Akibat sanksi Barat, mata uang Rusia justru makin kuat dibandingkan sebelum perang

<span class="caption">Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan dekrit istimewa demi menjaga rubel tidak ambruk.</span> <span class="attribution"><a class="link " href="https://pixabay.com/illustrations/putin-the-president-of-russia-2972184/" rel="nofollow noopener" target="_blank" data-ylk="slk:Victoria_Art/Pixabay">Victoria_Art/Pixabay</a>, <a class="link " href="http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/" rel="nofollow noopener" target="_blank" data-ylk="slk:CC BY">CC BY</a></span>
Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan dekrit istimewa demi menjaga rubel tidak ambruk. Victoria_Art/Pixabay, CC BY

Pada hari-hari awal ketika Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022 dan dikenai sanksi oleh Barat, nilai mata uang Rusia, rubel, ambruk. Nilai rubel ringsek dari 78 menjadi 138 rubel per dolar Amerika Serikat (AS). Perubahan ini sangat signifikan dalam dunia pertukaran valuta asing (foreign exchange/forex) dan menimbulkan horor bagi mereka yang memiliki kekayaan dalam bentuk rubel.

Semenjak itu, pemberian sanksi terus bergulir dan perang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda usai.

Banyak komentator mengira bahwa rubel akan terus melemah. Namun ternyata, mata uang tersebut justru menguat dibandingkan dengan saat perang dimulai. Satu dolar AS (Rp 14.860) kini dihargai 57 rubel, nilai tukar terbaik selama empat tahun.

Rubel vs. AS dolar

Mengapa ini terjadi, dan apa artinya bagi masa depan?

Rubel pra-perang

Pertama, latar belakang. Faktor-faktor seperti jenis mata uang apa saja yang bergerak keluar-masuk suatu negara, serta nilai ekspor terhadap impor (perdagangan internasional), menentukan nilai tukar suatu mata uang.

Bagi rubel, aliran perdagangan jauh lebih penting karena Rusia merupakan eksportir minyak besar.

Harga minyak, seperti yang dapat Anda lihat dari grafik di bawah, terhubung dengan rubel. Ketika harga minyak naik, rubel pun turut menguat. Harga minyak meroket semenjak pertengahan 2020, yang menguntungkan rubel sebelum pecahnya perang.

Rubel vs. minyak

Namun, selama periode tersebut, rubel belum banyak menguat meski harga minyak meroket. Inilah mengapa kedua garis pada grafik tersebut tidak terlihat sejalan. Hal ini bisa jadi dipengaruhi oleh aliran modal masuk, utamanya terkait utang pemerintah Rusia. Saham pemodal asing dalam obligasi federal mencapai nilai historis maksimum sekitar 35% pada Maret 2020, tapi anjlok menjadi 18% sebelum perang.

Perubahan dalam aturan perpajakan menjadi alasan di balik penurunan ini. Pada 31 Maret 2020 pemerintah Rusia mengenakan pajak 30% atas pembayaran bunga obligasi pemerintah ke investor asing. Sebelumnya, pembayaran ini bebas pajak. Akibatnya, rubel mulai rontok karena pemodal asing mulai menjual obligasi mereka setelah Maret 2020.

Hal ini menjelaskan mengapa rubel cenderung stagnan sejak periode tersebut hingga mulainya invasi. Ini menandakan bahwa penjualan obligasi pemerintah menganulir efek dari harga minyak yang kuat (Anda akan lebih dapat memahami ini dengan melihat grafik di bawah, dengan obligasi ditandai warna biru).

Singkatnya, penjualan obligasi pemodal asing menjadi batu ganjalan bagi rubel yang membuat nilainya berada di bawah standar nilai yang seharusnya. Seiring waktu, efek ini memudar dan memberikan rubel momentum penguatan dengan harga minyak yang masih tinggi.

Rubel vs. minyak dan obligasi pemerintah

Setelah invasi

Rubel mencatatkan nilai terendahnya terhadap dolar AS ketika pada hari-hari awal invasi yang dimulai pada 21 Februari 2022. Valuasinya tenggelam ke kisaran 138 per dolar AS. Pada 24 Februari, Bank Sentral Rusia mengumumkan beberapa langkah untuk menopang nilai mata uangnya.

Bank Sentral Rusia melarang perdagangan margin, yaitu transaksi ketika investor meminjam uang dan mempertaruhkannya di pasar untuk membeli produk investasi yang sebetulnya tak mampu mereka beli. Hal ini berarti para pemodal dapat memperburuk nilai rubel dengan mempertaruhkannya besar-besaran, yang dapat membuat nilai mata uang tersebut semakin anjlok. Bank sentral juga menggunakan cadangan devisanya untuk membeli rubel di pasar mata uang demi menopang harga.

Namun, langkah-langkah tersebut ternyata tidak ampuh meredam jatuhnya nilai rubel.

Alasan di balik ini adalah paket sanksi Barat yang tak terduga dan menjadi hukuman terberat yang pernah diterapkan. Contohnya adalah, sanksi pembekuan 60% dana cadangan internasional Rusia sebesar US$643 miliar pada 27 Februari. Paket sanksi ini membatasi akses bank sentral terhadap aset Rusia di luar negeri dan kemampuannya untuk memperkuat rubel.

Bank Sentral merespon permasalahan ini pada 28 Februari dengan mengenalkan langkah-langkah baru:

  • memberlakukan kontrol modal melalui larangan transaksi dengan pemodal non-residen (pemodal asing) dan segala bentuk perdagangan saham

  • menaikkan tajam suku bunga utama Rusia dari 9,5% menjadi 20%

  • membatasi transfer warga lokal ke akun bank di luar negeri menjadi US$10,000 per hari

  • Membatasi penarikan mata uang asing menjadi US$10,000

  • Mengharuskan pengekspor untuk untuk menukar 80% dari penghasilan yang berbentuk mata uang asing dalam waktu tiga hari.

Sebulan kemudian, President Rusia Vladimir Putin juga menandatangani dekrit istimewa yang mengharuskan “negara-negara tak bersahabat” untuk membayar gas dari Rusia dalam bentuk rubel.

Di balik penguatan rubel

Salah satu alasan penguatan rubel adalah pembatasan perdagangan margin bagi pemodal asing yang membuat volume perdagangan menjadi jauh lebih rendah dari biasanya. Aturan yang memaksa eksportir menukar pemasukan mata uang asingnya dan pembayaran gas dalam bentuk rubel juga turut berkontribusi pada penguatan ini.

Kendati begitu, ada juga faktor lain di luar kebijakan Bank Sentral Rusia yang turut memperkuat nilai tukar rubel: harga minyak yang perkasa. Meski sempat meredup dari angka US$130 per barel ke US$100 hanya dalam waktu sepekan, harga minyak di pasar Brent kini berada di kisaran US$120.

Impor Rusia juga terpukul oleh eksodus perusahaan-perusahaan asing dan sanksi dari Barat. Hal ini mendorong surplus neraca berjalan (nilai ekspor dikurangi nilai impor) ke titik maksimum historisnya, yang membikin rubel lebih perkasa.

Ketidakseimbangan neraca perdagangan akan berlanjut beberapa waktu ke depan. Hal ini bisajadi salah satu alasan Rusia melonggarkan pembatasan yang diberlakukan sepanjang Februari-Maret. Kini, tingkat suku bunga utama kini kembali ke 9.5%, atau sama dengan ketika invasi dimulai. Perdagangan margin diperbolehkan kembali, dan aturan 80% pertukaran mata uang dicabut.

Selain itu, warga pun dapat melakukan transfer ke akun bank luar hingga US$50,000 per bulan. Warga asing dari negara “bersahabat” seperti China atau India kini hanya menghadapi pembatasan yang sama dengan yang dihadapi oleh warga Rusia.

Dengan kata lain, Rusia memiliki alasan untuk berpindah ke pijakan keuangan yang lebih normal akibat sanksi Barat. Meski sekilas terdengar ironis, perlu diingat bahwa sanksi-sanksi Barat membuat warga Rusia kesulitan untuk menghabiskan rubelnya baik untuk pembelian barang impor maupun bepergian di luar negeri akibat adanya larangan penerbangan.

Walaupun rubel berhasil mempertahankan nilainya, kegunaannya telah jauh melemah. Sehingga, kita dapat berargumen bahwa sanksi untuk menghukum Rusia ini betul-betul bekerja.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel