Airlangga: Pelemahan terdalam di kuartal II, kini ekonomi siap pulih

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 1 menit

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perlambatan terdalam untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah terjadi di kuartal II 2020, sehingga di kuartal III dan kuartal IV 2020 perekonomian domestik diyakini sudah memasuki tahap pemulihan.

Airlangga, dalam diskusi virtual "Peta Jalan Ekonomi" di Jakarta, Sabtu, memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik di kuartal III 2020 akan tumbuh di kisaran -3 persen hingga 0 persen.

Meski dia memperkirakan perekonomian di kuartal III masih terkontraksi, namun proyeksinya jauh lebih baik dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 yang sebesar -5,3 persen.

“215 negara banyak yang mengalami resesi, bagaimana Indonesia ? Kita lihat Indonesia sudah masuk bottom-nya (dasar perlambatan) di kuartal II. Kenapa ? kita berharap di kuartal III lebih baik ya mungkin dari -3 sampai 0 persen,” ujar Airlangga.

Baca juga: Pertumbuhan ekonomi RI tercatat lebih baik di antara negara G20

Airlangga mengatakan laju pemulihan perekonomian sudah terlihat, dengan berbagai indikator seperti realisasi pertumbuhan investasi yang sebesar 1,7 persen atau Rp616,6 triliun periode Januari-September 2020, dan juga kinerja ekspor-impor yang secara kumulatif tahun berjalan masih mencetak surplus. Di September 2020, neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus 2,44 miliar dolar AS.

Namun Airlangga mengakui terdapat kendala terkait tertahannya permintaan (demand) masyarakat, yang menyebabkan masih melambatnya konsumsi masyarakat. Padahal pengeluaran konsumsi domestik memegang peranan hingga 59 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Baca juga: Sri Mulyani: Revisi proyeksi IMF dan OECD tunjukkan ada pemulihan

Maka dari itu, ujar dia, pemerintah terus mempercepat realisasi anggaran perlindungan sosial yang secara kumulatif sebesar Rp203,9 triliun pada 2020 dari total anggaran penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional sebesar Rp695,2 triliun.

“Maka itu, demand side yang belum penuh kembali, perlu didorong perlindungan sosial,” ujar dia.