Akhir Kisah Wisata Jurang Kuping di Tangan Pemkot Surabaya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Surabaya - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menertiban protokol kesehatan (prokes) Covid-19 di wilayah wisata Jurang Kuping, Kelurahan Benowo, Kecamatan Pakal, Sabtu (13/2/2021).

Kegiatan tersebut diikuti puluhan personel yang terdiri dari Satpol PP, Linmas, TNI, Polri serta banser. Setiba di lokasi, para petugas itu langsung menempelkan stiker prokes serta merapikan kursi meja agar tidak digunakan berjualan oleh belasan warung yang tersebar di kawasan tersebut.

Camat Pakal Tranggono Wahyu Wibowo mengatakan, kegiatan hari ini adalah operasi untuk memastikan penutupan Jurang Kuping sesuai dengan Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan oleh Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimka), Kecamatan Pakal.

Dalam SE yang ditandatangani oleh Danramil Benowo, Camat Pakal, dan Kapolsek Pakal itu menyatakan bahwa mulai 13 Februari kegiatan usaha di jurang kuping harus dihentikan selama pandemi.

"Hari ini adalah hari pertama pengecekan setelah kemarin ada surat pemberitahuan edaran dari Forkompimka. Alhamdulillah semuanya udah tutup artinya seluruh pemilik usaha di sini patuh," kata Tranggono .

Ia menjelaskan, rencananya dalam beberapa hari ke depan petugas akan terus pemantauan monitoring di wilayah setempat. Hal itu menjadi penting dilakukan guna memastikan usaha di sekitar wilayah itu tetap menjalankan aturan.

"Di sini biasanya ada kegiatan kuliner dan kegiatan karaoke. Makanya kita lakukan penutupan," ungkap dia.

Meskipun kegiatan usaha di tutup, Tranggono mengaku untuk aktivitas warga di kawasan Jurang Kuping masih diperbolehkan. Diantaranya seperti penduduk yang akan berangkat ke sawah, mencari rumput maupun membuang sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara.

"Jadi tetap ada aktivitasnya. Kecuali tempat usaha karena selama ini yang menjadi perhatian kita adalah itu,” kata dia.

Apabila ditemukan pelanggaran, maka sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 2 Tahun 2021 Tentang Penerapan Protokol Kesehatan dalam Rangka Pencegahan dan Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19, pelanggar akan dikenakan sanksi berupa penyitaan KTP dan denda minimal Rp 500 dan maksimal Rp 25 juta.

"Sebenarnya ini bukan kegiatan yang pertama, kemarin pada saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pertama, kita sudah pernah melakukan sidak kesini. Namun ini akan lebih kami intens kan lagi,”pungkasnya.

Mengembalikan Kejayaan Waduk Jurang Kuping

Di masa perekonomian yang belum sepenuhnya normal akibat dampak pandemi Covid-19, sejumlah warga masih menaruh asa di destinasi wisata alam waduk Jurang Kuping yang berlokasi di Benowo, Kecamatan Pakal, Kota Surabaya.

Beberapa warga yang datang sendiri ataupun bersama keluarga, nampak bersabar menanti ikan yang menyangkut di kail pancingnya. Dengan raut wajah ceria dan semangat, mereka yakin bisa memperoleh ikan sehinga bisa melalui masa-masa sulit pandemi Covid-19.

"Kalau akhir pekan dan hari libur, saya dan anak saya suka ikut suami mancing di sini karena sekalian cuci mata. Udara di sini juga masih segar dan lingkungannya asri," ujar Utami, warga Rejosari Jurang Kuping saat berbincang dengan Liputan6.com, Minggu (8/11/2020).

Utami mengaku wisata alam waduk Jurang Kuping Surabaya ini sangat menguntungkan dari segi jarak yang dekat dengan rumahnya serta tidak ada biaya masuk alias gratis di destinasi wisata desa ini.

"Senang wisata di sini mas, untuk menghibur anak-anak supaya tidak jenuh di rumah. Kalau ke mal takut karena masih ada pandemi dan uang belanjanya bisa ditabung dulu saja," ucapnya.

Utami berharap, destinasi wisata alam waduk yang berbentuk kuping atau telinga manusia ini bisa kembali mencapai kejayaannya sebagai jujukan untuk wisata desa seperti era 80-an.

"Saya juga berharap, tempat wisata ini dikasih wahana atau permainan untuk anak-anak dan jalannya diperbaiki karena ada sebagian yang rusak," ujarnya.

Sementara, Mariono, warga setempat, yang sekaligus pemilik salah satu warung di wisata alam waduk Jurang Kuping ini juga mengaku sering memanfaatkan waktu luang untuk memancing.

"Di warung, kami menyediakan masakan ikan hasil mancing dan nasi pecel. Tetapi karena ada corona makanya pengunjungnya sepi dan warung-warung di sini sebagian buka dan lainnya pada tutup," ucap Mariono.

Mariono mengungkapkan, dalam sehari cuma ada satu hingga dua pengunjung yang berasal dari luar kota Surabaya datang ke wisata alam waduk Jurang Kuping ini.

"Sedangkan warga setempat, sedikit lebih banyak dari pengunjung luar kota yang datang ke sini untuk mancing dan makan di warung," ujarnya.

Mariono menjelaskan bahwa di destinasi wisata desa ini juga tersedia area untuk camping. Sebelum ada corona, pengunjung biasanya menghabiskan waktu untuk mancing, bermain outbound dan acara di area camping.

"Karena adanya corona, maka area camping di tutup sementara. Makanya di Jurang Kuping Surabaya sepi, terkena dampak corona hampir satu tahun ini," ucapnya.