Airlangga Harap Momen Isra Miraj Tingkatkan Persatuan Saat Pandemi

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan peringatan Isra Miraj 1442 H harus jadi momentum merawat keyakinan umat kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Airlangga mengatakan perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menuju langit ke tujuh sebagai peristiwa penting yang mengingatkan umat Islam tentang keyakinan.

Dia mengatakan perjalanan yang dilakukan Rasulullah itu tak terhitung jaraknya. Namun, bisa ditempuh dalam waktu satu malam.

Airlangga bilang, tanpa iman orang tak akan percaya momen penting perjalanan Nabi Muhammad SAW tersebut. Perjalanan itu penting sebagai keyakinan umat muslim karena Rasulullah saat itu mendapat perintah-Nya untuk menunaikan salat lima waktu.

"Bayangkan, di era sekarang saja, hal itu tidak bisa dijangkau dengan teknologi. Bagaimana dengan zaman Nabi Muhammad SAW dahulu. Tanpa iman, tak ada yang akan percaya pada cerita peristiwa Isra Miraj," kata Airlangga, dalam keterangan resminya, 13 Maret 2021.

Menurut dia, peristiwa penting perjalanan Rasulullah tersebut memberi keyakinan untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Terkait itu, sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, Airlangga mengharapkan momen Isra Miraj jadi pengingat seluruh umat muslim di Tanah Air untuk saling percaya antar sesama.

“Semoga hikmah Isra Miraj masyarakat saling merawat kepercayaan, sehingga terus terjaga persatuan di antara umat beragama, kerukunan yang semakin erat dalam bermasyarakat dan bernegara,” jelas Airlangga yang juga Ketua Umum Golkar tersebut.

Kemudian, dia menambahkan, persatuan dan rasa saling percaya dibutuhkan saat pandemi COVID-19 yang sudah setahun lebih melanda Indonesia. Ia menekankan, pentingnya masyarakat agar terus aktif berpartisipasi membantu pemerintah dalam upaya penanganan pandemi.

“Patuh protokol kesehatan, disiplin 3M, berpartisipasi dalam program vaksinasi nasional, serta disiplin mengikuti aturan PPKM," lanjut Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) itu.

Dari catatan KPC-PEN, ia menyampaikan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berhasil menurunkan tren kasus positif di Indonesia. Kata dia, data per Rabu, 10 Maret 2021, sebuah rekor kasus positivity rate yang hanya mencatatkan angka 9,14 persen. Padahal, terakhir catatan positivity rate di bawah 10 persen terjadi pada 13 Oktober 2020 dengan 9,76 persen.

Merujuk data positivity rate, jumlah penambahan kasus positif di Indonesia kemarin sebanyak 5.633 orang dari 93.016 pemeriksaan spesimen terhadap 61.625 orang.

“Jika kondisi ini terus berlanjut, didukung kerja sama seluruh masyarakat disiplin protokol kesehatan dan penerapan PPKM yang ketat di tiap wilayah, Indonesia dapat segera keluar dari pandemi COVID-19,” ujar Airlangga.