Akademisi sebut negara yang berteknologi kuat akan raih untung di RCEP

M Razi Rahman
·Bacaan 1 menit

Wakil Dekan Universitas Diponegoro Ika Riswanti menyampaikan bahwa negara-negara yang memiliki pengetahuan, teknologi, dan merek dagang yang kuat khususnya produk jadi, akan meraih keuntungan dalam kerja sama ekonomi komprehensif regional (RCEP).

“Negara ASEAN akan memasuki persaingan dengan negara-negara non ASEAN yang tentunya memiliki keunggulan komparatif yang lebih visioner dan berdasarkan penelitian, pemenang utama RCEP adalah negara-negara Jepang, Aus, Selandia Baru,” kata Ika pada konferensi pers virtual bertajuk "ASEAN’s Fate Hangs In a RCEP Balance", Kamis.

Ika memprediksi, RCEP akan membuka lebih banyak impor ke pasar ASEAN. Dalam hal itu, struktur industri negara ASEAN bukanlah industri yang menghasilkan barang jadi.
Baca juga: Tingkatkan daya saing, Indef: RI harus dapat keuntungan dari RCEP

“Dengan demikian tentunya ASEAN akan menjadi basis pasar bukan sebagai basis produksi. Negara ASEAN itu sendiri menjadi target pasar utama,” ujar Ika.

Ia menambahkan adanya kemungkinan negara dengan tingkat industrialisasi yang belum berkembang, hanya akan menjadi tempat produksi barang setengah jadi dengan melihat upah tenaga kerja dan fasilitas perpajakan yang rendah.

Ika mencontohkan industri tekstil di Indonesia yang kontribusinya 5,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) diprediksi akan sulit mengambil keuntungan dari RCEP.
Baca juga: Kemendag butuh dukungan kementerian lain, rumuskan hambatan nontarif

“Sekarang ini ada COVID-19, banyak industri tutup. Sehingga industri tekstil menjadi industri yang rentan. Sehingga sulit sekali industri ini akan mengambil keuntungan,” tukas Ika.

Adapun negara-negara seperti China, Jepang, dan Australia, lanjutnya, akan menjadi pemain utama untuk pasar impor dan hal tersebut dinilai tidak diragukan lagi.

Baca juga: BKPM ungkap manfaat RCEP bagi investasi di Indonesia
Baca juga: Kemitraan Ekonomi Komprehensif bakal lesatkan investasi ke Indonesia