Link Aja dan Zenius PHK Karyawan, Ada Fenomena Apa di Bisnis Startup?

Merdeka.com - Merdeka.com - Tahun ini barangkali menjadi fase 'seleksi alam' perusahaan-perusahaan rintisan digital. Mengapa begitu? Kabar mengejutkan datang dari Link Aja. Perusahaan fintech besutan 10 BUMN ini harus rela memangkas karyawan. Konon jumlahnya ratusan. Isu mengenai pemangkasan karyawan ini pun dibenarkan Head of Corporate Secretary Group LinkAja Reka Sadewo.

"Penyesuaian organisasi SDM ini dilakukan atas dasar relevansi fungsi SDM tersebut pada kebutuhan dan fokus bisnis perusahaan saat ini. Penyesuaian yang dilakukan tentunya mempertimbangkan dengan matang kepentingan seluruh stakeholder perusahaan, termasuk para karyawan. Tentunya perencanaan tersebut juga akan mengikuti dan mematuhi aturan dan regulasi yang telah digariskan oleh Pemerintah dan mematuhi prinsip-prinisip Good Corporate Governance," kata dia.

Tak selang lama, berhembus kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) dari startup Zenius. Tak tanggung-tanggung, 200 orang karyawan harus dirumahkan. Dalam pernyataan resminya, langkah ini dilakukan lantaran kondisi makro ekonomi yang memburuk beberapa dekade terakhir. Maka itu, Zenius mau tak mau harus beradaptasi agar tetap survive.

"Karyawan yang menjadi bagian dari kebijakan ini akan mendapatkan pesangon sesuai dengan Peraturan dan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia," tulis keterangan Zenius.

Selain itu, perusahaan akan melanjutkan manfaat asuransi kesehatan bagi karyawan hingga 30 September 2022, termasuk untuk anggota keluarga. Perusahaan besutan Sabda PS dkk ini, juga memperpanjang layanan konseling kesehatan dengan konsultan pihak ketiga hingga 30 September 2022.

Boleh dibilang, kedua perusahaan rintisan digital itu termasuk startup yang dilirik oleh investor. Di tahun 2020 dan 2021, Link Aja mendapat guyuran investasi dari Grab dan Gojek. Pada 2021, Gojek masuk dalam putaran pendanaan Seri B LinkAja yang sudah mengumpulkan dana US$100 juta lebih.

Begitu juga dengan Zenius. Pada Maret lalu, Zenius telah mendapatkan suntikan dana dari MDI Ventures. Sebelumnya, Zenius memperoleh pendanaan dari Northstar Group, Alpha JWC, Openspace Ventures, dan Beacon Venture Capital. Secara akumulatif, nilainya mencapai Rp 575 miliar.

Seleksi Alam

Bhima Yudistira, Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menerangkan fenomena yang terjadi pada industri startup Tanah Air. Menurutnya, beberapa startup alami kesulitan pendanaan setelah rencana bisnis terpengaruh oleh pandemi dan penurunan user secara signifikan.

"Sebenarnya selama pandemi ada lonjakan pelanggan internet tapi tidak semua merata dirasakan oleh startup," kata dia kepada Merdeka.com, Kamis (26/5).

Faktornya, lanjut dia, secara makro kenaikan tingkat suku bunga di berbagai negara membuat investor mencari aset yang lebih aman. Imbasnya saham startup teknologi dianggap high risk. Maka banyak yang meramal tahun ini adalah winter-nya startup, alias tekanan sell-off besar-besaran di industri digital.

"Apakah ini hanya temporer, yang jelas banyak startup kesulitan mendapatkan pendanaan baru dan investor makin selektif dalam memilih startup," ungkapnya.

Bahkan ia pun menyebut tahun ini seperti mengulang fenomena tech bubble yang terjadi pada 2001. Dengan demikian, ujungnya akan tersisa juara yang memang bisnis model nya teruji. Dia menyontohkan Amazon dan E-bay yang lolos ujian Dotcom bubble.

"Nah, sekarang waktunya startup di Indonesia di uji oleh pasar," jelas dia.

Faktor berikutnya peta persaingan startup adalah winner takes all. Kalau e-commerce ada top 3 pemain, menurut dia jangan harap pemain kecil bisa bersaing. Begitu juga terjadi di edutech, banyak yang tidak bersaing karena kurang pendanaan akhirnya tersisih dari pasar.

"Kemudian faktor promo dan bakar uang efektif mengurangi jumlah persaingan secara signifikan. Startup yang cashflow-nya tidak kuat maka kalah dan digantikan oleh startup yang gencar promosi," ungkap Bhima.

Bahkan, ada juga yang tidak mampu menempatkan diri dalam persaingan yang jenuh. E-commerce itu sudah saturated, begitu juga dengan bisnis payment atau dompet digital, edutech yang dilihat sudah mulai jenuh.

"Beda ya dengan Agritech misalnya, di bidang peternakan muncul startup yang pendanaan nya jumbo karena mereka pintar baca peluang," jelas dia.

Oleh sebab itu, fenomena ini merupakan seleksi secara masif untuk membuktikan startup mana yang memiliki keunggulan jangka panjang dan memang secara business model bisa memenangkan pasar. [faz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel