Akibat COVID-19, Serapan Biodiesel Anjlok 12 Persen pada 2020

Dusep Malik, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – Dalam laporan capaian kerja tahun 2020 dan rencana kerja 2021, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa pandemi COVID-19 telah memengaruhi sejumlah aspek kinerja yang dilakukan di sepanjang tahun lalu.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, mengakui bahwa dampak dari pandemi COVID-19 di sektor EBTKE salah satunya adalah turunnya serapan biodiesel tahun 2020, yang mencapai sebesar 12 persen dari alokasi yang dicanangkan sebelumnya.

"Realisasi penyerapan biodiesel tahun 2020 US$8,4 juta KL (kiloliter), dari alokasi yang ditetapkan yakni sebesar US$9,55 juta KL," kata Dadan dalam telekonferensi, Kamis 14 Januari 2021.

Dadan mengakui bahwa penurunan serapan biodiesel pada 2020 itu disebabkan oleh adanya pandemi COVID-19. Hal itu masih ditambah lagi dengan kondisi di lapangan, di mana konsumsi solar juga tercatat ikut menurun.

Kemudian, Dadan menjelaskan bahwa apabila dibandingkan dengan target purchase order (PO), realisasi penyerapan biodiesel pada 2020 tercatat hanya mencapai 90,08 persen dari target PO yang mencapai sebesar 9,33 juta KL.

Dia menambahkan, pemanfaatan biodiesel ini diketahui telah ikut berkontribusi dalam hal penghematan devisa, yang mencapai sebesar Rp38,31 triliun atau sekitar US$2,66 miliar dengan asumsi kurs nilai tukar Rp14.000 per dolar AS.

Dengan demikian, Dadan memastikan bahwa dalam hal pemanfaatan biodiesel, selain untuk mencapai tujuan pengurangan impor dan melakukan penghematan devisa, terdapat pula tujuan lainnya yakni soal perbaikan kualitas bahan bakar.

"Khususnya dari aspek (tingkat) emisi, karena hal tersebut (biodiesel) juga dapat memperbaiki gas buang serta meningkatkan nilai sawit dari yang sebelumnya hanya sekadar komoditas ekspor hingga menjadi CPO (Crude Palm Oil)," ujar Dadan.

Karenanya, lanjut Dadan, pada 2021, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM juga telah menargetkan bahwa penyerapan biodiesel diharapkan mampu mencapai angka 9,2 juta KL.

"Suplai dari 10 perusahaan BBN (bahan bakar nabati) dan disalurkan ke 20 perusahaan BBN," ujarnya.