Airlangga dorong RI jadi hub produksi vaksin mRNA lewat Presidensi G20

·Bacaan 2 menit

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong Indonesia untuk menjadi hub atau pusat produksi vaksin berbasis mRNA melalui gelaran Presidensi G20 RI sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

“Bapak Presiden melihat arsitektur kesehatan global, terutama untuk mendorong ASEAN termasuk Indonesia agar menjadi hub untuk produksi vaksin berbasis mRNA,” kata Menko Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa.

Menko Airlangga menuturkan jika Indonesia menjadi hub produksi vaksin berbasis mRNA, maka ditargetkan setiap negara dengan jumlah populasi 100 juta akan mempunyai minimal satu pusat produksi vaksin.

“Dan tentu ada kaitannya dengan hub intelektual terhadap vaksin tersebut yang perlu dikerjasamakan secara global,” ujar Menko Airlangga Hartarto.

Hal ini sejalan dengan gelaran Presidensi G20 RI yang berupaya untuk menghasilkan hasil lebih konkret termasuk terkait penanganan pandemi COVID-19.

Menurutnya, Presidensi G20 RI merupakan kesempatan Indonesia leadership di tingkat global dalam menjawab berbagai tantangan yang ada.

Baca juga: Airlangga: Vaksinasi ke-2 ditargetkan capai 41,8 persen di akhir tahun

Perhatian pemerintah melalui gelaran Presidensi G20 RI berfokus pada pemulihan yang bersifat inklusif, berdaya tahan, dan berkesinambungan.

Pemulihan tersebut termasuk terkait pemerataan akses vaksin bagi seluruh negara baik maju, berkembang dan miskin sesuai dengan tema Presidensi G20 RI yaitu Recover Together, Recover Stronger.

Menko Airlangga menegaskan permasalahan terkait vaksinasi harus segera diselesaikan karena ketimpangan akses terhadap vaksin akan menimbulkan masalah baru seperti kemunculan varian baru Omicron.

Ia menjelaskan varian Omicron muncul dari Afrika Selatan yang memiliki vaksinasi rate hanya 24 persen sedangkan seluruh Benua Afrika rata-data baru 7 persen. Pandemi yang tidak selesai, kata dia, termasuk adanya kemunculan varian Omicron akan menekan kehidupan masyarakat dan mengganggu pemulihan ekonomi.

“Kita melihat pembukaan ekonomi masih sangat tergantung pada bagaimana kita menangani pandemi, termasuk varian baru, dan bagaimana tidak panik menghadapi varian baru tersebut,” ujar Menko Airlangga Hartarto.

Dalam hal ini ia menyatakan kolaborasi di tingkat global sangat diperlukan, termasuk melalui G20, sehingga dapat dihasilkan langkah-langkah terobosan yang lebih kuat dan konkret. “Selama ini kita menghadapi secara individual,” ujarnya.

Baca juga: Kemenkes: Indonesia akan buktikan kemampuan tangani COVID-19 di G20

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel