Akamai sebut Metaverse Punya Potensi Besar Berkembang di Indonesia

Merdeka.com - Merdeka.com - The Wall Street Journal (WSJ), pernah melaporkan bahwa Horizon Worlds telah gagal memenuhi harapan. Horizon Worlds adalah platform game berbasis VR dan AR yang menggunakan Oculus dan dikembangkan oleh Meta.

Pengguna aktif bulanan saat ini di platform tersebut kurang dari 200 ribu. Di awal, perusahaan menargetkan pengunjung aktif bulanan bisa mencapai angka 500 ribu. Namun di pertengahan jalan, Zuckerberg mau tak mau harus merevisi target menjadi 280 ribu.

Hal ini menandakan bahwa ketika target diturunkan pun, Horizon Worlds harus rela menelan pil pahit. Meski begitu, banyak kalangan menyebut metaverse suatu saat akan menjadi keniscayaan.

Ali Hakim, Regional Sales, Asia dari Akamai Technologies - perusahaan teknologi penyedia solusi content delivery network, keamanan siber, dan layanan cloud turut berpendapat. Menurut dia, Metaverse mampu membawa pengalaman digital ke level baru dengan menghadirkan berbagai kemampuan dunia nyata kepada pengguna dalam dunia imersif 3D.

Dengan teknologi metaverse, orang dapat mereplikasi atau meningkatkan aktivitas fisik mereka, dengan memindahkan atau memperluas aktivitas fisik ke dunia virtual, atau dengan mengubah dunia fisik.

Manfaatnya pun, mampu menciptakan peluang untuk pekerjaan jarak jauh dan bisnis baru yang terdesentralisasi, membuat game online lebih menarik, memberikan pengalaman tur virtual, dan peluang baru untuk pendidikan, perdagangan, kesehatan, hiburan, dan banyak lainnya.

Hanya saja yang perlu diketahui, saat ini banyak korporasi ingin menjadi perusahaan yang "memiliki" satu metaverse monopolistik; tapi banyak yang percaya hal tersebut mustahil terwujud. Dan, dalam perjalanan pengembangannya, metaverse akan bergantung pada berbagai faktor teknologi dan pengalaman pengguna (platform, perangkat, teknologi).

"Dua contoh proyek yang menerapkan metaverse bisa dilihat pada Meta Horizon Worlds dan Second Life. Kedua dunia metaverse ini tidak terhubung satu dengan yang lain alias masih terdefragmentasi karena dimiliki oleh perusahaan berbeda. Metaverse terfragmentasi pada saat ini dan kemungkinan besar akan terus berlangsung di masa mendatang," ujar dia kepada Merdeka.com melalui keterangannya, Kamis (5/1).

Metaverse, kata dia, juga berpotensi besar untuk berkembang di Indonesia. Menurutnya, karena pada dasarnya metaverse dapat diterapkan di berbagai sektor seperti pariwisata Indonesia, pendidikan, sosial, perdagangan, dan banyak sektor lainnya. Teknologi imersif Metaverse dapat diterapkan dalam pendidikan dan pelatihan, mendesain ulang ruang kota, bahkan untuk strategi nasional pada kembar digital.

"Negara-negara berkembang seperti Indonesia dapat mulai mengeksplorasi potensi manfaat metaverse sebagai persiapan untuk teknologi yang kemungkinan besar akan mendapatkan momentum di tahun-tahun mendatang. Selain itu, besarnya populasi Indonesia juga dapat memperkuat potensi metaverse di Indonesia. Seandainya ada sekitar 30 persen penduduk Indonesia aktif di Metaverse, bisa dibayangkan ekonomi digital di sana akan luar biasa," terang dia. [faz]