Akademisi dukung rencana pembangunan Museum Bawah Laut Tidore

Akademisi dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (UI) Dr. Rachma Fitriati menyambut baik dukungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno terkait rencana pembangunan Museum Bawah Laut di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.

"Ini momentum baik untuk mengenalkan wisata laut Kota Tidore Kepulauan di mana terdapat begitu banyak spot wisata dan peninggalan sejarah yang berada di bawah air," kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, rencana pembangunan Museum Bawah Laut di Kota Tidore Kepulauan merupakan salah satu strategi untuk menghidupkan atau memulihkan ekonomi, khususnya di sektor pariwisata akibat pandemi COVID-19 yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Stafsus Presiden dukung pembangunan Museum Bahasa Melayu

Tidak hanya dari Universitas Indonesia, dukungan dan gagasan rencana pembangunan Museum Bawah Laut Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) mendapat dukungan Kepala Bakamla Laksdya TNI Aan Kurnia.

Museum di Tidore ini berbeda dengan museum bawah laut yang sudah ada di Indonesia, bahkan di belahan dunia lainnya, seperti Museum of Underwater Art di Great Barrier Reef Australia, Museo Subacuatico de Arte (MUSA) Cancun Cancun Underwater Museu di Meksiko, Underwater Military Museum Aqaba di Yordania, dan Underwater Museum of Art di Amerika Serikat.

Museum Bawah Laut di Tidore akan berisi BMKT sebagai jejak sejarah pada ekspedisi menjelajahi bumi yang pertama (Circumnavigation of the Earth) di Pantai Rum yang tenggelam pada abad ke-16.

Baca juga: Wagub Kaltim usulkan pembangunan museum wartawan
Baca juga: DPRA dorong percepatan pembangunan museum Al Quran kuno di Nagan Raya

Terdapat puluhan guci peninggalan kapal Spanyol yang tenggelam dan sudah diangkat ke daratan pada tahun 1990-an. Sayangnya, guci-guci tersebut kurang mendapat atensi dari wisatawan terlebih disimpan begitu saja di gudang milik Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah.

Ia berpandangan apabila guci-guci tersebut dikembalikan ke dasar laut di tempat temuan semula, yaitu situs peninggalan bawah laut di Kelurahan Tongowai, maka guci-guci itu akan menjadi objek wisata selam yang unik dan menarik.

"Karena tidak ditemukan di lokasi penyelaman lainnya di dunia," ujar dia.

Hal itu berbeda dengan Museum Bawah Laut BMKT Parthenon of Underwater Museum di Yunani yang berisi puluhan wadah anggur dari keramik sebagai situs bangkai Kapal Peristera yang berasal dari abad ke-5 sebelum masehi

"Museum Bawah Laut Tidore akan berisi puluhan guci peninggalan Kapal Spanyol yang tenggelam abad ke-16," ujar Rachma.