Ajudan Jokowi Kombes Adi Vivid Kumpulkan Lulusan Akpol 1998, Ada Apa?

·Bacaan 3 menit

VIVA – Keluarga besar alumni Akpol 1998 batalyon Parama Satwika beserta Bhayangkari di seluruh Indonesia dan perwakilan dari Belanda menggelar kegiatan refleksi kebangsaan dan doa bersama secara virtual.

Ketua Alumni Akpol 1998/Parama Satwika yang juga menjabat sebagai Ajudan Presiden Jokowi, Kombes Pol. Adi Vivid Agustiadi Bachtiar mengatakan kegiatan ini digelar sebagai refleksi kebangsaan merupakan wujud rasa nasionalisme kepada bangsa dan negara. Yang man para pelaku abdi negara ini wajib menumbuhkan kecintaanya yang harus terwujud dalam melaksanakan tugas sehari-hari.

“Di dalam ajaran semua agama, rasa cinta tanah air telah diajarkan dalam tuntunan agama yang kita anut sehingga sudah seharusnya sebagai insan beragama kita harus merefleksikan diri kita untuk selalu menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air,” ucap Adi Vivid dari keterangan tertulis yang diterima VIVA Kamis,19 Agustus 2021.

Dalam sambutannya, Adi Vivid menyampaikan tentang wabah covid-19 yang terjadi di tanah air Indonesia di mana langkah-langkah pemerintah dengan upaya maksimal dengan melakukan 3T (testing, tracing dan Treatment) dan juga meningkatkan jumlah vaksinasi sebagai upaya herd immunity bagi seluruh masyarakat sehingga bangsa Indonesia terbebas dari pandemi Covid-19.

“Namun upaya penanganan pandemi Covid-19 telah mengakibakan gugurnya pahlawan kesehatan baik dari TNI, Polri dan tenaga kesehatan yang telah meninggalkan duka bagi seluruh keluarga yang ditinggalkan. Marilah kita mendoakan kepada para pahlawan kesehatan yang telah gugur tersebut kita doakan semoga diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keikhlasan.” ungkap Adi Vivid.

Dalam kesempatannya ini, Adi Vivid menyapa seluruh alumni Akpol 1998 batalyon parama satwika yang hadir secara virtual dari Aceh sampai dengan papua termasuk alumni yang saat ini bertugas sebagai Akpol Denhaag di Denhaag.

Dalam acara ini doa bersama di sampaikan dengan tiga penceramah agama. Untuk penceramah dan doa secara islam disampaikan oleh Ustad Das’ad Latif, doa secara Nasrani disampaikan oleh Pendeta Gilbert Lumoindong dan doa secara Hindu disampaikan oleh Penandhita Iptu I Wayan Pantun.


Ustad Das’ad Latif selaku penceramah menekankan betapa pentingnya rasa syukur kepada Tuhan atas segala apa yang diperoleh oleh kita selama ini.

“Bapak-bapak semua sebagai seorang polisi harus selalu bersyukur krn bapak sudah memiliki kewenangan dalam menjalankan tugas, kewenangan tersebut tidak dimiliki oleh orang lain termasuk saya sebagai ustad. Bapak bisa pakai baju ustad, tapi ustad das’ad tidak bisa pakai baju polisi ktn pasti saya bisa disebut polisi gadungan,” kata ustad Das’ad Latif.

“Kita terima saat ini itulah yang terbaik, jangan pernah sangka buruk sudah bekerja dengan baik, mengikuti tupoksi dengan baik, apa yang kita minta ternyata tidak kita dapatkan maka mari bersangka baik memang inilah yang terbaik dari Allah SWT.” katanya lagi.

Setelah ceramah oleh ustad Das’ad latif, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang disampaikan secara Islam oleh Ustad Das’ad Latif, doa secara Nasrani disampaikan oleh Pendeta Gilbert Lumoindong dan doa secara hindu disampaikan oleh Penandhita Iptu I Wayan Pantun.

Selain itu, batalyon parama satwika juga turut memberikan tali asih kepada keluarga besar batalyon Parama Satwika yang telah meninggal dunia sebanyak 16 (enam belas) orang yang ada di seluruh Indonesia yang diwakili Ibu Hj. Suparti selaku ibu kandung dari Almarhum Sertar Joko Suprapto yang gugur saat masih menjadi Taruna Akpol pada tahun 1996.

Di penghujung acara, para keluarga besar alumni akpol 1998 batalyon Parama Satwika menyanyikan lagu Bagimu negeri dan juga sesi foto bersama secara virtual.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel