Akses Informasi Covid-19 untuk Difabel di Pedesaan Masih Minim

Liputan6.com, Jakarta Executive Director Yayasan Plan Internasional Indonesia Dini Widiastuti menyebut akses informasi terkait virus corona (Covid-19) untuk para penyandang disabilitas atau difabel masih minim. Khususnya, bagi mereka yang tinggal di pedesaan.

Menurut dia, minimnya informasi ini membuat banyaknya pemahaman yang salah terkait pencegahan virus corona. Sehingga, Dini dan tim Yayasan Plan Internasional Indonesia harus memberikan edukasi terkait pencegahan virus corona.

"Mereka itu bahkan salah informasi. Jadi ada yang bilang cuci tangan itu harus (pakai) hand sanitizer, kalau pakai sabun tidak bisa, Covid-19 enggak bisa hilang," jelas Dini dalam video conference di Youtube BNPB, Minggu (17/5/2020).

Dini dan timnya yang kini sudah turun ke 200 desa dan dusun pun meluruskan informasi terkait virus corona kepada para difabel. Penyampaian informasi itu disampaikannya melalui sticker maupun poster.

"Pertama-tama kami luruskan informasi lewat sticker, poster dan juga animasi di dalam bahasa daerah," jelasnya.

Menurut dia, minimnya akses informasi di desa-desa juga dikarenakan sulitnya jaringan listrik dan internet. Selain itu, ada sejumlah masyarakat yang belum memiliki televisi.

"TV itu kalau di Dusun dan desa tidak kena sinyalnya. Belum tentu juga punya TV. Radio sudah syukur. Membaca kami juga pakai piktorial atau gambar, itu lebih kena untuk masyarakat yang di desa, di dusun," tutur Dini.

Masyarakat Takut

Dia mengakui bahwa sejumlah desa terpencil tersebut memang belum terpapar corona. Namun, kata Dini, masyarakat sudah ketakutan dengan penyebaran virus corona yang semakin meluas.

"Mungkin virusnya sendiri belum sampai. Tapi masyarakat parno. Jadi harus diluruskan juga yang seperti apa," ucap Dini.

Saksikan video pilihan di bawah ini: