Akademisi UGM: Mural Seni Jalanan Bisa untuk Mempercantik Kota

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Yogyakarta - Mural seni jalanan yang dihapus oleh pemerintah masih menjadi perhatian Ketua Program Studi Pengkajian Seni pertunjukan dan Seni Rupa SPS UGM Budi Irawanto.

Menurutnya mural merupakan seni jalanan yang bersifat visual maka tidak sedikit seni jalanan ini berisi kritik sosial dan politik tidak hanya terjadi di Indonesia namun hampir di banyak negara.

“Mural sebagai bagian dari seni jalanan sangat dekat dengan kritik sosial dan politik, tapi tidak semua mural bermuatan politik. Mural sebenarnya lebih banyak mengekspresikan keindahan visual menggunakan medium dengan yang ada di jalan, dinding, dan bangunan arsitektur,” katanya.

Budi Irawanto mengajak para seniman mural membuat mural yang mampu membangun keindahan kota dengan baik. Walaupun masih ada konten mural berisi kritik sosial dan politik kepada pemerintah.

Sehingga ia berharap agar pemerintah atau aparat tidak alergi terhadap kritik sosial lewat mural. Budi Irawanto mendukung penghapusan mural apabila berisi gambar ajakan kebencian dan provokasi serta tidak menampilkan karya seni yang sesungguhnya.

Menurutnya mural adalah bagian dari seni yang berkaitan erat dengan kondisi sosial dan politik di suatu masyarakat. Seni sudah bergeser bukan lagi sebatas ekspresi individual dari senimannya, namun bagian ekspresi kolektif dan komunitas.

“Seni juga bagian upaya melakukan penyadaran karena memiliki muatan pengetahuan,” paparnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Simak Video Pilihan Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel