AJI Rilis Upah Layak Jurnalis Tahun 2021, Setidaknya Rp8 Juta

Ezra Sihite
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pandemi COVID-19 diketahui turut mengakibatkan pemutusan hubungan kerja di kalangan pekerja media massa meningkat. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menyayangkan kondisi ini. Menurut AJI, pada awal 2021, setidaknya tiga perusahaan media memutuskan hubungan ketenagakerjaan dengan dalih efisiensi dan penghentian operasional.

Selain itu disebutkan bahwa ada perusahaan yang merumahkan sebagian karyawannya.

Sementara pada Maret-Desember 2020 posko pengaduan ketenagakerjaan AJI Jakarta dan LBH Pers menerima 150 pengaduan ketenagakerjaan di perusahaan media. Jenis pengaduan ketenagakerjaan yang diterima antara lain pemotongan upah hingga pemutusan hubungan kerja.

AJI Jakarta kemudian melakukan survei upah riil dan upah layak jurnalis sebagaimana dilakukan setiap tahunnya. Survei dilakukan pada Januari-Februari 2021 dengan metode kuesioner daring. Lebih dari 100 responden yang terkumpul, ada 97 responden tervalidasi (51 persen responden perempuan, 47,42 persen responden laki-laki dan 1 persen responden tidak menyebutkan jenis kelamin). Sebanyak 93,8 persen responden mengaku belum mendapatkan upah layak sebagaiman dirilis AJI, Sabtu 27 Maret 2021.

Tidak hanya di bawah upah layak, AJI Jakarta bahkan menemukan upah yang masih di bawah upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta sebanyak 10 responden. Sebagaimana diketahui UMP DKI Jakarta pada 2021 adalah sebesar Rp 4.416.186.

Lantas berapa upah layak jurnalis pada 2021?

AJI Jakarta dalam menetapkan upah layak jurnalis merujuk kepada perhitungan Kebutuhan Hidup Layak per bulan di Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 18 Tahun 2020 dan disesuaikan dengan kebutuhan jurnalis pada masa pandemi.

"Kami menetapkan kebutuhan upah layak bagi jurnalis Jakarta tahun ini sebesar Rp8.366.220. Dengan catatan, ada 10 persen dana simpanan dari kebutuhan hidup per bulan," kata Ketua Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta Taufiqurrohman dalam diskusi daring "Upah Layak Jurnalis 2021, Cek!!!" pada Jumat, 26 Maret 2021.

Menanggapi survei upah jurnalis 2021 yang dilakukan AJI Jakarta, Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan Dewan Pers Agung Dharmajaya menjadikannya catatan serius lantaran berbeda jauh dengan UMP DKI Jakarta. Agung memandang persoalan itu berkaitan dengan modal dan badan hukum, termasuk upah layak, sebagaimana tertuang di UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ketidaklayakan upah berpotensi melahirkan sikap korupsi di kalangan wartawan. "Orang tidak mendapatkan upah layak, siapapun, sementara tanggungannya banyak, maka kecenderungan untuk berbuat korupsi itu ada,” ujar Agung.

Kondisi tersebut berimplikasi terhadap banyaknya pengaduan etik kepada Dewan Pers karena kualitas pemberitaan rendah. Padahal Dewan Pers telah mengeluarkan aturan terkait Standar Perusahaan Pers.

Tak hanya kualitas pemberitaan, penyelewengan kerja jurnalistik karena persoalan kesejahteraan di perusahaan juga berdampak kepada jurnalis menjadi tidak profesional.

“Ada jurnalis yang menerima ‘amplop’ dari narasumber. Salah satu imbasnya citra wartawan,” kata Agung.

Hal ini yang disebut bisa menyebabkan generalisasi ‘wartawan buruk’ di mata publik. Padahal tidak semua wartawan menerima pemberian lembaga atau individu tertentu dan masih ada jurnalis yang independen dan profesional.

Sementara itu Ketua Umum Serikat Pekerja Indopos Indra Bonaparte mengkritik lemahnya tugas dan fungsi Dinas Tenaga Kerja. Dia meminta agar unit pengawasan tertib mengerjakan kewajibannya dan masih ada perusahaan yang tidak menerapkan Undang Undang Ketenagakerjaan dengan benar.

“Pengawas harus lebih ketat mengawasi para pengusaha yang melanggar,” ucap Indra.

Temuan survei AJI Jakarta tentang kondisi pekerja media dari Januari-Februari 2021:

· 93,81 persen responden mengaku belum mendapatkan upah layak;
· 26,80 persen responden tidak mendapatkan dua hari libur dalam sepekan meski sudah bekerja lebih dari delapan jam setiap harinya;
· 10 responden mengaku digaji d ibawah upah minimum provinsi;
· 47 responden belum berstatus karyawan tetap (9 responden mengaku sudah bekerja di atas dua tahun);
· 86 responden mengklaim tidak memiliki Serikat Pekerja;
· 13,40 persen responden mengaku tidak mendapat jaminan kesehatan dari perusahaannya;
· 67 responden yang bekerja lembur (64 responden tak mendapat upah lembur);
· 13 responden tidak bekerja dari rumah (7 responden tak mendapat perlengkapan protokol kesehatan saat bekerja di lapangan);
· Berbasis 50 responden perempuan, 35 orang mengaku nihil cuti haid dan/atau tidak tahu ada cuti haid di perusahaannya;
· Dari 44 media, hanya responden dari MetroTv, Republika, Medcom dan Detik yang mengaku sudah memiliki ruang laktasi.