Akademisi Unand-ITB teliti dampak penerapan transportasi cerdas

Akademisi Universitas Andalas (Unand) Padang bersama Institut Teknologi Bandung meneliti dampak positif penerapan Sistem Transportasi Cerdas atau Intelligent Transport System (ITS) bagi kualitas hidup masyarakat pada tiga kota di Tanah Air.

"Penelitian ini didanai oleh Kemendikbudristek selama tiga tahun digarap oleh Yos Sunitiyoso, Phd dari ITB dan saya tujuannya untuk melihat dampak positif penerapan transportasi cerdas bagi kualitas hidup warga, ekonomi dan lingkungan," kata peneliti transportasi publik Unand Yosyafra Phd, di Padang, Rabu.

Menurut dia penelitian ini dilakukan pada daerah yang telah dipilih oleh Kementerian Perhubungan untuk menerapkan Sistem Transportasi Cerdas dan akhirnya dipilih tiga kota yaitu Jakarta, Padang dan Bukittinggi.

Ia menjelaskan ada 11 indikator yang dibuat dalam sistem transportasi cerdas mulai dari sistem manajemen lalu lintas tingkat lanjut hingga sistem mengemudi otonom yang perlu diukur seberapa besar dampaknya bagi publik.

"Misalnya setelah adanya pusat kendali lalu lintas di Padang perlu diukur dampak positif terhadap lalu lintas, lingkungan hingga ekonomi," ujarnya.

Ia menyampaikan pada tahun pertama ini akan fokus pada pemetaan pemahaman, peralatan, sumber daya manusia dan anggaran dalam penerapan sistem transportasi cerdas.

Kemudian pihaknya meramu seberapa siap dari sisi peralatan hingga SDM dalam penerapan sistem transportasi pintar.

Baca juga: Pakar sebut penerapan transportasi cerdas tingkatkan kualitas hidup

Baca juga: Jakarta jadi tuan rumah forum transportasi cerdas Asia Pasific 2024

"Saat ini di Padang levelnya baru dua dari lima untuk penerapan sistem transportasi pintar sehingga masih banyak yang perlu dikejar," kata dia.

Ia menemukan saat ini SDM yang ada di Padang dalam mengelola pusat kendali lalu lintas masih terbatas dan peralatan perlu ditingkatkan spesifikasinya.

Sementara Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat wilayah III Sumatera Barat M Ardono menyampaikan perlu pengembangan pusat kendali lalu lintas agar lebih cerdas lagi.

"Masalah utama lalu lintas kita adalah kemacetan dan berdasarkan hasil penelitian kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp83,9 triliun dalam setahun," kata dia.

Ia mengatakan kemacetan tersebut juga dipicu oleh pertumbuhan jumlah kendaraan baru yang terus meningkat.

"Per September 2021 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 143 juta dari semua jenis dan pada Januari 2022 sudah mencapai 145 juta atau tumbuh dua juta dalam empat bulan," kata dia.

Pada satu sisi ia melihat ada banyak biaya yang diperoleh dari pajak kepemilikan kendaraan yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah lalu lintas dan peningkatan pelayanan.

"Selain itu dengan penerapan transportasi cerdas akan dapat meningkatkan pelayanan bagi pengguna transportasi lewat kolaborasi semua pihak," katanya.

Baca juga: Kemenhub RI - Korsel kerja sama sistem transportasi cerdas

Baca juga: Akademisi: Indonesia butuh infrastruktur transportasi cerdas

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel