Akses finansial dan teknologi dibutuhkan untuk dukung ekonomi sirkular

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Koordinator Bidang Maritim, Investasi dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani menilai akses finansial dan teknologi masih sangat dibutuhkan agar mampu mendukung akselerasi penerapan ekonomi sirkular.

"Sejumlah tantangan masih mengemuka bagi sektor bisnis untuk melakukan transisi seperti akses finansial dan teknologi yang dibutuhkan bagi pengembangan teknologi hijau yang mampu mendukung akselerasi percepatan ekonomi sirkular," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Padahal, transformasi menuju ekonomi sirkular akan membawa banyak dampak positif, baik bagi lingkungan serta pertumbuhan berbagai sektor pembangunan di masa depan Indonesia.

Shinta pun mengusulkan beberapa insentif yang bisa diberikan pemerintah untuk bisa mempercepat penerapan ekonomi sirkular.

Di sektor infrastruktur bangunan, misalnya, perlu ada insentif untuk mempromosikan efisiensi energi untuk program yang mendukung energi terbarukan, efisiensi energi, bangunan hijau, dan pariwisata hijau.

"Pemerintah juga dapat mempertimbangkan izin jalur cepat untuk bangunan hijau," imbuhnya.

Selanjutnya, untuk mendukung pengelolaan limbah dan sampah plastik, diperlukan insentif untuk meningkatkan pengelolaan sampah, misal untuk pengumpulan (collection), teknologi atau proses pemilahan sampah dari sumbernya.

Ketua B20 itu juga mengusulkan adanya insentif bagi pelaku usaha yang mau beralih ke kemasan layak daur ulang untuk mendorong recycling rate (tingkat daur ulang) dan reuse (penggunaan ulang) pada kerangka tanggung jawab produsen yang diperluas (EPR), contohnya dalam pemanfaatan atau pengembangan teknologi pengolahan daur ulang plastik PET.

"Juga insentif untuk bisnis yang mengurangi sampah plastik yang tidak bernilai ekonomis seperti plastik kemasan multilayer (berlapis)," kata Shinta.

Sementara itu, di sektor elektronik, pemerintah perlu memberikan insentif bagi konsumen atau produsen yang menggunakan kembali atau memperbaiki produk.

Hal itu bisa dilakukan untuk mendorong atau mengurangi penimbunan produk usang atau rusak di rumah, yaitu dengan memberikan insentif untuk program penarikan kembali (take back program).

"Cirkularity untuk sektor pangan yaitu adanya insentif untuk penanganan sampah makanan, misal dalam pemanfaatan teknologi dan mendorong program foodbank," kata Shinta.

Baca juga: Kadin nilai ekonomi sirkular ciptakan manfaat bagi sektor bisnis

Baca juga: Kadin dorong kesiapan Indonesia masuki era digitalisasi ekonomi

Baca juga: Kadin yakin transisi ke endemi akan akselerasi pemulihan ekonomi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel