Aksi Beli Saham oleh Investor Asing Sentuh Rp 40,08 Triliun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sepanjang 2021, investor asing cenderung melakukan aksi beli saham. Harapan pemulihan ekonomi dan kasus COVID-19 yang terkendali di Indonesia dinilai menjadi sentimen mendorong aksi beli saham oleh investor asing.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing jual saham senilai Rp 678,6 miliar pada Senin, 15 November 2021. Akan tetapi, sepanjang 2021, investor asing cenderung melakukan aksi beli. Tercatat aksi beli saham oleh investor asing mencapai Rp 40,08 triliun sepanjang tahun berjalan 2021.

Berdasarkan data RTI, secara ytd, saham-saham yang dibeli investor asing antara lain saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 14,7 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 9,4 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 9,1 triliun.

Selain itu, investor asing beli saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) senilai Rp 5,7 triliun, dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) senilai Rp 2,6 triliun.

Head of Research PT Infovesta Wawan Hendraya menuturkan, ada dua faktor utama yang mendorong aksi beli investor asing pada 2021. Pertama, kondisi sektor kesehatan masyarakat Indonesia yang membaik di tengah pandemi COVID-19 sehingga dorong pemulihan ekonomi.

"Kondisi kesehatan semakin baik PPKM diperlonggar. Ekonomi diharapkan lebih baik pada 2022. Investor asing masuk sekarang,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Selasa (16/11/2021).

Wawan perkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5-7 persen pada 2022 dengan catatan tidak ada lagi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Faktor kedua, harapan pemulihan ekonomi besar di Indonesia juga mendorong aksi beli saham oleh investor asing pada 2021. Dengan harapan pemulihan ekonomi tersebut, Wawan menuturkan, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berada di posisi 6.700-6.800 pada akhir 2022.

“Pertumbuhan ekonomi akan meleset dari 5 persen (pada 2021-red), proyeksinya jadi 3-5 persen.,” kata Wawan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Harga Komoditas

Suasana pergerakan perdagangan saham perdana tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Suasana pergerakan perdagangan saham perdana tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Selain itu, rilis laporan keuangan emiten hingga kuartal III 2021 juga menunjukkan hasil lebih baik menjadi katalis positif. Hal ini ditunjukkan dari laporan keuangan emiten perbankan.

“Sejumlah sektor saham akan diuntungkan dengan pemulihan ekonomi seperti sektor perbankan. Investor asing biasanya masuk di sektor keuangan, berkapitalisasi besar dan likuid,” kata dia.

Adapun sentimen pengurangan stimulus atau tapering yang dilakukan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), menurut Wawan tidak akan terlalu pengaruhi bursa saham. “Tapering lebih ke obligasi. Tapi di Indonesia agak unik karena yield obligasi Indonesia cukup tinggi dan ada burden sharing. Jadi ada lelang SUN, Bank Indonesia akan serap, sehingga kalau investor asing lepas tidak terlalu berpengaruh,” tutur dia.

Wawan menambahkan, kenaikan harga komoditas juga menjadi sentimen positif lainnya yang mendorong aksi beli investor asing.

Adapun hal yang perlu diwaspadai sehingga dapat pengaruhi transaksi investor asing, menurut Wawan yaitu potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS. Diperkirakan kenaikan suku bunga bank sentral AS dapat memicu investor asing keluar dari pasar saham dan kembali ke AS.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel