Akademisi: Kader lansia perlu tingkatkan kemampuan perawatan lansia

Akademisi dari Universitas Katolik Atma Jaya Prof Dr drg Yvonne Suzy Handajani MKM mengatakan kader lansia perlu meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam perawatan lansia.

“Oleh karena itu, Unika Atma Jaya berkolaborasi dengan Universitas Respati Indonesia Urindo dan Universitas Southamphon, Inggris mengadakan pelatihan kader tentang perawatan lansia,” ujar Yvonne di Jakarta, Rabu.

Kolaborasi itu ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik perawatan kader pada masyarakat lanjut usia, dengan harapan bahwa pengetahuan yang diperoleh akan dibagikan kepada pengasuh lansia di keluarganya. Kegiatan atas kerja sama tiga universitas ini berkomitmen mengembangkan kapasitas kader di Kelurahan Kalianyar, Jakarta.

Pelatihan itu mencakup berbagai topik penting, termasuk cara berkomunikasi dengan lansia dan lansia dengan demensia, cara membantu mobilitas lansia, cara membantu lansia dengan disabilitas, cara menghindari lansia jatuh dan luka baring, upaya mendukung pengasuh untuk menghindari kelelahannya, penjelasan tentang proses penuaan dan berbagai penyakit pada lansia, serta cara mengatasi stres dan mengelola asupan gizi pada lansia.

Baca juga: Peringati Hardiknas, Unika Atma Jaya salurkan beasiswa Rp30 miliar

Baca juga: Kampus berkolaborasi bentuk aliansi digital untuk pemberdayaan ekonomi

“Adanya pelatihan kader ini tentu diharapkan dapat memberikan motivasi tinggi maka diharapkan kader akan berbagi pemahaman mereka dengan pengasuh informal di lingkungannya dan menggunakan pengetahuan ini untuk mendukung para lansia dan pengasuhnya,“ kata dia.

Pemilihan Kelurahan Kalianyar karena merupakan kelurahan yang terpadat di Asia Tenggara. Sudah lebih dari sepuluh tahun, Kelurahan Kalianyar merupakan wilayah binaan Unika Atma Jaya, khususnya untuk kesehatan para lansia.

Hasil studi kuantitatif yang dilakukan tahun lalu (2021) menunjukkan 59 persen lansia dengan penyakit hipertensi, 42,1 persen tidak mandiri, dan 20 persen mengalami demensia.

Studi etnografi mengungkapkan bahwa peran utama keluarga dalam memberikan perawatan bagi lansia dibutuhkan dalam kegiatan aktivitas sehari-hari, juga untuk lansia yang terbaring di tempat tidur, atau untuk lansia yang mengalami demensia.

Asosiated Profesor dari Southampton University, Dr Elisabeth Schroder Butterfill, mengatakan kader memiliki peran penting dari perspektif sosiologis. Seringkali dukungan yang dibutuhkan keluarga didapat dari kader PKK atau kader Posbindu/Posyandu Lansia. kader melakukan pemeriksaan kesehatan setiap bulan pada lansia.

“Para kader memberikan saran untuk lansia agar tetap sehat dan aktif. Para kader mendorong lansia untuk menggunakan layanan kesehatan dan kadang-kadang mereka juga membantu mengatur atau mendistribusikan dukungan pemerintah,” ujar Butterfill.

Bahkan kader sering melakukan upaya lebih dari tugas pokok dan fungsi resminya, seperti ditemukan dari hasil studi di Kelurahan Kalianyar.

Misalnya, saat lockdown akibat pandemi COVID-19, kader memberikan nasehat kepada lansia, membantu pembagian masker, mendorong lansia untuk vaksinasi, dan berbagi resep jamu untuk mencegah COVID. Jika pengasuh keluarga tidak ada, kader akan mengunjungi lansia di rumah untuk memeriksa kesehatannya.

Disamping itu, umur harapan hidup dan ketahanan hidup lansia berkontribusi terhadap meningkatnya penyakit kronis serta gangguan kognitif pada masyarakat lanjut usia.

Keadaan itu juga berdampak terhadap keterbatasan fungsional dan kebutuhan untuk perawatan lansia di kemudian hari. Tanpa perawatan yang tepat, lansia berisiko menghabiskan tahun-tahun pada akhir hidupnya dalam keadaan yang tidak nyaman, terbatas dalam partisipasi kegiatan, dan tidak memiliki martabat.

Pada 2021, pemerintah Indonesia menerbitkan Strategi Nasional Kelanjutusiaan, yang mencakup komitmen untuk ‘pelayanan perawatan jangka panjang secara komprehensif meliputi aspek kesehatan dan sosial bagi lanjut usia’.

Pada tahun yang sama juga telah diluncurkan United Nations Decade of Healthy Ageing (2021-2030). Selama dekade ini, masyarakat di seluruh dunia diundang untuk mempertimbangkan bagaimana mengembangkan perawatan terpadu dan sesuai dengan layanan kesehatan untuk lansia.

Unika Atma Jaya dan Universitas Southampton, Inggris, telah melakukan studi etnografi komparatif tentang jaringan perawatan lansia di lima wilayah di Indonesia (Jakarta, Sumatera Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, dan NTT). Khusus untuk di Jakarta juga dilakukan studi kuantitatif di Kelurahan Kalianyar.

Secara proaktif, kader adalah penghubung utama dalam jaringan perawatan lansia, menghubungkan lansia dengan layanan kesehatan dan memperkuat upaya keluarga dalam merawat lansia. Kader direkrut dari komunitas lokal dan memahami lansia dan kebutuhannya. Mereka mudah didekati dan dipercaya oleh masyarakat.*

Baca juga: Peringati Sumpah Pemuda, universitas se-Indonesia deklarasikan lawan radikalisme

Baca juga: KPK gandeng tiga PT gelar Festival Integritas Kampus 2016