Akhirnya, Industri Indonesia Produksi Ventilator secara Massal

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan untuk pertama kalinya sektor industri Indonesia akan memproduksi ventilator. Produksi massal ventilator bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, salah satunya Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Sebelum Covid-19 ini tidak ada industri yang memproduksi ventilator," kata Agung dalam konferensi pers Gerakan Nasional #BanggaBuatanIndonesia bersama sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju secara virtual, Jakarta, Kamis (14/5/2020).

Agus menuturkan ventilator yang akan diproduksi secara massal ini merupakan ventilator dengan teknologi tinggi. Sehingga Indonesia tidak perlu lagi ketergantungan ventilator buatan pabrikan luar negeri.

"Industri kita sekarang punya produk yang dibutuhkan yang selama ini impor dari negara lain. Sekarang kita produksi secara mandiri," kata Agus.

Produk Indonesia ini sangat penting di tengah pandemi Covid-19. Diharapkan kementerian dan lembaga bisa membantu kebutuhan belanja modal dan barang. Sehingga bisa membantu dunia industri manufaktur dan bidang lainnya yang menghasilkan produk andalan. Salah satunya ventilator ini.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

LEN Mulai Produksi Ventilator Berbahan Baku Lokal

Anton Agusta melakukan uji coba ventilator buatannya di Bengkel Industri UMKM Agusta, Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2020). Agusta membuat ventilator sederhana hasil belajar secara online dari Forum O2 yang berpusat di Kota Barcelona, Spanyol. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

PT Len Industri (Persero) mulai memproduksi emergency ventilator untuk penanganan pasien COVID-19. Alat ini memakai komponen lokal dan desain dari BPPT dan ITB.

Selain memenuhi kebutuhan, pembuatan ventilator juga menjadi salah satu upaya menjaga bisnis tetap berjalan di masa pandemi COVID-19.

Direktur Utama Len Industri, Zakky Gamal Yasin, Selasa, mengatakan Len juga melakukan pengembangan Controlled Ventury Base CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) yang membantu percepatan penyembuhan pasien COVID-19 stage 2 melalui proses menjaga konsistensi level oksigenasi dalam hemoglobin pasien.

Ia mengatakan merebaknya wabah virus corona, menyebabkan banyak efek negatif, baik kesehatan, pendidikan, kehidupan sosial, hingga ekonomi dan di Indonesia, mau pun di dunia, tak terkecuali

"Ini adalah kondisi sekarang yang penuh tantangan. Selain harus mencegah dan memutus penyebaran virus corona, namun juga harus tetap menjaga roda bisnis perusahaan tetap berjalan," kata dia, seperti melansir Antara, Selasa (12/5/2020).

Zakky menjelaskan kondisi pekerjaan di lapangan sekarang dibatasi dan mengikuti Protokol Pencegahan COVID-19 sedangkan di kantor sudah menerapkan WFH (Work From Home) sejak 18 Maret 2020 hingga 20 Mei masih WFH.

Proyek-proyek strategis pertahanan hampir semuanya masih terus dijalankan, meski ada kemungkinan beberapa akan di-reschedule dan yng masih berjalan di antaranya seperti Rudal Pertahanan Udara Statstreak, Pamtas (Pengamanan Perbatasan) Indonesia-Malaysia, dan pengadaan sistem datalink.

Di bidang ICT dan energi contohnya pemeliharaan stasiun seismic gempa bumi, pemeliharaan InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), serta pembangunan jaringan gas (jargas).

“Di bidang migas ini baru, kini Len berperan sebagai kontraktor penunjang migas dan mendukung target lifting minyak dan gas bumi,” ujarnya.

Sedangkan di bidang perkeretaapian, proyek seperti pembangunan sistem persinyalan dan telekomunikasi jalur kereta api lintas Makassar-Parepare, jalur ganda kereta api lintas Bogor-Cicurug, fasilitas operasi LRT Palembang, serta pemeliharaan Skytrain/APMS Basoetta, juga masih tetap berjalan.

"Mari lah kita menjaga sikap, ucapan, tingkah laku kita yang dapat melemahkan imunitas fisik dan mental di tengah pandemi COVID-19 ini. Tumbuhkanlah nuansa positif agar kekompakan dan solidaritas dapat terus kita jaga. Semoga wabah pandemi ini segera berlalu, dan kita semua bisa beraktifitas seperti biasanya," kata Zakky.