Akibat COVID-19, Wapres Akui Program Satu Juta Rumah 2020 Tak Tercapai

Dusep Malik, Syaefullah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah telah mencanangkan Program Satu Juta Rumah sebagai salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap perumahan sejak 2015. Program ini terus dilakukan setiap tahunnya di Indonesia hingga saat ini.

"Capaian program satu juta rumah pada tahun 2018 dan 2019 telah berhasil mencapai angka di atas satu juta unit, dengan rata-rata penyaluran kurang lebih 70 persen untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)," kata Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Jakarta, Selasa, 9 Februari 2021.

Tetapi, kata dia, akibat pandemi COVID-19 pada tahun lalu capaian Program Satu Juta Rumah tidak mencapai target satu juta unit, yaitu hanya sebesar 965.217 unit, di mana kurang lebih 80 persennya disalurkan untuk MBR.

"Meskipun demikian, capaian tersebut cukup bagus karena di tengah kondisi perekonomian yang sulit ini, terealisasi sekitar 96,5 persen dari target yang ditetapkan," ujarnya.

Bahkan jika dilihat dari target penyalurannya bagi MBR, kata Wapres, capaian Program Satu Juta Rumah untuk MBR pada 2020 melampaui target, yaitu 80 persen dari target 70 persen yang ditetapkan.

Pada kesempatan ini, Wapres juga mengingatkan bahwa angka backlog atau kebutuhan perumahan dibandingkan dengan ketersediaan di Indonesia masih cukup tinggi.

"Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, kebutuhan terhadap rumah juga terus bertambah. Saat ini diperkirakan kebutuhan rumah berdasarkan kepemilikan sebesar 11,4 juta unit," ujarnya.

Perbandingan antara kebutuhan perumahan dengan ketersediaannya atau backlog, menurut Wapres, angkanya terus bertambah setiap tahunnya.

"Ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk segera mengatasinya. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya di antaranya dengan memberikan bantuan pembiayaan kepemilikan rumah, reformasi perizinan, dan insentif fiskal," jelasnya.

Namun demikian, lanjut Wapres, pemerintah menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi di sektor perumahan, utamanya dalam menghadapi tekanan ekonomi karena pandemi COVID-19.

Oleh sebab itu, pemerintah terbuka menerima masukan dari berbagai pihak dalam upaya menyediakan perumahan yang layak dan nyaman bagi masyarakat, terutama masyarakat berpenghasilan rendah, baik untuk sektor formal maupun informal.

"Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok, di luar pangan dan sandang, sehingga ketersediaan, harga dan akses terhadap kepemilikan rumah mesti bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat," katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, bahwa keluarga merupakan tempat pendidikan atau “madrasah” pertama bagi anak-anak. Dukungan lingkungan yang nyaman dan sehat berpengaruh positif bagi orang tua dalam membesarkan dan mendidik buah hatinya.

Untuk itu, memiliki rumah yang sehat dan berkualitas merupakan dambaan setiap keluarga karena merupakan prasarana penting untuk membentuk karakter anak.

"Pembangunan rumah yang baik tidak hanya berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga penting sebagai prasarana dalam membantu membentuk karakter generasi masa depan bangsa," ungkapnya.