Aji Santoso Melarang Pemain Persebaya Bermain Tarkam Saat Shopee Liga 1 Tidak Bergulir

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Surabaya - Para pemain yang berkompetisi Shopee Liga 1 2020 tidak memiliki agenda resmi karena kompetisi masih vakum dan akan dilanjutkan Februari 2021 mendatang. Kebanyakan dari mereka memutuskan pulang kampung dan berlatih secara mandiri, begitupun para pemain Persebaya Surabaya.

Namun, ada satu hal yang cukup menjadi momok bagi klub dan jajaran pelatih, yaitu turnamen antarkampung alias tarkam. Beberapa turnamen tarkam sudah terselenggara di beberapa daerah yang tak jarang merekrut pemain Liga 1.

Pelatih Persebaya Surabaya, Aji Santoso, melarang keras pemainnya mengikuti pertandingan yang berada di level amatir tersebut.

“Saya sudah mengimbau kepada seluruh pemain Persebaya untuk tidak ikut tarkam. Kalau hanya latihan di kampung tidak apa-apa. Tapi, kalau diundang seseorang ikut tarkam, itu jangan,” ucap Aji kepada Bola.com.

Sejauh ini, belum diketahui apakah memang ada pemain Bajul Ijo yang diam-diam menerima tawaran bermain di turnamen tarkam. Namun, ajang tersebut cukup berisiko untuk pemain profesional sekelas Liga 1.

Aji menyinggung bahwa bermain di turnamen tarkam bakal menurunkan wibawa pemain Persebaya yang berstatus sebagai pemain profesional. Sebab, sangat mungkin mereka mendapat olok-olok dari penonton karena rela 'turun kasta'.

“Mereka itu harus bisa menjaga status mereka sebagai pemain profesional. Kita tidak tahu yang main tarkam itu seperti apa, omongan orang yang nonton itu pasti bebas. Jangan sampai pemain Persebaya direndahkan oleh penonton tarkam,” ucap Aji.

“Penonton itu bebas bicara apa saja, tidak ada yang melarang. Untuk menjaga wibawa bahwa mereka sebagai pemain tim sebesar Persebaya Surabaya, tarkam itu tidak layak. Saya selalu melarang anak didik saya main tarkam,” imbuh pelatih asli Malang itu.

Dilarang Keras

Persebaya_Logo (Bola.com/Adreanus Titus)
Persebaya_Logo (Bola.com/Adreanus Titus)

Belum lagi akan ada risiko cedera karena pertandingan tarkam kerap dimainkan secara brutal. Prosedur penyelenggaraan pertandingan juga tidak sebaik kompetisi profesional sehingga bisa memengaruhi kondisi pemain.

“Selama masih bermain dan terikat kontrak untuk Persebaya Surabaya, tarkam tidak boleh. Apa yang mereka dapatkan dengan risikonya itu tidak seimbang. Kalau sampai cedera, klub yang akan rugi,” tutur pelatih berlisensi AFC Pro tersebut.

Beberapa pemain klub Liga 1 lainnya dikabarkan mengisi waktu luang selama pemberhentian kompetisi ini dengan bermain tarkam. Alasan mereka beragam, dengan satu di antaranya untuk menambah pemasukan di tengah situasi pandemi COVID-19.

Bayaran untuk pemain Liga 1 yang mau bermain di tarkam juga tidak kecil. Rata-rata berkisar pada ratusan ribu rupiah per pertandingan. Namun, ada pula yang menerima jutaan rupiah untuk satu pertandingan saja.

Video