar perkara. Penyelidik meyakini ada pelanggaran tindak pidana dalam kasus dugaan penyelewengan dana ini.

Sebelumnya, Bareskrim Polri bakal melakukan gelar perkara terkait kasus dugaan penyelewengan dana donasi korban kecelakaan Lion Air JT-610 dari pihak Boeing yang dikelola Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Gelar dilakukan guna menentukan adakah unsur pidana dalam kasus tersebut.

"Akan direncanakan gelar perkara untuk menentukan apakah sudah cukup atau tidak untuk menaikkan status perkara ke penyidikan," kata (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Nurul Azizah saat jumpa pers, Senin (11/7).

Nurul mengatakan, rencana gelar perkara bakal dilakukan setelah penyidik merampungkan pemeriksaan terhadap empat orang saksi yakni, Eks Presiden ACT, Ahyudin dan Presiden ACT Ibnu Khajar serta dua saksi lainnya yaitu manajer operasional dan bagian tim pengelola keuangan.

"Terkait dengan perkembangan penyalahgunaan dana ACT sampai saat ini ada empat saksi yang telah dimintai keterangannya," sebut Nurul.

Terkhusus untuk mendalami aliran dana, kata Nurul, penyidik juga akan melibatkan tim audit guna melacak sumber keuangan ACT yang diterima pihak Boeing kepada 68 orang korban ahli waris kecelakaan Lion Air JT-610.

"Pengelolaan dana CSR kepada 68 ahli waris korban kecelakaan Pesawat Lion Air Boeing JT610 yang terjadi pada tanggal 18 Oktober 2018 senilai Rp2 miliar lebih untuk tiap korbannya dengan total Rp138 miliar," sebutnya. [ded]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel