Akhir Kisah Cinta Si Doel: Cerita Cinta Legendaris Yang Berakhir Realistis

Liputan6.com, Jakarta Perjalanan cinta segitiga yang menggelinding selama 27 tahun itu akhirnya bermuara ke sebuah keputusan final. Akhir Kisah Cinta Si Doel menjadi jilid pamungkas yang melegakan. Kami tidak akan menyebut film ini berakhir indah karena keindahan itu sendiri menjadi sangat relatif.

Penonton Akhir Kisah Cinta Si Doel terbelah dua, yakni kubu Zaenab dan kubu Sarah. Indah bagi kubu Sarah, belum tentu indah bagi tim Zaenab. Begitu pula sebaliknya. Kentara sekali Si Doel kesulitan untuk menentukan pilihan apalagi Mak Nyak sejak awal melarang anaknya berpoligami.

Showbiz Liputan6.com telah menyaksikan film Akhir Kisah Cinta Si Doel. Pilihan benar-benar sudah dibuat. Tanpa membocorkan putusannya, inilah ulasan kami untuk Akhir Kisah Cinta Si Doel.

 

 

Kandungan Zaenab Lemah

Rano Karno sebagai Doel. (Foto: Dok. Falcon Pictures)

Sarah (Cornelia) akhirnya mengantar anaknya, Dul (Rey Bong) ke rumah ayahnya, Si Doel (Rano). Dul tidur di kamar Kartubi (Ahmad), putra Atun (Suti). Selama tinggal di rumah ayahnya, Dul merasa nyaman. Namun sikap Zaenab (Maudy) yang tengah hamil membuat Dul menduga jangan-jangan kehadirannya tak diinginkan. Suatu hari, Zaenab meminta nomor ponsel Sarah lewat Dul.

Tak ada pilihan lain, Dul memberikannya. Zaenab menelepon dan mengabari Sarah bahwa ia tengah berbadan dua. Sarah syok. Zaenab menemui Sarah dan memintanya membatalkan niat menggugat cerai Doel. Biar dia saja yang mengalah. Sarah hanya diam. Usai menemui Sarah, Zaenab pamit pada Mak Nyak (Aminah). Zaenab bilang hendak pulang ke rumah ibunya untuk ingin menenangkan diri mengingat kandungannya lemah.

Sebelumnya, dokter mewanti-wanti Zaenab agar tidak stres. Kepergian Zaenab membuat Doel terdesak. Suatu malam saat hendak ke masjid, Dul curhat kepada Doel. Kepada ayahnya, Dul mengaku tak ingin melihat orang tuanya berpisah.

 

Labilnya Zaenab

Cornelia Agatha sebagai Sarah. (Foto: Dok. Falcon Pictures)

Serumit itu cinta segitiga Doel-Sarah-Zaenab. Selama menonton, kami sejujurnya puyeng dengan pola pikir Zaenab. Dalam Si Doel The Movie 2, Zaenab melakukan perlawanan dari sikap diamnya yang bergejolak hingga keputusannya pulang ke rumah ibunya.

Sebuah gugatan tanpa basa-basi yang membuat penonton percaya, Zaenab bisa tegas juga. Namun, di Akhir Kisah Cinta Si Doel penonton di tengah jalan dibuat ilfil. Perjuangan macam apa yang dilakukan Zaenab?

Jika benar ia mencinta Doel mengapa malah meminta rivalnya (Sarah) membatalkan gugatan cerai dan berniat mundur. Labilnya Zaenab yang bikin gemas dibela oleh naskah yang menyebutnya hamil. Berbadan dua bukanlah penyakit.

 

 

Jungkir Balik

Suti Karno sebagai Atun. (Foto: Dok. Falcon Pictures)

Perubahan hormon memungkinkan emosi perempuan jungkir balik. Yang repot, tentu saja penonton dalam mengikuti pola pikir Zaenab. Dalam konsep perilaku orang Jawa, kami menduga keputusan Zaenab mengalah ini justru perlawanan di tingkat paripurna.

Orang Jawa mengenal istilah nglulu. Yang artinya, kurang lebih menuruti kemauan pihak yang dinilai bersalah agar yang bersalah ini tidak enak hati. Inilah nyinyir sekaligus sindiran level dewa. Tak heran jika Sarah terdiam.

Tak heran jika efek nglulu Zaenab ini membuat Si Doel seperti kebakaran jenggot. Mau tak mau, ia harus bersikap tegas. Apalagi di lain pihak, Mak Nyak yang (maaf) tak lagi bisa melihat dan berjalan membuat perlawanan dengan metode lain.

 

3 Wanita Tersakiti

Maudy Koesnaedi sebagai Zaenab. (Foto: Dok. Falcon Pictures)

Ia terang-terangan menyebut anaknya sendiri egois. Inilah momen yang membuat setiap karakter di dunia Si Doel makin berkembang. Sarah tampak makin matang dalam bersikap. Zaenab dalam diamnya makin “brutal.”

Doel di tengah keduanya akhirnya di bawa dalam sebuah pemahaman bahwa tak ada keputusan yang memuaskan semua pihak. Yang ada, keputusan yang melegakan banyak pihak. Ia pun sadar, tak membuat keputusan alias menggantung permasalahan hanya akan menyakiti lebih banyak orang.

Dalam hal ini, ada tiga wanita yang tersakiti yakni Zaenab, Sarah, dan tentu saja Mak Nyak. Akting terbaik disuguhkan Maudy Koesnaedi.

 

Wibawa Aminah Tjendrakasih

Salah satu adegan Akhir Kisah Cinta Si Doel. (Foto: Dok. Falcon Pictures)

Lalu, Rey Bong yang bersenyawa dengan apik bersama Rano Karno. Dua aktor dari dua generasi ini nyaris tak berjarak. Dialog keduanya saat hendak ke masjid mengiris perasaan kami. Mata Rey memerah, pertanda keinginannya itu dari hati terdalam.

Curhat ini direspons Rano dengan memperlihatkan air muka lelah sekaligus dilema. Yang patut pula diapresiasi, Aminah Tjendrakasih. Merinding menyaksikan interaksinya dengan Maudy Koesnaedi. Percakapan dua perempuan sekaligus istri digulirkan dari hati ke hati. Aminah tampak tenang, menjaga wibawa sebagai yang dituakan. Maudy tak dapat menahan emosi karena ada sesak yang mesti dituangkan.

Agar Akhir Kisah Cinta Si Doel tak menjadi melodrama yang berlarut, ada Atun, Mandra, Opie Kumis, dan seseorang yang mengejutkan bagi Mandra. Sebuah cerita samping yang kocak sekaligus mengejutkan.

Buru-buru Menjelang Akhir

Si Doel. (Foto: Dok. Falcon Pictures)

Sayangnya, mendekati konklusi, Akhir Kisah Cinta Si Doel terkesan buru-buru. Mendadak si A bisa ke mana. Lalu balik lagi ke mana. Mendadak si B pergi ke mana lalu muncul di mana. Di tengah cerita terasa terulur, di akhir terasa dimampatkan.

Terlepas dari kelemahan ini, Akhir Kisah Cinta Si Doel adalah akhir yang melegakan. Jangan kaget jika penonton bertepuk tangan di adegan akhir. Ini kisah cinta legendaris. Diakhiri dengan realistis.

Pujian juga patut ditujukan kepada produser yang melabeli film ini Akhir Kisah Cinta Si Doel. Bukan Si Doel The Movie 3. Judul ini efektif memancing rasa penasaran publik terkait siapa yang akhirnya dipilih Si Doel. Terbukti, penonton memadati bioskop. Hari pertama penayangan, film ini menyerap 137 ribu penonton lebih.

 

 

Pemain: Rano Karno, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Aminah Tjendrakasih, Suti Karno, Rey Bong, Mandra, Ahmad Zulhoir Mardia

Produser: Frederica

Sutradara: Rano Karno

Penulis: Rano Karno

Produksi: Falcon Pictures, Karnos Films

Durasi: 1 jam, 33 menit