Aksi 1.000 Lilin di Padang, Kritik 7 Tahun Kepemimpinan Jokowi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Padang - Tujuh tahun sudah Presiden Joko Widodo memimpin negeri ini, beragam kebijakan dan aturan-aturan telah dibuatnya selama menjadi orang nomor satu.

Tepat di Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021 malam ratusan anak muda Kota Padang, Sumatera Barat menyalakan 1.000 lilin di Monumen Tugu Gempa. Aksi itu dalam rangka menyuarakan asiprasinya untuk tujuh tahun kepemimpinan Joko Widodo.

Aksi yang bertajuk itu bertajuk Panggung Perlawanan tersebut memanfaatkan karya seni dalam menyuarakan keluh kesahnya.

Sejumlah kegiatan dalam aksi itu yakni, serangkaian musikalisasi puisi, mimbar bebas, live mural, hingga menyalakan lilin secara bersama-sama.

Tak hanya itu, juga terdapat lapak baca gratis dan donasi baju dalam bentuk ruang bebas uang yang ikut memberi kesan aksi. Rangkaian kegiatan itu, bermuara pada catatan merah untuk tujuh tahun pemerintahan Joko Widodo.

Narahubung panggung perlawanan, Doko (21) mengatakan aksi tersebut merupakan panggung perlawanan yang yang digelar merefleksi tujuh tahun kepemimpinan Jokowi.

"Melalui aksi ini, kami sampaikan aspirasi masyarakat Sumbar, keluh kesah, catatan-catatan merah yang ditorehkan Presiden Jokowi," katanya, Kamis (28/10/2021) malam.

Kegiatan ini, katanya diikuti oleh lintas komunitas yang ada di Kota Padang. Seperti komunitas pegiat seni, pegiata literasi, hingga organisasi mahasiswa.

Acara tersebut, dilakukan bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Selain nuansa yang tepat, hal itu juga dapat mengaspirasi siapapun untuk menyuarakan kritikan terhadap pemerintahan.

Selain itu, Tanggal 28 Oktober juga dinilai Doko bertepatan dengan penetapan Undang-undang Cipta Kerja dan hari jadi tujuh tahunnya Pemerintahan Joko Widodo.

Kritikan yang Disuarakan

Sejumlah kritikan disampaikan dalam aksi tersebut, yakni suburnya korupsi di seluruh Indonesia, dan Indeks Demokrasi Indonesia yang merosot tajam.

"Selain itu, juga ada tingginya kasus pelecehan seksual di Indonesia, tindakan aparat yang represif kepada masyarakat, komersialisasi pendidikan, dan penuntasan pelanggaran HAM yang belum selesai juga," jelas Doko.

Dengan adanya panggung perlawanan hari ini, ia berharap pemerintah sadar dengan kejadian yang ada, dan ke depam apa pun produk hukum yang dikeluarkan pro rakyat.Jadi memang pemerintah lebih condong pada rakyat.

Salah satu peserta aksi, Ketua Pemuda Lintas Agama (Pelita) Padang, Angelique Maria Cuaca mengatakan gerakan itu merupakan bentuk gerakan simpatik anak muda, bahwa aksi itu bisa dilakukan oleh banyak cara, salah satunya melalui kegiatan seperti ini.

"Suara yang mereka sampaikan adalah suara rakyat, menyuarakan apa yang selama ini tidak didengar," ujarnya.

Like menambahkan kegiatan itu untuk menyampaikan bahwa sejatinya panggung seni itu memang didedikasikan untuk rakyat, untuk menyuarakan yang menjadi kegelisahan rakyat, terkait tujuh tahun pemerintahan Jokowi, salah satunya bicara toleransi.

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel