Airbnb Pertimbangkan Pembayaran Pakai Aset Kripto

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - CEO Airbnb, Brian Chesky, belum lama ini bertanya melalui akun Twitter pribadinya mengenai apa saja kira-kira yang akan Airbnb luncurkan pada 2022.

Dilansir dari Bitcoin.com, Jumat (7/1/2022), Chesky mengungkapkan menerima 4.000 saran, mencatat yang paling populer adalah agar perusahaannya menerima pembayaran menggunakan aset kripto.

Saran teratas lainnya adalah untuk tampilan harga yang jelas, program loyalitas tamu, biaya pembersihan yang diperbarui, masa inap dan diskon yang lebih lama, layanan pelanggan yang lebih baik, dan ruang komersial.

Hingga saat ini, opsi pembayaran yang ditawarkan Airbnb di sebagian besar negara adalah Visa, Mastercard, Amex, JCB, dan “kartu debit yang dapat diproses sebagai kartu kredit.” Apple Pay, Google Pay, dan Paypal. Namun, cryptocurrency sampai saat ini belum menjadi opsi pembayaran di Airbnb.

“Kami pasti sedang menyelidikinya, seperti revolusi dalam perjalanan, jelas ada revolusi yang terjadi di kripto,” kata Chesky saat ditanya apakah Airbnb sedang mempertimbangkan untuk menerima cryptocurrency sebagai pembayaran.

Memperhatikan Pendiri dari Coinbase adalah karyawan awal, Chesky mengungkapkan, “Kami telah mengikuti ruang tersebut untuk waktu yang cukup lama.”

Airbnb mengoperasikan pasar online di industri perjalanan. Berdasarkan data dari situs resminya, saat ini ada lebih dari 5,6 juta mitra di seluruh dunia. Sejak diluncurkan pada 2007, Airbnb telah melayani lebih dari 1 miliar pelanggan dan lebih dari 4 juta tuan rumah yang telah mendaftarkan properti mereka di platform.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Harga Bitcoin Turun ke Level Terendah dalam 3 Bulan Terakhir

Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay
Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay

Sebelumnya, harga Bitcoin terus melemah setelah rilis dari pertemuan the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS) pada Desember 2021 yang dilakukan pada awal pekan ini mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan yang lebih cepat.

Dilansir dari Yahoo Finance, Jumat, 7 Januari 2022, harga Bitcoin turun menjadi USD 41.012 atau setara Rp 588 juta (asumsi kurs Rp 14.354 per dolar Amerika) pada Jumat pekan ini. Hal tersebut merupakan level terendah sejak 29 September berdasarkan data dari CoinDesk.

Pakar ETF dan direktur CEC Capital, Laurent Kssis mengatakan sekitar USD 200 juta atau sekitar Rp 2,86 triliun Bitcoin yang berada dalam posisi beli telah dilikuidasi dalam beberapa jam terakhir yang mendorong harga spot lebih rendah.

Kssis menambahkan, leverage tetap tinggi dan penurunan lebih lanjut di bawah USD 40.000 mungkin terjadi, terlebih lagi jika imbal hasil obligasi terus meningkat karena sikap hawkish dari the Fed.

Rencana the Fed untuk mengecilkan neraca dan menaikkan suku bunga secara bersamaan dapat menyebabkan deflasi harga aset yang berkepanjangan.

"Jadi jika The Fed membiarkan harga ekuitas turun, itu akan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah karena ketika harga obligasi turun, imbal hasil naik! Itu bisa memicu lebih banyak penjualan di BTC, ” kata Kssis.

Menurut Brent Donnelly, Presiden di Spectra Markets, kripto dalam beberapa bulan terakhir akan tetap bearish karena rencana Fed dipercepat.

Beberapa pengamat lainnya mengatakan ketakutan akan pasar bearish yang berkepanjangan dalam saham dan aset digital mungkin terlalu berlebihan karena secara historis pasar akan tetap tangguh selama siklus pengetatan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel