Ajini, Banyak Keberkahan Dalam Keterbatasan Hingga Tuntas Meraih Haji

Merdeka.com - Merdeka.com - Keterbatasan fisik sering kali membuat banyak orang tidak percaya diri. Merasa tidak bisa maksimal melakukan banyak hal. Seperti manusia normal pada umumnya.

Tetapi tidak dengan Ajini Bin Senen Bin Hasan. Jemaah dari Bangka Barat, Desa Pelangas, itu teguh pada niatnya berhaji. Keterbatasan tak membuatnya lemah diri. Dia syukuri panggilan Allah SWT menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Pria 55 tahun itu menyadari indra penglihatannya tak sesempurna manusia lain. Tetapi tak mengapa. Dia yakin akan banyak tangan-tangan baik mengulurkan bantuan. Memudahkan hajat dan niatnya. Menunaikan rukun Islam kelima.

Ajini membagi kisahnya sebagai jemaah haji disabilitas. Selama hampir 40 hari di Tanah Suci, mulai dari Makkah sampai ke Madinah, banyak cerita mengharu biru dia rasakan.

"Saya ini (berhaji) dikasih hadiah sama bupati saat itu," kata Ajini saat mengawali perbincangan santai dengan tim Media Center Haji (MCH) 2022, di Hotel Bara Taiba, Madinah, Kamis (4/8).

Dia mengulas kembali kenangan beberapa tahun silam. Tepat ketika diberi kabar mendapat kesempatan haji. Kaget bercampur gembira. Begitulah terlintas di benaknya. Hidup sederhana sebagai guru ngaji anak-anak di kampung, membuat Ajini tak berpikir muluk-muluk untuk mendaftar haji. Bukannya tidak ingin. Tetapi dia tahu diri, ongkos ke Tanah Suci tidaklah murah.

"Saya mengajar ngaji sejak 1994, cuma dulu keliling. Kalau sekarang banyak di rumah saja, kalau sore adalah anak-anak yang ngaji, cuma itu aja," katanya tersenyum.

Ajini menjadi salah satu jemaah dari kloter 4 Palembang. Dia dan rombongannya masuk pemberangkatan gelombang kedua. Diterbangkan dari Tanah Air menuju Makkah terlebih dahulu. Kemudian menuju Madinah.

Selama hampir 40 hari berada di Tanah Suci, banyak pengalaman tak terlupakan untuk ayah dua anak ini. Apa yang menjadi keyakinannya dahulu, benar-benar terwujud selama beribadah. Begitu banyak kebaikan dia dapat dari orang-orang yang tak dikenalnya secara pribadi. Kebaikan itu, sangat berarti di tengah keterbatasannya.

"Alhamdulillah, begitu sampai di Jeddah, yang saya rasakan seperti siang di Indonesia, cukup panas. Kemudian kita dijemput petugas sampai di hotel sektor empat," dia bercerita.

Setibanya di Makkah, rombongannya langsung bersiap untuk melakukan umrah wajib. Umrah ini wajib dilakukan ketika jemaah baru saja tiba di Makkah. Umrah ini disebut juga umrah selamat datang karena baru saja memasuki rumah Allah.

Dia ingat. Ketika melakukan tawaf umrah wajib. Seorang pemuda asal Lombok bersedia membantu mendorongkan kursi rodanya hingga selesai. Kemudahan juga dia rasakan saat melakukan Sa'i dari bukit Safa ke Marwah bolak balik sebanyak tujuh kali.

Pengalaman tak terlupakan lainnya ketika menjalani prosesi puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina atau Armuzna. Kala itu, dia sempat sedih karena kesehatannya beberapa kali menurun. Beruntung petugas dan tim kesehatan sigap memberikan bantuan dan pengobatan.

"Di Mina itu juga cukup crowded bagi saya, saya salat tidak bisa berdiri, duduk terus. Kemudian lempar jumrah Pak Junaidi yang mewakilkan, dibadalkan," kenangnya.

Lain lagi cerita ketika hendak melakukan tawaf wada atau tawaf perpisahan dengan Ka'bah karena akan segera meninggalkan Kota Makkah. Dia sempat cemas siapa kali ini yang akan mendampingi mengeliling Ka'bah sebanyak tujuh kali. Tapi lagi-lagi pertolongan Allah begitu dekat dengannya.

"Jadi waktu itu, putaran satu sampai tiga kami jalan kaki santai-santai. Putaran keempat jantung saya dan betis rasanya naik, enggak sanggup lagi. Akan digendonglah sama Mas Rianto ini, tapi Mas Rianto agak rendah, saya ketinggian. Saya takut, saya bilang jangan-jangan," katanya.

"Eh kemudian ada pak polisi katanya namanya Pak Imam dari Kalimantan, dia gendong saya sampai empat putaran kemudian Alhamdulillah selesai. Barulah ketika Sa'i didorong kembali oleh Mas Rianto. Lucunya lagi, sampai lupa ditahalul, jadi baru besoknya ditahalul karena sudah sampai di hotel jam 2 dini hari," kenang Ajini sembari tertawa pelan.

Ada satu lagi kebaikan sosok bernama Rianto yang membuat Ajini masih terkenang hingga kini. Rianto meminjamkan ponselnya untuk menghubungkan Ajini dengan keluarganya di kampung halaman. Ajini bahagia bisa melepas rindu. Sungguh nikmat kemudahan dari Allah tak lagi bisa dipungkiri Ajini.

"Alhamdulillah banyak yang nolong, Alhamdulillah kawan-kawan mendukung," katanya.

Sebenarnya, Ajini berangkat ke Tanah Suci tak sendiri. Ada seseorang yang mendampinginya selama di Tanah Suci bernama Junaidi. Keduanya selalu bersama. Meski kadang kala, banyak pihak turut membantu Junaidi untuk memudahkan Ajini beribadah atau melakukan sesuatu.

"Selama ke Nabawi, saya didorong oleh Pak Junaidi. Saya dapat Salat Dhuha aja, selain itu saya di hotel," sambungnya.

Doa dan Linangan Air Mata

Selain syukur, berdoa tak pernah dia lupakan selama beribadah di Tanah Suci. Bahkan di satu momen, kenangnya, saat melakukan umrah awal setibanya di Makkah, Ajini tak kuasa membendung air mata saat melakukan tawaf. Bukan karena kesedihan. Tetapi rasa syukur dengan keterbatasan fisik, dia tetap berkesempatan berhaji.

"Jadi putaran pertama sampai puturan empat itu menangis terus. Enggak pernah terbayang bisa injakkan kaki di Tanah Suci, tidak bisa bayangkan. Apalagi sempat saya tanya ke seorang teman, apakah tidak apa-apa buat saya yang penyandang disabilitas, katanya tidak masalah. Yang penting ambil wajib aja, setelah itu bapak tinggal di hotel saja. Itu pula yang menjadi penyemangat saya sampai saat ini," cerita Ajini.

Dari seorang Bapak Ajini patutlah kita belajar hal mendasar dalam hidup. Dari semua kenikmatan yang dirasakan seseorang. Tidak harus kita merasakan dalam bentuk yang sama. Meski kedua mata Bapak Ajini tak sama dengan jemaah lainnya. Tetapi mata hatinya bisa merasakan kekhusyukan dan kesyahduan segala prosesi ibadah haji yang dijalaninya. Patutlah mensyukuri apa yang ditakdirkan Allah menjadi kunci. Agar tak selalu membandingkan dengan orang lain.

"Saya harapkan kepada siapapun yang punya permasalah kesehatan, disabilitas, jangan khawatir. Di sini dilayani PPIH, kemudian kawan-kawan satu rombongan, satu kamar, semuanya saling mendukung. Jadi kalau kita mulanya ragu-ragu, was-was, tapi yang dirasa justru saling menguatkan," kata Ajini.

"Yang penting saya pesankan pada kawan kaum muslimin, ikhlas sama Allah, kita syukuri, kita jalani yang berlaku, terpenting bertawakal pada Allah. Dan doa terakhirnya lain lagi, yang penting segera bertemu pada keluarga," kata Anjani yang mengaku sudah rindu pada istri dan dua anaknya.

Sebagai jemaah disabilitas, dia berharap pelayanan untuk orang berkebutuhan khusus terus membaik ke depannya. Mulai dari embarkasi sampai kepulangan.

"Sekarang sudah cukup bagus, fasilitas kursi roda disiapkan, mudah-mudahan tahun depan bisa lebih bagus lagi," tutup Ajini.

Berkah Sabar Mendampingi

Sebagai pandamping, Junaidi merasakan ada keberkahan tersendiri. Dia belajar bersyukur atas apa yang dimiliki, dan bersabar dengan segala proses yang dihadapi.

"Hikmahnya, lebih sabar, tapi senang, karenakan tidak pernah terpikirkan juga bisa mendampingi Pak Ustaz dan ke haji sama-sama," katanya.

Junaidi mengaku sudah lama mengenal Ajini karena kampung mereka bersebelahan. Tetapi semakin mengenal jauh saat bersama-sama ikut manasik dan ditunjuk menjadi pendamping Ajini.

"Sangat sabar Pak Junaidi ini, tepat pilihan Pak Kemenag untuk mendampingi," kata Ajini tentang sosok Junaidi.

Hingga jelang kepulangan ke Tanah Air, Bapak Ajini masih terus bersama-sama ditemani Junaidi. Jika tidak ada perubahan, kloter empat embarkasi Palembang akan meninggalkan Madinah dengan maskapai Saudi Airlines pada tanggal 6 Agustus pukul 18.50 WAS dan tiba di Tanah Air pukul 08.30 WIB. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel