Aiptu Jailani pun tolak uang pelicin saat uji praktik SIM

MERDEKA.COM. Anggota Satlantas Polres Gresik, Jawa Timur, Aiptu Jailani, tidak hanya dikenal sebagai polisi yang suka nilang di Kota Pudak, julukan Gresik, tapi dia jua dikenal sebagai penguji praktik uji Surat Izin Mengemudi (SIM).

Seperti surat tilangnya yang tak kenal kompromi, sosok Jailani juga dikenal 'angker' saat melakukan praktik uji SIM C. Bagaimana tidak? Tak sedikit pemohon SIM C berguguran dan pulang dengan perasaan dongkol, karena terpaksa harus mengulang tes berkendara.

Jika pagi hingga siang, kecuali hari libur, setiap hari, Jailani selalu berada di kantor Satlantas Polres Gresik di Jalan Randu Agung, untuk melaksanakan tugasnya sebagai penguji praktik uji SIM C.

Di tempat praktik uji SIM, merupakan salah satu 'lahan basah' di kesatuan lalu lintas, selain surat tilang. Karena praktek 86 alias lewat jalur belakang, kerap terjadi di tempat ini. Bagi masyarakat yang tak ingin repot mengurus SIM baru, mulai tes tulis hingga praktik mengendarai motor, selalu ingin lewat jalur 'patas', jika biaya normal hanya sekitar Rp 150 ribu, untuk jalur belakang bisa mencapai Rp 200-300 ribu, tergantung loby.

Namun, kesempatan menggiurkan ini, tak pernah bisa menggoda iman Jailani untuk tetap berada di jalur kejujuran. Padahal, kalau peserta praktik uji SIM C di Satlantas Polres Gresik, rata-rata mencapai 10 orang perhari (pagi hingga siang), maka bapak dari Nilam AW (15) dan M Karim (13) ini, mampu meraup keuntungan dari jalur belakang sekitar Rp 500 ribu perhari, dengan rincian Rp 50 ribu x 10 orang.

Keuntungan ini, belum didapat dari tilang di tempat dari pengendara yang melanggar lalu lintas. Setiap hari, suami dari Rahmawati ini bisa membawa pulang Rp 1 juta di luar gaji pokok dia per bulan.

Jika demikian, kenapa banyak warga, peserta praktik uji SIM C yang mengeluh, sering tidak lulus saat mengikuti praktik uji SIM C. Wajar, karena Jailani dengan tegas menyatakan antisuap. Jika tidak lulus melintasi perlintasan putaran angka 8, ya gugur dan harus mengulang, tidak ada jalur belakang.

Seperti yang tampak di lokasi praktik uji SIM C di Satlantas Polres Gresik setiap harinya. Aiptu Jailani selalu tampil sebagai penguji. "Pelat nomor jangan ada rekayasa, ban jangan ada yang dikecilkan. Lihat itu, pelat nomor seperti itu sudah saya pasang sejak delapan tahun silam. Bagi yang melanggar akan saya tilang," kata Jailani memberi arahan sembari menunjuk enam jenis pelat nomor rekayasa yang tertempel pada body belakang mobil boks milik Satlantas Polres Gresik

Selanjutnya, Jailani memberi perintah pada enam peserta praktik uji SIM C untuk melintasi jalur angka delapan, kelok-an, jalur lurus dan bergelombang. Sebelumnya, suami Rahmawati itu memberikan contoh terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan aksi para peserta.

Peserta pertama lulus mengikuti ujian. Namun, peserta kedua gugur karena menggunakan kendaraan Honda Beat berpelat nomor rekayasa, sementara nomor urut tiga juga lulus, karena mampu melalui rintangan.

Putri Hinaya, segera ke tepi karena kendaraan kamu menggunakan pelat nomor rekaya. "Tidak boleh ada pelat nomor seperti itu di jalan. Karena akan segera di tindak," teriak Jailani kepada peserta nomor urut dua.

Peserta keempat, kelima dan enam, juga gugur secara bergantian. Sehingga hanya dua peserta yang dinyatakan berhasil pada praktik uji SIM C pada gelombang terkhir, yaitu sekitar pukul 10.30 hingga 11.00 WIB.

"Saya sudah ikut ujian dua kali berturut-turut tapi nggak lulus-lulus. Saya minta tolong dong mas, berapa-pun harganya saya bayar asal saya bisa dapat SIM C. Sampeyan (Anda) calo SIM di sini kan?," tanya Nurul, seorang peserta uji SIM C yang mengira merdeka.com sebagai calo SIM C, karena melihat baru saja mengobrol santai dengan Jailani seusai bertugas.

"Waduh, maaf mas, saya kira mas ini calo, ternyata wartawan ya. Tadi habis wawancara sama Pak Jailani ternyata. Waduh, iya ini mas, saya pengen dapat SIM C, tapi yang nguji Pak Jailani, sulitnya minta ampun. Nggak lulus-lulus," keluh perempuan berkerudung tersebut sembari meninggalkan merdeka.com dengan wajah malu.

Warga Gresik yang lain, juga mengeluhkan hal yang sama seperti Nurul. "Setahun lalu, saudara saya ngurus SIM C, yang nguji Jailani, diulang beberapa kali masih nggak lulus-lulus, akhirnya samapai sekarang belum punya SIM C. Ampun deh itu Jailani, sulit banget kalau kalau berhadapan sama dia," keluh Widya, perawat RS Semen Gresik menceritakan kisah sepupunya yang gagal mendapat SIM C.

Jailani ini, kata juru parkir di lingkungan Satlantas Polres Gresik, polisi paling adil yang antisuap. "Selama Jailani bertugas di sini, jangan harap bisa punya SIM tanpa melalui praktik uji SIM, kalau gagal ya gagal, tak ada uang pelicin," katanya.

Tidak percaya ketegasan, kedisiplinan dan kejujuran Jailani? Silakan mencoba berhadapan dengan polisi kelahiran Jombang 44 tahun silam tersebut. Silakan datang ke kantor Satlantas Polres Gresik kalau pagi hari, atau ke beberapa tempat yang sering dia jaga setelah bertugas di bagian praktik uji SM C.

Beberapa tempat di Gresik yang sering dijaga Jailani, di antaranya Perempatan Sentolan,
Perempatan Kebomas, Perlimaan Petrokimia, dan beberapa tempat lain. "Silakan sampeyan berpura-pura kena tilang. Anda pasti tahu polisi seperti apa Jailani, jujur atau tidak silahkan dibuktikan sendiri. Setelah mendapat tilang, sampeyan coba singgah di warung kopi dekat tempat sampeyan ditilang, pasti orang yang di situ bilang: mas-mas jangankan sampeyan, istrinya sendiri saja ditilang," dongeng juru parkir tersebut.

Dia juga mengatakan, untuk mencari Jailani sangat mudah, cukup mencari motor Yamaha Vega warna putih bertuliskan: Praktik Uji SIM, di beberapa titik biasa Jailani ngepos.

"Di sini tidak ada lagi polisi yang memakai motor Vega putih kecuali Jailani, kalau melihat motor itu, yaitu motor Jailani dan dia pasti ada di situ," tandas juru parkir berusia 50 tahun tersebut.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.