Akses Jembatan Cibubur mulai dibuka bagi pengendara

Akses Jembatan Cibubur di Jalan Lapangan Tembak perbatasan Kecamatan Ciracas dan Pasar Rebo, Jakarta Timur, mulai dibuka bagi pengendara.

Camat Pasar Rebo, Mujiono mengatakan, akses Jembatan Cibubur itu telah dibuka bagi pengendara roda dua dan empat meskipun saat ini proses pekerjaan belum rampung 100 persen.
​​​​​​
"Masih dalam proses 'finishing', namun sudah dilalui kendaraan roda dua dan empat secara terbatas," kata Mujiono di Jakarta, Jumat.

Mujiono menambahkan, Jembatan Cibubur merupakan akses jalan yang menjadi pilihan utama bagi warga dalam aktivitas sehari-hari karena lokasinya strategis.

"Memang secara resmi belum dibuka. Namun kemungkinan warga yang terbiasa lewat jembatan tersebut sudah tidak sabar, karena tentu lebih pendek jarak tempuhnya," ujar Mujiono.

Baca juga: Jembatan Cibubur direvitalisasi agar miliki akses bagi pejalan kaki

Mujiono menjelaskan, hingga saat ini pihaknya belum menerima informasi pasti dari pihak pelaksana proyek yang ditunjuk Suku Dinas (Sudin) Bina Marga Jakarta Timur terkait dibukanya akses bagi pengendara.

Mujiono mengatakan, pihaknya juga belum dapat memastikan apakah Jembatan Cibubur sudah bisa dilintasi kendaraan berat seperti truk.

"Tidak ada pemberitahuan ke kami dan sosialisasi kepada masyarakat kapan kendaraan bisa melalui jembatan tersebut. Sepertinya (akses truk) kebijaksanaan pemborong di lapangan," tutur Mujiono.

Sudin Bina Marga Jakarta Timur mengakui pengerjaan Jembatan Cibubur yang seharusnya sudah rampung pada 6 November 2022 mengalami keterlambatan.

Baca juga: Jalan Lapangan Tembak Cibubur ditutup hingga September 2022

Alasan keterlambatan proyek karena ada masalah kontur tanah sewaktu tahap awal pemasangan tiang pancang yang butuh diuji laboratorium.

"Ada kondisi tanah yang bermasalah di awal. Kita kan harus kaji lagi kondisi, jadi di luar prediksi ada lensa (kontur tanah)," kata Kepala Suku Dinas (Sudin) Bina Marga Jakarta Timur, Benhard Hutajulu di Pasar Rebo, Jakarta, Selasa (8/11).

Akibat masalah kontur tanah di lokasi pengerjaan itu membuat tiang pancang yang dipasang patah, sehingga butuh waktu bagi Sudin Bina Marga Jakarta Timur untuk mempelajarinya.

"Jadi enggak bisa kita salahkan kontraktornya juga, karena itu ada kondisi tanah. Jadi masyarakat melihat itu kok enggak dikerjain. Bukan enggak dikerjain, tapi laboratorium yang kerja," ujar Benhard.