AKP Hasoloan, Si Pengendus Ladang Ganja 12 Hektar

Siti Ruqoyah
·Bacaan 5 menit

VIVA – Ada sosok yang paling berjasa dalam pengungkapan 12 hektar ladang ganja. Meski harus mendaki gunung lebih dari 6 jam, namun membuahkan hasil. Kinerjanya diagung-agungkan Irjen Fadil Imran, Kapolda Metro Jaya. Sosok polisi tersebut adalah AKP Hasoloan Situmorang.

Hasoloan yang kini menjabat sebagai Kanit II Narkoba Polres Metro Jakarta Barat jadi sorotan. Dia membuat geger lantaran mengungkap ladang ganja seluas 12 hektar dengan berat total barang bukti ganja 144,5 ton yang berada di Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Hasoloan yang diketahui baru menjabat selama 4 bulan membuktikan kinerjanya. Dia langsung cetak prestasi gemilang. Hasoloan punya basic reserse yang kuat, sebelum jabat Kanit II Narkoba, ternyata di pernah menduduki jabatan Kanit Resmob Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat.

Berbagai pelaku kejahatan pernah dilumpuhkan dengan timah panas karena melawan. Hasoloan mengaku, ketika baru pindah sebagai Kanit 2 Narkoba, tentunya ia perlu penyesuaian, baik itu kepada anggotanya maupun kepada cara mengungkap kasus narkoba.

"Menurut saya semua bidang tugas itu menarik, tetapi kalau di penugasan satuan narkoba memiliki karakteristik tersendiri," kata Hasoloan.

Pengungkapan kasus narkoba bukan karena dirinya yang hebat, tapi kerja sama tim Unit 2 yang dipimpinnya sangat kuat. Dia mengungkapkan, penemuan ladang ganja bisa berhasil berkat arahan bimbingan dari pimpinan kami bapak Kapolres Kombes Pol Ady Wibowo, Wakapolres AKBP Bismo Teguh Prakoso dan dalam lingkup Satres Narkoba itu dari Kasat Narkoba AKBP Ronaldo Maradona kemudian kerjasama yang baik di Unit 2.

"Jadi saya pribadi tidak merasa spesial dan istimewa, yang spesial dan istimewa itu adalah komandan-komandan saya serta anggota Unit 2 Satres Narkoba," terang dia.

Dia menceritakan, pengungkapan ladang ganja merupakan hasil pengembangan kasus ganja yang sebelumnya telah diungkap. Dari semua pelaku yang diamankan mengaku, kalau barang bukti itu sumbernya dari ladang ganja di Desa Banjar Lancat, Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Tim Satres Narkoba Polres Metro Jakarta Barat tiba di Polres Mandailing Natal sekitar pukul 04.00 Wib. Di sana anggota Polres Metro Jakarta Barat dibantu anggota Polres Mandailing Natal mengambil apel pagi guna mendengarkan arahan dari Kasat Narkoba AKBP Ronaldo Maradona.

Setelah apel personel selesai, para anggota menaiki mobil untuk berangkat ke Desa Banjar Lancat, Panyabungan Timur.

Perjalanan ke sana butuh waktu kurang lebih 3 jam dan sebelum sampai ke desa tersebut, anggota harus berpindah mobil. Seluruh anggota turun dari mobil yang disewanya untuk pindah ke mobil offroad.

Sebab, jalur yang dilalui tidak bisa dilintasi oleh mobil biasa karena medannya sangat terjal, licin dan berlubang.

"Di Desa Huta Tinggi itu kita pindah mobil ke offroad. Dari situ kurang lebih masih sekitar 30 menit sampai di desa terakhir yaitu Desa Banjar Lancat," terangnya.

Sesampai di sana, tim langsung melakukan perjalanan mencari ladang ganja milik tersangka ZF alias F. Sesuai dengan peta yang diberikan oleh F, anggota berjalan menelusuri sungai, kemudian masuk ke dalam hutan dengan jalan terus menanjak.

"Jadi kalau ditanya proses ke ladang ganja, yang pasti medannya cukup sulit karena ada melewati sungai kemudian ada jalan menanjak yang tingkat derajatnya itu cukup besar dan curam, kemudian kita melewati hutan. Jalur jalannya juga tidak kelihatan, memang kalau dilihat dari karakter jalannya memang sengaja dibuat para pelaku untuk mengaburkan supaya tidak dapat diketahui orang lain jalan menuju ladang ganja tersebut," jelas Hasoloan.

Selama berjam-jam di hutan yang sunyi dan diduga masih terdapat hewan buas, tim terus berjalan. Udara semakin tipis setelah berjam-jam perjalanan dengan menuruni lembah dan menaiki perbukitan tapi tidak kunjung juga sampai ke ladang ganja.

Ternyata setelah ditelisik, tim salah jalan dan harus kembali lagi di titik awal perjalanan. Dari titik tersasar sampai ke titik awal lagi memakan waktu lebih dari dua jam, waktu terbuang-buang karena tersasar.

"Jadi kami kembali menuruni lembah dan menaiki perbukitan karena nyasar, terus kami naik lagi terus naik tidak ada jalur landai. Anggota berteriak saja suaranya tidak terdengar karena kita sempat membagi kelompok untuk menemukan jalur ke ladang ganja tersebut. Akhirnya kita bisa bertemu dengan anggota yang sempat terpisah jalur dan kami melanjutkan pencarian," ucapnya.

"Jadi ke ladang ganja tersebut medannya cukup sulit ya, perjalanan untuk menemukannya lebih dari 10 jam dari berangkat sampai kembali. Kami sampai temukan ladang ganja itu sudah menjelang gelap dan kami kembali dari sana itu sudah hampir tengah malam," sambung dia.

Sekitar pukul 17.00 Wib, anggota yang sejak pagi berjalan di mencari ladang baru berhasil sampai di balik bukit Desa Banjar Lancat. Tanaman ganja di sana cukup tinggi-tinggi karena diduga sudah siap panen dan ada juga di lahan yang lain yang mau dibibitkan.

"Kami temukan ada yang usianya berbeda, dari usia siap panen sekitar 7 bulanan, usia 6 bulan, usia 4 bulan, sampai usia 2 bulan. Kita bawa sebagai sampel barang bukti," katanya.

Setelah tanaman ganja tersebut dicabuti, dibabat dan dimusnahkan dengan cara dibakar, Satres Narkoba Polres Metro Jakbar kemudian turun dari ladang ganja.

Jalur yang dilalui juga melewati jalur terjal menanjak, turunan lembah yang tajam serta kondisi tanah licin.

"Ketika prosesnya kami sempat mengalami masalah karena sempat tersesat beberapa jam, itu sama juga prosesnya menapaki jalan turun ke lembah, menapaki jalan menaiki bukit lagi sampai kami kembali lagi ke titik awal untuk memastikan dan menganalisa jalur yang benar menuju ladang ganja. Memang sangat dibutuhkan ketenangan, kesabaran, keikhlasan dan pastinya kerja sama makanya saya bilang motto saya itu 'Bersama Maka Bisa',"

Sebagai anggota polisi di bidang tugas reserse yang lebih banyak waktu di lapangan, Hasoloan tentunya sudah memberitahu keluarga bahwa dalam tugasnya membuat ia banyak waktu di luar rumah.

Meski sibuk dengan tugasnya, dia sebisa mungkin ia membagi waktu untuk istri dan anaknya seperti makan malam bersama atau meluangkan untuk sekedar makan bersama di luar.

"Sampai saya bisa di titik ini karena doa dan dukungan dari keluarga. Mengenai resiko profesi sebagai polisi, sejak awal saya sudah memberi penjelasan kepada istri dan anak-anak saya, menjadi seorang polisi waktunya banyak di luar dalam rangka pelaksanaan tugas," tegas dia.

Oleh karenanya, keluarga sangat mendukung semua pelaksanaan tugas yang dilakukan Hasoloan dalam rangka mengayomi dan melindungi masyarakat dari tindak kejahatan seperti pelaku narkoba.

"Jadi dukungan dari keluarga itu sangat penting untuk saya. Karena pasti ada doa-doa yang senantiasa dipanjatkan untuk saya," kata dia.